Terapkan Standart Deterjen Demi Puaskan Konsumen

BERSAMA KARYAWAN: Dwi Winarti bersama karyawan dan mobil operasional yang dipakai untuk mengantarkan pakaian yang telah dicuci ke konsumen.

BISNIS laundry yang menjamur tidak membuat Dwi Winarti berkecil hati untuk mencoba peluang tersebut. dibawah bendera Cleaners Laundry, ia semula hanya satu karyawaan yang juga pembantu di rumahnya, kini ia telah memiliki 20 karyawan yang sanggup mencuci hingga lima kuintal baju tiap hari.
Pengalamannya di bidang pembuatan detergen dan pewangi pakaian membuat Dwi Winarti menekuni usaha laundry di rumahnya pada tahun 2007. Semula ia menggunakan detergen buatannya. Karena semakin banyaknya palanggan membuatnya kerepotan untuk membuat sendiri detergen sehingga ia memutuskan untuk membeli dengan standart yang ia miliki.
“Pertengahan tahun 2013 saya memilih utnuk membeli ruko agar lebih nyaman dan berkembang. Alhamdulillah sekarang sudah empat hotel dan dua guest house melimpahkan 80 persen penanganan sprei, handuk dan yang lainnya kesini,” tuturnya.
Salah satu hotel yang bekerjasama ialah Savana Hotel. Awalnya ia menolak permintaan beberapa hotel untuk bekerjasana karena alat-alat yang tersedia belum mencukupi. Dalam beberapa bulan ia mampu mengumpulkan uang untuk membeli mesin cuci yang lebih besar dan alat-alat yang dibutuhkan. Setelah semua tepenuhi ia menerima tawaran kerjasama yang diajukan oleh beberapa hotel tersebut
Awal mula omzet yang ia terima hanya Rp 1 juta per bulan. Hingga saat ini omzetnya telah naik lebih dari 100 persen per bulannya. Berada  di Ruko Permata Jingga, kini ia memiliki satu mobil untuk layanan antar jemput.
 “Kalau untuk antar jemput kami hanya menerima dengan minimal transaksi Rp 100 ribu. Bisnis ini banyak keuntungannya. Selain uang yang saya terima, saya juga memberikan peluang pekerjaan bagi orang-orang,” lanjutnya.
Dengan harga rata-rata Rp 5000 hingga Rp 6000 per kilo, dalam sehari ia bisa menghabiskan sebanyak 15 kilo detergen. Berbagai layanan yang ia tawarkan selain pencucian baju ialah boneka, sepatu dan karpet. Ia mempunyai standar sendiri agar kualitas laundrynya tetap disukai oleh pelanggan. Mulai dari pemilihan detergen hingga cara pencucian untuk beberapa baju tertentu yang menggunakan manual atau tangan. Hal itu bertujuan agar hasil yang didapatkan maksimal.
“Biasanya handuk di hotel setelah dicuci itu harus mengembang lagi. Kalau nggak seperti itu mereka nggak  akan mau lagi bekerjasama dengan kita. Kedepannya saya ingin membuka market laundry mulai dari plastik, parfum hingga detergen yang saya buat sendiri,” ucap dia.
Layanan yang ditawarkan mulai dari cuci kering, cuci kering setrika, cuci kering setrika hanger, dan cuci manual. Cleaners Laundry juga melayani berbagai konsumen mulai dari hotel, perusahaan, rumah sakit, kantor, mahasiswa, hingga rumah tangga.
“Menurut saya bisnis ini tidak ada padamnya karena ini sangat berhungungan dengan kesehatan dan sudah seperti kebutuhan pokok. Jika ingin bisnis laundry maka yang paling menentukan adalah tempat dan kualitas,” pungkasnya.(mg5/fia)