Bensin Mahal dan Penghujan Pusingkan Pedagang

MALANG – Keputusan pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi menjadi Rp 8500 per liter yang dikombinasikan dengan musim penghujan membuat harga sayur mengalami kenaikan. Biaya operasional yang membengkak dan kerusakan memperbesar resiko kerugian.
Di Pasar Blimbing, harga sayur mayur seperti kangkung naik dari Rp 15 ribu menjadi Rp 17 ribu. Sementara untuk buncis dan cabai mengalami kenaikan hingga lebih dari 100 persen. Saat ini, harga cabai telah mencapai Rp 55 ribu per kilo dari harga normal Rp 8 ribu per kilo. Sedangkan buncis dari Rp 6 ribu per kilo menjadi Rp 14 ribu per kilo.
“Kenaikan berbagai sayuran karena musim hujan yang terjadi membuat banyak sayur yang rusak. Kondisi itu diperparah dengan adanya kenaikan BBM yang membuat ongkos kirim semakin mahal,” tutur salah satu pedagang sayur, Sri Juartini.
Ia mengatakan, esok hari (20/11) harga sayur akan semakin mahal karena dampak kenaikan BBM nyata dirasakan hari ini (19/11). Sayur yang ada merupakan pengiriman pada hari sebelumnya (17/11) sehingga kenaikan yang terjadi tidak begitu banyak karena harga BBM saat itu masih normal.
“Saat ini harga sayur yang dikirim sebelum BBM resmi naik saja sudah seperti ini. Maka pasti besok harganya akan semakin tinggi,” lanjutnya.
Selain sayur dan cabai, Sri menambahkan, harga bawang merah juga mengalami kenaikan menjadi Rp 18 ribu dari harga semula Rp 12 ribu. Alasannya sama yaitu masuknya musim hujan disertai kenaikan harga BBM.
Menurutnya, setelah kenaikan BBM jumlah pembeli menurun drastis. Sedangkan kualitas sayur yang tidak mampu bertahan lama membuat pedagang harus menanggung kerugian. Menurutnya penurunan jumlah pembeli karena banyak masyarakat yang memilih berbelanja di tukang sayur daripada pergi ke pasar.
“Banyak yang memilih belanja ke tukang sayur karena jaraknya yang lebih dekat dan datang ke rumah mereka. Kalau ke pasar kan harus mengeluarkan bensin sementara sekarang harga BBM sudah naik,” tutur Sri pada Malang Post.
Sri mengatakan, harga telur saat ini cenderung turun. Dari harga semula Rp 15 ribu menjadi Rp 16 ribu. Turunnya harga telur yang terjadi sejak dua hari sebelumnya itu tidak diketahui penyebabnya. Namun ia tetap berharap agar kenaikan harga BBM cukup sampai pada titik Rp 8500.
“Kita pedagang ini bingung kalau harga BBM terus naik. Niaya operasional yang semakin membengkak dan musim hujan yang membuat sayuran rusak membuat kami terus merugi,” pungkasnya. (mg5/fia)