OJK Selidiki DBS

MALANG – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali waspada dengan munculnya tawaran investasi dengan imbal hasil selangit dan instan. Pasalnya, setelah Manusia Membantu Manusia (MMM), yang teranyar muncul PT Dua Belas Suku (DBS) yang berbasis di Blitar dengan imbal balik lebih cepat, hanya dalam tempo sepekan saja.
 “Kasus MMM masih terasa hangat, tetapi sekarang sudah muncul tawaran investasi baru. Kami sudah mengetahui beritanya akhir pekan lalu,” ujar Kepala OJK Malang, Indra Krisna.
Menurutnya, sekalipun investasi beredar di Blitar, OJK Malang pun waspada. Sebab, potensi untuk berkembang di Malang pun sangat besar. “Sekarang memang belum ada laporan untuk di area Malang. Akan tetapi, kami juga sudah saling koordinasi,” beber dia kepada Malang Post.
Indra kembali mengingatkan, skema yang menawarkan keuntungan besar maka memiliki resiko yang besar pula. Sehingga, bila ke depan terjadi kerugian bagi yang berinvestasi, itu merupakan resiko utamanya.
“Bila ingin investasi dengan return yang besar itu harus hati-hati. Apakah memang normal.  Sebelumnya juga perlu dicek apakah investasi itu izinnya apa merupakan lembaga keuangan atau bukan,” paparnya.
Menurutnya, OJK kini juga tengah menyelidiki ijin usaha dari DBS. Untuk hal ini OJK bekerjasama dengan tim investigasi dari Dinas Perdagangan. Sebab, OJK khawatir masih banyak perusahaan yang mengklaim mengelola investasi masyarakat namun tidak memiliki izin dari OJK sebagai otoritas keuangan maupun dari dinas tertentu.
“Saat ini OJK pusat tengah berkomunikasi dengan bagian Satgas Waspada Investasi untuk menyelidiki izin sebagai lembagha keuangan atau tidak,” jelas pria berkacamata tersebut.
Dia menyebutkan, sesuai dengan peraturan OJK (POJK) tentang perlindungan konsumen sektor jasa keuangan, apabila pelaku usaha jasa keuangan (PUJK) melakukan kegiatan penawaran atau promosi produk, harus mencantumkan pernyataan bahwa PUJK terdaftar dan diawasi oleh OJK. “Bila terbukti tidak ada izin, maka OJK bisa bertindak bekerjasama dengan lembaga terkait yang memiliki wewenang. Untuk wilayah Blitar, pantauan langsung dari KOJK Kediri,” tambahnya.
Menurut dia, sebagai pengalaman adalah investasi MMM lalu. Yang mana, MMM merupakan sebuah komunitas yang menawarkan imbalan investasi hingga 30 persen dalam waktu cepat. Namun, MMM bukan bagian dari lembaga keuangan, dan OJK tidak bisa menindaknya.
“Kami hanya sebatas memberi edukasi kepada masyarakat, bila investasi semacam itu memiliki potensi kerugian yang besar pula. Terbukti, MMM sempat mengalami shut down,” urai dia panjang lebar.
Sementara itu, terkait DBS diketahui menggunakan izin dari Kementerian Hukum dan HAM. Sayangnya, kegiatan usaha perseroan tak dipublikasikan secara jelas. Dalam laman website-nya, hanya dijelaskan bahwa DBS merupakan perusahaan yang bergerak pada banking and finance consultant.
DBS menawarkan skema investasi mirip arisan berantai dengan imbal hasil 19 persen sepekan. DBS berkantor di Jalan TGP Ruko BBC No 1-2, Blitar, Jawa Timur. Jajaran Direksi DBS terdiri atas komisaris utama yang dijabat oleh Jefri Christian dan Komisaris Naning Yuliati. Keduanya merupakan pasangan suami isteri. Adapun direktur utama dijabat oleh Rinekso Hari, Direktur Income Yeremia Kusumo dan Direktur Keuangan Natalia.
DBS mulai beroperasi sejak 19 Agustus 2014 dan telah menjaring 19.000 akun nasabah. Setiap nasabah menyetor deposit Rp 1 juta hingga Rp 5 juta. Jadi, perputaran uang antar-nasabah DBS sekitar Rp 19 miliar hingga Rp 95 miliar. (ley/fia)