Mobil Tak Khawatir Dampak BBM

ANDALAN: Mirage menjadi andalan Mitsubishi untuk menggaet pangsa pasar city car di Malang.

MALANG – Wacana kenaikan BBM yang membuat tranformasi dari pengguna mobil ke motor dibantah oleh General Manager Suzuki Perdana Motor, Yudi Irwan Wijaya. Penurunan penjualan mobil lebih dipengaruhi naik turunnya kurs Dolar terhadap Rupiah.  
Posisi Rupiah yang melemah membuat harga mobil semakin mahal karena material mobil yang harus diimpor. Yudi mengatakan kenaikan BBM memberikan dampak yang tidak besar.
“Material kita masih impor. Sehingga jika Rupiah melemah maka harga mobil akan naik. Ketika harga mobil mahal maka daya beli masyarakat akan sedikit berkurang. Itu yang menjadi salah satu faktor penurunan penjualan,” ucapnya.
Selain itu, segmen mobil dan motor yang berbeda membuat penjualan tetap berjalan lancar.
“Kalau mobil itu kan segmen pasarnya untuk menengah ke atas atau mereka yang memang membutuhkan mobil sebagai sarana transportasi. Kalau motor itu segmentasinya untuk masyarakat menengah ke bawah. Meskipun juga banyak pemilik mobil yang mempunyai motor,” lanjutnya.
Menurutnya, trasformasi pengguna mobil ke motor lebih tepat pada pengguna mobil dalam tanda petik angkutan umum.
“Transformasi itu terjadi karena angkutan umum kita yang belum baik sehingga banyak yang beralih ke sepeda motor. Hal itu menyebabkan penjualan motor semakin meningkat,” tutur Yudi.
Ia juga mengatakan, kenaikan BBM yang terjadi pada tahun 2012 hanya berdampak sekitar 10 persen terhadap penjualan mobil selama tiga bulan. Setelah itu penjualan tetap lancar.
Senada dengan Yudi, Sales Manager Hyundai, Agus Sucahyo juga mengatakan bahwa dampak kenaikan BBM hanya berpengaruh di dua hingga tiga bulan pertama pasca kenaikan harga. Selanjutnya, penjualan akan berjalan normal.
“Berkurangnya pembeli mobil karena masyarakat sedang melihat bagaimana kondisi ekonomi yang sedang terjadi selama tiga bulan itu,” ungkapnya.
Agus mengatakan, perpindahan pengguna mobil ke motor tidak semudah yang dibayangkan.
“Nggak semudah itu perpindahannya. Tergantung situasi dan kondisi. Misalnya seorang pemimpin perusahaan, ia tidak akan pergi ke kantor dengan naik motor hanya karena kenaikan BBM Rp 3000,” ujarnya.
Kenaikan BBM bukan penghalang bagi pebisnis otomotif salah satunya mobil karena saat ini, menurut Agus, sudah banyak mobil LCGC dan mobil matic dengan pengeluaran bahan bakar yang irit seperti city car dari Hyundai dan Ertiga dari Suzuki.
Dikonfirmasi di tempat terpisah, Sales Senior PT Sun Star Motor Malang, Eko Sugeng Riyadi menambahkan, jika ditilik dari pengalaman kenaikan BBM di tahun-tahun sebelumnya, maka dampak revisi harga tersebut hanya berlangsung dalam hitungan beberapa bulan.
“Mobil saat ini bukan kebutuhan tersier. Sehingga konsumen pasti cepat atau lambat akan membeli mobil. Harga kendaraan maupun BBM yang makin mahal akan berdampak sekitar tiga bulan saja karena konsumen harus beradaptasi dengan harga baru. Selebihnya penjualan akan normal kembali,” urai pria yang akrab disapa Adit ini.
Ia menambahkan, mobil-mobil murah saat ini juga bertebaran di pasar dan menjadi alternatif kendaraan ramah kantong. Di Mitsubishi sendiri, mobil murah yang menjadi andalan adalah Mirage yang dijual dengan harga tak sampai Rp 200 juta.
“Mitsubishi sendiri sudah menyiapkan promo-promo untuk menggaet konsumen. Salah satunya melalui promo diskon, hadiah, hingga cash back,” pungkasnya. (mg5/fia)