Online Travel Agent Tumbuh Pesat

CHECK IN: Front office Swiss Belinn Hotel Malang menerima tamu yang datang untuk check in.

MALANG – Sejalan dengan pertumbuhan dunia internet, bisnis dunia maya pun makin menggurita. Pasar-pasar bisnis hadir di dunia digital salah satunya berkaitan dengan bisnis pariwisata. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan Online Travel Agent (OTA) mengalami pertumbuhan cukup pesat.
Salah satu sektor pariwisata yang merasakan dampak positif kehadiran OTA adalah perhotelan. Penjualan kamar menjadi terbantu berkat adanya situs-situs yang memberikan rekomendasi hotel sekaligus menyediakan jasa reservasi kamar seperti Rajakamar, Gonla.com, Trip Advisor, Agoda, Booking.com, dan masih banyak lagi.
“OTA berkembang pesat dan menjadi referensi tamu yang hendak menginap di hotel. Ini dikarenakan review yang diberikan oleh user di situs-situs tersebut apa adanya tanpa ada intervensi. Orang bebas menuliskan apapun di sana,” jelas Manager Marketing Hotel Tugu Malang, Yudha Susanti.
Faktor lain adalah, reservasi melalui OTA lebih praktis dan cepat dengan sistem instan confirmation. Dimana, kepastian mendapatkan kamar bisa didapatkan dengan biaya murah, waktu yang singkat, dan aman.
“Mereka dapat review. Booking tanpa harus repot-repot menelpon ke hotel. Jadi jauh lebih praktis,” tegas perempuan berkacamata ini.
Ia menambahkan, tamu-tamu OTA di Hotel Tugu berkontribusi sebanyak 20 persen untuk mengisi kamar. Untuk mengantisipasi maraknya OTA, Yudha mengatakan Hotel Tugu telah merintis divisi e-commerce yang khusus menangani OTA.
Langkah pembuatan divisi e-commerce juga dilakukan oleh Swiss Belinn Malang. Public Relations Swiss Belinn Malang, Ires Mariska menjelaskan, sejak Oktober lalu, dibentuk divisi e-commerce yang khusus menangani OTA.
“Khusus memberikan laporan booking kamar dari OTA, termasuk memantau pergerakan harga,” jelas Ires kepada Malang Post.
Ia menambahkan, reservasi dari OTA saat ini mendominasi kamar di Swiss Belinn sekitar 40 persen. Ires menuturkan, biasanya OTA yang bekerjasama dengan Swiss Belinn rata-rata hanya menjual kamar sehingga harga yang diberikan sebagian besar lebih murah ketimbang room rate.
“Pesan tiket melalui OTA memang lebih murah. Itu sudah menjadi rahasia umum. Namun ada beberapa fasilitas yang tak didapat karena ada yang hanya menjual room tanpa breakfast,” ungkap dia.
Di Desember, Ires menegaskan, reservasi melalui OTA sudah ditutup, khususnya di penghujung tahun. Swiss Belinn hanya membuka reservasi melalui hotel dan walk in.
“Reservasi untuk tahun baru sudah tinggi. 40 persen. Karena itulah, pemesanan kamar melalui OTA sudah ditutup,” pungkasnya.(fia)