Isu BBM Naik Lemahkan Transaksi Lantai Bursa

PANTAU: Pialang saham memantau pergerakan IHSG dan saham-saham di lantai bursa.

MALANG – Pasar saham masih sepi dan menunjukkan trend negatif di pekan ini. Hal ini terbukti ketika Indeks Harga Saham Gabungan menunjukkan warna merah karena mengalami penurunan 0,29 persen ke level 5.070 poin, dengan nilai transaksi hanya Rp 4,8 triliun dalam perdagangan Selasa (4/11) kemarin.
Branch Manager SucorInvest Abdul Gani Malang, Kartono menyampaikan, IHSG masih di teritori merah. Kelesuan masih terjadi di kalangan investor, baik lokal maupun asing. “Perdagangan hari ini (kemarin) masih turun. Dari pagi tren sudah negatif dan berlanjut hingga sore,” ujarnya, kemarin.
Menurut dia, ketika dibuka IHSG langsung mengalami koreksi 6 poin ke level 5.079 sebelum akhirnya sedikit mengalami perbaikan ketika menutup perdagangan sesi pertama. Menurutnya, turunnya IHSG ini juga kelanjutan tren di awal pekan sehingga membuat pasar saham secara over all berada di zona merah.
“Secara keseluruhan, sejak Jokowi diangkat jadi presiden pasar saham cenderung melemah. Alasannya, investor masih banyak menunggu kinerja pemimpin baru di Indonesia ini. Wait and see untuk melihat perkembangan di sektor ekonomi,” beber dia kepada Malang Post.
Pria dengan sapaan akrab Nando ini menuturkan, trend pelemahan ini akan berlanjut sampai ada bukti nyata kinerja Jokowi-JK dan kabinetnya. Selain itu, isu besar mengenai kenaikan BBM Bersubsidi juga berpengaruh besar.
“Emiten dan investor masih sangat menunggu kejelasan kapan naiknya BBM Bersubsidi. Sebab, efek sampingnya diprediksi besar, dan investor memilih bersabar melihat perkembangan pasar,” urainya.
Tak pelak, kondisi wait and see ini membuat pasar relatif sepi. Selama dua pekan terakhir, catatan transaski di pasar saham menurun antara 20-50 persen ketimbang sebelumnya. Kemarin, nilai transaksi hanya Rp 4,8 triliun. Padahal biasanya berada di kisaran Rp 6 triliun.
“Saat antusias investor tinggi, transaksi bisa mencapai Rp 8 triliun lebih,” imbuh Nando.
Dia memprediksi, kondisi akan berlanjut sepanjang November ini. Naik-turunya IHSG di level 5.000 poin sampai dengan 5.100 poin. Jika tidak ada perkembangan yang bagus, lesunya pasar saham akan berlangsung sampai akhir tahun.
“Emiten masih menunggu efek samping kenaikan BBM. Sebab banyak hal yang akan terpengaruh bila benar-benar terjadi,” jelas dia.
Terpisah, Sales Equity Agus Prayitno menuturkan, kenaikan BBM Bersubsidi bila benar terjadi akan berpengaruh besar. Misalnya emiten mesti berpikir ulang mengenai kinerja perusahaan, dan mempengaruhi keaktifan di pasar saham.
“BBM naik, kekhawatiran utama kenaikan harga sandang pangan dan papan. Lalu berlanjut pada permintaan kenaikan gaji karyawan,” papar dia panjang lebar.
Setelah itu, emiten dipastikan mulai tergerus nilai sahamnya. Maka hasilnya berupa turun nilai saham dan berada di zona merah. “Keuntungan pasti langsung berkurang dan itu yang ditakutkan efek samping kenaikan BBM Bersubsidi. Berbagai sektor pasti terpengaruh,” urai Agus.
Sementara itu, dalam perdagangan kemarin sebanyak 4,33 miliar saham diperdagangkan dan transaksi jual asing Rp 203,99 miliar. Tercatat 128 saham naik, 169 saham melemah dan 101 saham stagnan. (ley/fia)