Penghujan Datang, OTP Maskapai Terancam

MALANG – Maskapai penerbangan yang beroperasi di Malang mulai mewaspadai musim penghujan. Cuaca yang kurang bersahabat di penghujan diprediksi akan menurunkan angka On Time Performance (OTP).
District Manager Sriwijaya Air Malang, Muhammad Yusri Hansyah menjelaskan, saat ini, OTP penerbangan rute Malang – Jakarta berada di angka 87 persen. Tingkat ketepatan waktu penerbangan ini mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun lalu yang berada di angka 70 persen.
“Ada kenaikan OTP jika dibandingkan dengan tahun lalu. Salah satunya karena efisiensi saat ground time, yaitu maintenance pesawat saat berada di darat,” jelas Yusri kepada Malang Post.
Hanya saja, memasuki November dan Desember, Yusri memprediksi angka OTP akan menurun di angka 70 persen. Musim penghujan dan karakteristik bandara di Malang yang dikelilingi gunung dan mudah berkabut sehingga mengganggu jarak pandang menjadi faktor yang membuat resiko keterlambatan pesawat menjadi lebih tinggi dari bulan-bulan sebelumnya.
“Gangguan cuaca akan meningkat mulai November, Desember, hingga Januari. Sehingga kita harus menyiagakan skenario-skenario jika pesawat tidak bisa terbang atau landing (mendarat) di Malang,” ucap bapak tiga anak ini.
Dikonfirmasi di tempat terpisah, Station & Service Manager Garuda Indonesia Malang, Aminullah Noer  menjelaskan kondisi penerbangan di Malang cukup unik. Gangguan alam sejatinya tak hanya terjadi saat penghujan namun juga bisa dialami ketika kemarau.
Ia mencontohkan, saat bulan-bulan kemarau, idealnya penerbangan baru bisa dilakukan di atas jam 9 pagi, sedangkan landing harus di bawah jam 2 sore. Hal ini dikarenakan, kabut sering kali membatasi jarak pandang dan dibutuhkan bantuan sinar matahari untuk menerobos kabut agar landasan pacu terlihat.
“Matahari baru muncul di daerah bandara sekitar pukul 09.00 ke atas. Sedangkan di atas jam 2 sore, sinar matahari juga sudah mulai melemah,” urai Aminullah.
Untuk mengatasi hal tersebut, Aminullah mengatakan Garuda Indonesia sudah memiliki skenario baku untuk menghadapi faktor alam. Diantaranya divert yaitu mengalihkan pendaratan dari Malang ke Juanda Surabaya dan Hold penerbangan dari Cengkareng jika pesawat belum diberangkatkan.
“Kita harus pastikan keamanan penumpang. Faktor alam adalah force majeur yang tidak bisa paksakan. Sehingga mau tak mau, penumpang pun harus mengerti karena keselamatan penumpang adalah yang utama,” jelas dia.
Aminullah menambahkan, saat ini OTP Garuda rute Malang – Jakarta berada di angka 60 hingga 65 persen. Ia memprediksi di musim penghujan, OTP bisa turun ke angka 50 persen.Selain karena faktor alam, delay juga sering terjadi karena jadwal penerbangan terbentur dengan jadwal latihan pesawat militer.
“Untuk memperbaiki OTP, dimaksimalkan di efisiensi ground time. Saat pengisian bahan bakar, persiapan catering di pesawat hingga penumpang on board diusahakan tidak boleh lebih dari 45 menit untuk pesawat jenis Boeing 737-800 NG,” pungkas dia.(fia)