Avtur Naik, Tiket Pesawat Ikut Naik

MALANG – Tiket pesawat Sriwijaya Air akan mengalami kenaikan per 1 November  ini. Kenaikan tersebut mengikuti pemberlakuan tarif pesawat baru yang dilakukan oleh Kementerian Perhubungan sejak 1 Oktober lalu.
“Awal bulan nanti tiket Sriwijaya Air memang akan mengalami kenaikan. Baik Malang – Jakarta maupun sebaliknya, begitu pula untuk rute lain,” ujar District Manager Sriwijaya Air Malang, M. Yusri Hansyah kepada Malang Post, kemarin.
Menurutnya, dengan naiknya harga tiket ini, maka calon penumpang mesti menyiapkan budget sekitar 10 persen lebih banyak ketimbang sebelumnya. Saat ini, harga tiket Sriwijaya Air untuk rute Malang-Jakarta maupun sebaliknya dikisaran Rp 700 ribu hingga Rp 1,2 juta.
“Patokan Rp 1,2 juta merupakan batas atas dari penerbangan sekelas Sriwijaya. Sehingga, naiknya juga sangat tipis,” ungkap dia kepada Malang Post.
Dia menuturkan, kenaikan ini untuk menyeimbangkan harga avtur yang mesti dikeluarkan oleh maskapai. Sebab, selama beberapa bulan terakhir nilai tukar Rupiah terhadapa dolar Amerika melemah. “Tujuannya agar pesawat juga tidak terlalu merugi karena mahalnya pembelian avtur,” jelas Yusri.
Dia mengakui, selama ini dengan tarif batas atas di kisaran Rp 1,2 juta untuk rute Malang-Jakarta, average dari penjualan tiket tidak sampai sebesar itu. Menurut dia, bila ditotal dengan keseluruhan isian penumpang, rata-rata harga tiket yang berlaku sekitar Rp 900 ribuan.
Tak pelak, kenaikan tersebut disambut kurang antusias. Pasalnya, kecenderungan selama ini yang dibutuhkan oleh maskapai yakni tarif batas bawah. Dengan begitu, antar satu maskapai dengan yang lain tidak terjadi perang tarif sekalipun pada masa promo. “Naiknya tiket ya kami terima karena regulasi saja. Jika diprosentasekan, kenaikan ini bisa mengurangi beban antara 5-10 persen,” tambahnya.
Yusri menyebutkan, untuk masa low season seperti saat ini, Sriwijaya maupun maskapai lain sangat jarang menggunakan tarif batas atas. Tarif maksimal itu baru diberlakukan ketika akhir pekan atau peak season. “Selama ini, regulasi pemerintah untuk membatasi tarif tertinggi dari maskapai. Tetapi tidak ada tarif batas bawah, sehingga ada yang mematok tarif tidak proporsional juga,” tambah dia.
Sementara itu, dalam peraturan baru pemerintah mengatur tarif batas atas pesawat berdasarkan asumsi nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika sebesar Rp 13 ribu dan harga avtur Rp 12 ribu per liter. Pemerintah juga mengatur, setiap maskapai yang menerapkan tarif lebih rendah dari 50 persen dari tarif batas atas, wajib mendapat persetujuan  dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. “Mungkin ini untuk menetapkan tarif batas bawah secara tersirat,” pungkasnya. (ley/aim)