‎Perbankan Siapkan Skenario Stabilisasi Bisnis

TABUNG: Kenaikan BBM diperkirakan mempengaruhi penyerapan Dana Pihak Ketiga (DPK), namun dampak tersebut diprediksi hanya berlangsung selama tiga bulan saja.

‎MALANG - Wacana kenaikan harga BBM yang akan berlangsung di bulan November ini dipastikan berdampak pada pertumbuhan bisnis dan ekonomi di sektor perbankan. Meskipun masih menunggu realisasi penaikan, namun perbankan tidak memungkiri bersiap dengan strategi untuk stabilisasi bisnis agar target penyaluran kredit dan pertumbuhan simpanan.
Asisten Manajer Bisnis Mikro BRI Malang Martadinata, Sugeng Suroto mengakui, bila saat ini perbankan masih menunggu realisasi kenaikan BBM Bersubsidi. "Pengaruh pasti ada, tinggal kadarnya besar atau kecil," ujarnya.
Menurut dia, yang terdampak pasti merupakan nasabahnya dan berujung pada tingkat kemampuan ekonomi. Sebab, dengan naiknya harga BBM, akan membuat inflasi yang membuat banyak sektor naik.
"Pasti harga kebutuhan pokok dan bahan lain ikut naik. Itu yang pada akhirnya mempengaruhi bisnis perbankan," beber dia kepada Malang Post.
Sugeng memaparkan, misalnya nasabah biasanya menyimpan atau menabung dana di bank sebesar Rp 1 juta per bulan, kemampuannya bisa jadi berkurang. Hal itu berpengaruh pada kinerja perbankan mengumpulkan dana pihak ketiga (DPK).
"Walau efeknya tidak lama dan tidak begitu besar. Hanya sekadar shock terapy saja, paling 1-3 bulan," papar Sugeng.
Dia menganalisa, pengaruhnya masih sangat kecil, di bawah 10 persen. Hal yang sama berlaku pada penyaluran kredit, yang membuat perbankan lebih berhati-hati lagi. "Tentunya kami semakin ketat dalam menganalisa kemampuan kredit calon debitur. Sebab, bila tidak akan berujung pada Non Performing Loan (NPL) yang naik dan tidak sehat bagi bank," urai dia panjang lebar.
Pria ramah ini menjelaskan, masyarakat masih tertolong bila kenaikan BBM bersubsidi benar terjadi. Sebab Jokowi-JK sudah mengeluarkan tiga kartu sakti yang diklaim akan membantu masyarakat. Yakni Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS).
Lebih lanjut dia menerangkan, sebenarnya kenaikan tidak akan terlalu berpengaruh. Sebab, rata-rata nasabah perbankan merupakan pengusaha. Sekitar 85 persen mereka yang menyimpan dana dan memiliki kredit perbankan adalah pengusaha. Baik pengusaha besar maupun dalam skala mikro.
"Pengusaha pasti lebih pintar mengatur sektor ekonominya. Sehingga, kenaikan ini pengaruhnya hanya beberapa saat saja," tambah dia.
Terpisah, Pemimpin BRI Syariah Malang, Agung Rahardjo masih menunggu kebijakan baru tersebut. Menurutnya, pasti ada keuntungan dan kerugian dampak kenaikan BBM Bersubsidi. "Tetapi pasti juga ada solusi untuk menjaga kestabilan bisnis di sektor lain termasuk perbankan," sebut dia.
Sementara itu, Analis Ekonomi Kartono menerangkan, side effect dari kenaikan BBM sangat besar bagi bisnis. Seperti berkurangnya profit hingga pengurangan karyawan karena alasan penghematan.
"Tampaknya belum saatnya naik. Apalagi info harga minyaknya dunia sedang turun dan terendah dalam beberapa tahun terakhir," ujarnya. Dia berharap kenaikan ditahan dan menunggu momen yang lebih tepat.
Sementara itu Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di Jakarta mengatakan jika kenaikan harga BBM subsidi sebesar Rp3.000 per liter jadi terealisasi, maka akan berdampak kepada kenaikan inflasi sebesar 3-3,5 persen. Akan tetapi hal tersebut akan sangat tergantung kepada second round effect dan third round effect.
Perry berpendapat jika first round effect akibat kenaikan harga BBM akan menyumbang inflasi sebesar 1,5 persen. Sementara itu untuk second round effect tergantung pada penyesuaian tarif angkutan dalam kota dan lainnya. Dampak kenaikan harga BBM subsidi ini juga biasanya hanya terasa pada tiga bulan pertama saja dan pada bulan keempat akan kembali normal, untuk itu kenaikan inflasi tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan.
Selain itu dengan menaikkan harga BBM subsidi menjadi sebuah opsi tepat untuk mengatasi permasalahan defisit anggaran dan juga defisit transaksi berjalan. (ley/fia)