BBM Naik, Ayam Setia di Harga Lama

MALANG – Harga ayam sebelum kenaikan BBM hingga hari ini (23/11) tetap sama yaitu Rp 27 ribu per kilo.  Beberapa penjual ayam di Pasar Blimbing mengaku tidak bisa lagi menaikkan harga ayam karena takut pembeli yang terus berkurang.
Harga normal ayam sebelum wacana kenaikan BBM Rp 25 ribu per kilo. Harga tersebut terus naik sebelum dan sesudah pengumuman kenaikan BBM. Salah satu pedagang ayam, Sri Kandar mengatakan harga ayam tetap pada posisi Rp 27 per kilo dan diperkirakan tidak akan mengalami kenaikan lagi.
“Sebelum kenaikan BBM harga ayam sudah mahal. Hari pertama setelah kenaikan BBM malah semakin mahal. Kalau saat ini harganya cenderung tetap,” ucapnya.
Menurut Kandar, ketika terjadi kenaikan harga pada ayam, pembeli lebih memilih untuk membeli lauk lain seperti telur, tahu dan tempe. Sebelum kenaikan BBM ia mampu menjual hingga 5 kuintal ayam. Namun setelah kenaikan BBM ia hanya mampu menjual 3 kuintal.
“Pembelinya semakin berkurang. Kebanyakan pembeli bukan hanya pemilik warung namun ibu-ibu rumah tangga. Kalau pemilik warung biasanya mengurangi jumlah pembelian dan potongan ayamnya minta dikecilkan,” lanjutnya.
Ia juga mengatakan, saat kenaikan harga ayam, harga telur cenderung turun. Itulah yang membuat pemilik warung lebih banyak membeli telur dibandingkan ayam. Karjo Purwanto yang menjual sayur mayur dan telur mengatakan harga telur saat ini Rp 15 ribu per kilo. Harga tersebut lebih murah dibandingkan seminggu sebelumnya yaitu Rp 16 ribu per kilo.
“Kalau harga telur turun Rp 1000 per kilo. Tapi untuk harga sayur mayur dan cabai mahal. Sama saat hari pertama kenaikan BBM,” ujar Karjo.
Ia mengatakan, harga cabai saat ini tetap pada posisi tertinggi yaitu Rp 55 ribu per kilo. Karjo berjarap kenaikan harga kebutuhan pokok hanya sampai pada titik tersebut. Jika harga terus naik maka akan semakin banyak barangnya yang tidak habis terjual dan menjadi busuk.
“Meskipun harga sayur dan cabai naik masih banyak pembeli yang datang. Namun mereka mengurangi jumlah pembelian sambil mengomel,” tutur Karjo.
Selain itu, Karjo juga menambahkan, harga tomat saat ini terus naik. Dari harga semula Rp 35 ribu per kilo kini menjadi Rp 50 ribu per kilo. Menurutnya, hal itu terjadi karena seringnya terjadi hujan sehingga membuat banyak tomat yang hancur saat proses pengiriman. Ia juga mengatakan biaya operasional yang semakin mahal membuat pedagang sulit untuk menentukan harga.
“Sekarang ini pengeluaran lebih banyak di biaya operasional. Jika kita tidak menaikkan harga maka akan rugi. Tapi kalau dinaikkan pembelinya pada protes. Kita menaikkan harga itu menyesuaikan dengan tingginya biaya operasional yang harus dikeluarkan,” pungkasnya. (mg5/fia)