Kabinet Direspon Negatif, IHSG Anjlok

MALANG – Pasar saham merespon negatif pengumuman dan pelantikan Kabinet Kerja pemerintahan Presiden  Joko Widodo. Dalam perdagangan awal pekan Senin (27/10) kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 48 poin dan turun pada level 5.024 poin.
Branch Manager SucorInvest Abdul Gani Malang, Kartono menyebutkan, anjloknya IHSG disebabkan oleh beberapa faktor. “Faktor pertama respon investor mengenai Kabinet Kerja, dan yang kedua karena aksi ambil untung dari investor lokal,” sebutnya.
Menurut dia, investor saham sejak jauh hari sudah berharap banyak pada pemerintahan yang baru. Namun, pandangan negatif justru muncul ketika Jokowi terkesan lambat menunjukkan kabinetnya. “Sejak resmi dilantik pekan lalu, IHSG cenderung stagnan dan mengarah pada penurunan. Itu merupakan tanda respon investor,” beber dia kepada Malang Post.
Dia menerangkan, jika sebelumnya banyak analis saham memprediksi IHSG akan melesat hingga level 5400 poin sebelum akhir tahun, kini capaian itu sangat berat. Malahan, pria yang akrab disapa Nando ini tidak berani mematok level di atas 5.200 poin, sekalipun sebelumnya IHSG sempat menembus rekor tertinggi setelah Jokowi dinyatakan sebagai pemenang pemilu.
Menurutnya,  untuk saat ini investor, baik lokal maupun asing cenderung menunggu aksi dan kebijakan pemerintahan terbaru. Terutama menyangkut sektor ekonomi. Bila program ekonominya berjalan sesuai dengan janji politik atau sejalan dengan perkiraan investor, maka pasar akan merespon positif. “Kejadian ini sangat berbanding terbalik ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lalu. Setiap kali akan mengeluarkan kebijakan baru, justru IHSG merespon positif,” imbuhnya.
Sementara itu, dia meyakini untuk saat ini masih banyak yang terganggu dengan isu kenaikan BBM yang akan dilakukan oleh Jokowi di bulan November. Jika benar terjadi, respon akan semakin negatif, karena kenaikan itu justru berimbas pada sektor ekonomi lain.
Terpisah, Marketing Manager Reliance Securities Malang, Venus Kusumawardhana menyampaikan, respon pasar negatif sebab pelaku pasar saham masih wait and see. Terutama menyangkut kebijakan BBM serta sosok yang duduk di Kabinet Kerja.
“Misalnya Menteri Perekonomian dan Menteri Keuangan. Jika sosoknya ideal dan diyakini mampu membawa perubahan dalam sektor ekonomi, investor pasti tidak ragu untuk aktif di pasar saham. Saat ini masih sepi,” terang Venus.
Dia meyakini, untuk saat ini perkembangan atau kinerja dari pemerintahan sangat dinantikan. Terutama di akhir tahun ini, ketika masa perubahan pemerintahan. Tak pelak, posisi IHSG belum bisa sesuai harapan untuk menembus di atas 5400 poin.
Sementara itu, dalam perdagangan kemarin sebenarnya IHSG sudah bergerak positif. Sebab, IHSG naik 13 poin menuju level 5.086 poin. Selanjutnya, laju justru terhenti dan jatuh ke zona merah. Pada penutupan sesi pertama, IHSH bergerak ke level 5.040 poin. “Aksi ambil untung dari investor lokal dengan melepas saham menjadi faktor utamanya,” jelas Venus.
 Mengakhiri perdagangan awal pekan, IHSG ditutup anjlok 48 poin ke level 5.024. Perdagangan relatif terpantau sepi, dengan frekuensi sebanyak 167,4 ribu kali dengan volume 4.223 miliar lembar saham. Nilainya hanya Rp 4,17 triliun, padahal ketika normal selalu di atas Rp 5 triliun. Sebanyak 87 saham naik, sebaliknya yang turun dua kali lipat lebih banyak mencapai 194 emiten. Sedangkan 80 saham tercatat stagnan di pasar saham. (ley/han)