Tabung Honor Model untuk Buka Butik

MALANG - Putri Kartini Malang Post, Khadijah Az Zahrah Amirah atau yang biasa dipanggil Zahrah sukses menjadi desainer di usianya yang baru 18 tahun. Beberapa pameran telah ia ikuti untuk menunjukkan eksistensinya di dunia fashion hijab Indonesia.
Zahrah, memulai karirnya sejak masih SMP dengan mengikuti lomba modeling dan ajang muslimah indonesia. Masuk 30 besar ia melanjutkan dengan mengikuti putri jilbab Indonesia dalam skala nasioanal dan berhasil menjadi juara 1.
“Aku awalnya nggak ada basic make up dan modeling. Dulu iseng-iseng saja dan ternyata Alhamdulillah bisa lolos seleksi dan akhirnya menjadi juara 1. Aku memilih untuk tetap berhijab dengan niat dakwah, dan buktinya bisa berprestasi,” ucapnya.
Dari situ ia lalu dikontrak oleh beberapa tabloid unutk menjadi model hingga tahun 2013.
“Aku mulai dikontrak oleh brand ternama seperti mukenah syahnas. Produk busuana muslim, dari situ uang fee model aku tabung dan aku bikin modal untuk butik,” lanjutnya.
Saat ditanya tentang gaji pertama sebagai model ia mengatakan uang yang diterima lumayan besar sekitar Rp 250 ribu untuk satu baju.
“Satu baju sekitar Rp 250 ribu feenya. Kadang sehari 10 baju. Itukan lumaya. Kadang sebulan itu 4 hingga 6 kali pemotretan. Aku tabung terus uangnya. Karena aku memang ingin punya butik,”
Pilihan usaha butik, karena beberapa alasan kuat.
“Aku kebetulan suka desain namun tidak pernah ikut les desain. Aku suka gambar, kebetulan waktu putri hijab 2010 aku the best kostum yang aku desain sendiri dengan model gaun pesta tapi tetap hijab. Saat aku show dan mengenakan bajuku sendiri banyak yang bilang kalau bajunya bagus. Dari situ mulai ada pesanan dari teman-teman model untuk membuat baju,” paparnya.
Sejak saat itu ia mulai berfikir bahwa disitulah passionnya. Meskipun tidak pernah mengikuti kursus desain ia mampu membuat beberapa baju yang disukai oleh teman-temannya.
Setelah merasa mampu mendesain ia mulai belajar make up.
“Sebenarnya iseng-iseng aja untuk make upnya. Karena aku dulunya kan model dan basic model itu harus bisa make up. Kalau setiap kali make up ke orang lain, aku pikir itu sayang. Waktu aku di make up in aku lihat caranya dan aku perhatikan sambil aku terapkan waktu di rumah,” tambah gadis kelahiran tahun 1996 tersebut.
Mencoba memberikan jasa make up untuk kakak kelas yang wisuda ia mempublish hasil karyanya ke media sosial seperti instagram, facebook dan twitter. Respon baik datang dari komentar teman-temannya.
“Aku senang dengan respon mereka. Setelah itu umikku lihat dan dia berkata bahwa aku sebenarnya bisa make up hanya tidak tahu pakemnya. Aku ditanya mau nggak dikursusin make up biar tau yang bener seperti apa,” ujar Zahra.
Dari situ  ia mengikuti kursus di Surabaya dan harus pulang pergi selama dua hari. Namun setelah tiga bulan berjalan kegiatan tersebut harus ia hentikan karena mendekati ujian nasional.
“Aku cuma kursus 3 bulan karena jatahnya 1 tahun. Dan itu kebetulan waktu mendekati unas jadi aku lepas dan aku fokus untuk perisapan ujian. Tapi di les itu aku belajar lagi di rumah dan dipraktekkan ke temanku,”
Saat kelas 3 SMA ia mengikuti pameran di MOG dengan bondo nekat.
“Saat itu aku nggak punya baju. Cuma ada 3 baju yang memang desainku. Kau pajang dan Alhamdulillah banyak yang suka dan menanyakan harganya,” tuturnya.
Modal awal Rp 1 juta yang ia dapat dari hasil menjadi model ia putar untuk mengembangkan butiknya dengan nama Kokha yang berarti Koleksi Khadijah. Saat itu baju yang tersedia di butik adalah baju yang ia beli. Hanya beberapa buatannya. Setelah semakin berkembang ia mencoba untuk menjadi perias wedding.
“Untuk menarik pelanggan aku tawarin make up, baru dibikin bajunya,” kata dia.
Usaha itu terus ia lakoni hingga ia bisa mengikuti pameran di Hotel Santika beberapa waktu lalu. Enam desain baju pengantin dengan tema soft of love berhasil membuat pengunjung yang datang kagum. Ia mengungkapkan untuk pengerjaan satu baju pengantin membutuhkan waktu hingga 3 bulan.
Saat ditanya mengenai target kedepannya ia mengatakan ingin membuka cabang di berbagai kota dan mengadakan pameran tunggal khusus koleksinya. Saat ini ia sudah membandrol harga Rp 6 juta hingga Rp 12 juta untuk wedding.
Mahasiswa baru Universitas Brawijaya itu kini bisa membeli mobil dengan kerja kerassnya sendiri. Ia juga tidak ingin meninggalkan bangku kuliahnya meskipun ia telah sukses.
“Moto aku sendiri itu kalau aku bisa sukses sekarang kenapa aku nunggu besok? Aku kuliah tetap kuliah karena pendidikan itu nomor 1,” pungkasnya. (mg5/oci)