Tawarkan Investasi di Lahan Kritis

MALANG – Perusahaan pemberdaya dan pelestarian lingkungan, Harfam yang berdiri sejak tahun 2004 itu kembali mengajak masyarakat untuk berinvestasi dalam penyelamatan lahan kritis. Beberapa lahan kritis yang telah digarap diantaranya wilayah Bondowoso dan Situbondo.
Marketing Harfam, Doly Lunardi menjelaskan, investasi tidak hanya bisa dilakukan dengan menyimpan emas atau property. Namun bisa dilakukan dengan ikut merawat lahan kritis salah satunya adalah investasi penanaman pohon jati. Invetasi tersebut, menurut Doly bukan hanya bermanfaat untuk pribadi atau mitra yang bergabung tetapi juga bermanfaat untuk mensejahterakan masyarakat yang tinggal disekitar kawasan konservasi.
“Investasi ini tidak hanya bermanfaat untuk pribadi tapi bisa untuk anak cucu dan masyarakat yang tinggal disekitar lahan kritis. Kenapa seperti itu? Karena pohon jati berperan memberdayakan masyarakat lokal dalam pembuatan hutannya sehingga mampu memberikan kesejahteraan sosial,” ungkap Doly pada Malang Post.
Selain memiliki nilai ekonomis, Doly menjelaskan, tanaman jati juga mampu menyerap karbon, penahan erosi, longsor dan penyimpanan air sehingga mampu menjaga kelestarian lingkungan.
Doly mengatakan, lahan yang digunakan oleh Harfam adalah lahan kritis tidak produktif yang selanjutnya akan dikembangkan menjadi lahan subur dan menjadi aset yang bernilai tinggi. Menurutnya, kebutuhan pasar kayu jati dunia ditentukan oleh trend pasar Asia yang memegang peran lebih dari 90 persen.
“Dari lahan kritis dan tidak produktif itu bisa dijadikan lahan subur yang memilihi aset tinggi karena kebutuhan kayu jati dunia 90 persen itu ditentukan oleh pasar Asia,” ucap Doly.
Menurutnya, demand kayu jati dunia saat ini 90 juta m3 per tahun. Sedangkan hutan jati alami atau konvensinal  hanya mencukupi sebanyak 0.4 juta m3 kayu per tahun dan hutan tanaman mampu menghasilkan 1 sampai 2 juta m3 per tahun. Ia juga mengatakan, produktivitas hutan sangat menurun karena jati yang dipanen berusia 40 hingga 90 tahun sangat sulit ditemui.
“Diprediksi pada tahun 2050 nanti permintaan kayu jati akan meningkat 150 persen dan mencapai 135 juta m3 per tahun. Sebagai gambaran untuk harga kayu jati di berbagai negara dengan kualitas rata-rata berkisar di angka USD $350 hingga $650 per kubik,” terang Doly.
Ia juga mengatakan, ketidakseimbangan supply dan demand dari jati menjadi isu bisnis yang sangat potensial bagi Harfam dan Mitra. Beberapa cara yang dilakukan adalah mengembangkan teknologi pengembangan hutan jati agar cepat tumbuh demi menutupi kekurangan supply jati yang terjadi saat ini dan masa depan.
Mengenai bagi hasil, Harfam menerapkan sistem syariah dimana 50 persen untuk mitra, 40 persen Harfam, 5 persen karyawan Harfam dan 5 persen masyarakat sekitar.
“Seperti yang dijelaskan tadi, hasil investasi bisa dinikmati juga oleh masyarakat sekitar. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan turut membantu pembangunan fasilitas desa seperti akses jalan dan sarana olahraga bagi masyarakat sekitar. (mg5/oci)