Jokowi Naikkan BBM, Inflasi Melambung

JAKARTA - Salah satu pekerjaan utama Presiden Joko Widodo (Jokowi) adalah mengatasi masalah subsidi bahan bakar minyak (BBM). Investor berharap pemerintahan Jokowi berani mengambil kebijakan kenaikan harga BBM.
Demikian dikemukakan Fauzi Ichsan, Ekonom Standard Chartered Bank, dalam diskusi US Economic Recovery di Energy Building, Jakarta, Rabu (22/10/2014). Jika harga BBM tidak naik, menurut Fauzi, pelaku pasar akan bertanya-tanya seputar komitmen Jokowi untuk memperbaiki fundamental ekonomi Indonesia. Pasalnya, subsidi BBM membuat fundamental ekonomi nasional cukup rapuh.
Subsidi membuat harga BBM menjadi murah sehingga konsumsinya terus melonjak. Sementara Indonesia saat ini adalah negara importir minyak, dan tentu produk turunannya seperti BBM. Konsumsi BBM yang tinggi membuat impor BBM membengkak dan dampaknya adalah pelemahan nilai tukar rupiah karena valas yang terkuras.
Kalau Jokowi menaikkan harga BBM, lanjut Fauzi, maka investor akan memberi apresiasi. Dia memperkirakan rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan menguat.
‎‎"Kalau itu dilakukan, market mulai percaya. Mengingat sinyal yang dikeluarkan oleh Jokowi adalah menggiring orang bahwa BBM akan naik. Saya optimistis dolar akan di angka Rp 11.700 di akhir tahun ini, IHSG ke 5.400‎," tuturnya.
Namun, tambah Fauzi, kenaikan harga BBM bukan tanpa risiko. Jika harga BBM naik sebesar Rp 3.000 per liter pada November 2014, maka inflasi tahun ini akan melonjak menjadi 8-8,5 persen. Lonjakan inflasi akan direspons oleh Bank Indonesia (BI) dengan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 8 persen.
"Kemudian pada kuartal II-2014 BI Rate akan naik lagi karena suku bunga di AS naik. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi 2015 sepertinya lebih dekat ke 5 persen," jelas Fauzi.(dtc/fia)