Jamu Ujang Kini Jadi Favorit Menteri

BATU – Sejak 2007, Drs Syaiful Hamzah, warga Jalan Semeru Gg II, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Batu mengembangkan usaha jamu. Jamu yang diberi brand Bu Roes ini terus berkembang hingga sekarang. Usaha ini kian besar, setelah Syaiful mendapatkan pinjaman lunak yang diberikan BNI. Saat didatangi oleh BNI kemarin di rumahnya,  Ujang begitu pria ini akrab dipanggil pun bercerita panjang lebar. Dia juga mengucapkan banyak terima kasih kepada BNI yang selama ini sudah memperhatikan dengan memberikan kucuran dana untuk mengembangkan usaha.  
Diceritakan oleh Ujang, usaha jamu ini dibangun setelah dia gagal menjadi pengusaha sepatu dan bunga. Saat itu tahun 2007, dalam kondisi terpuruk Ujang menggali potensi usaha di keluarganya. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya dia mantap menjalankan usaha jamu.
“Tepatnya saya lupa, tapi yang jelas saat memulai usaha saya lebih dulu pamit kepada ibu mertua, yakni bu Mudrikah, atau biasa bu Roes,’’ katanya.
Ibu mertua memperbolehkannya mengembangkan usaha, bahkan untuk bisa belajar meracik dan membuat jamu yang enak, Mudrika meminta Ujang berguru selama 7 hari. “Saat itu saya menuruti, selama tujuh hari saya berguru kepada ibu mertua. Saat berguru itu, saya tidak hanya dibelajari tentang meracik, tapi juga diberikan banyak nasihat atau wejangan,’’ urainya.
Dari situlah, Ujang pun mulai mengembangkan sayap. Uang Rp 8 juta miliknya digunakan sebagai modal usaha. Uang tersebut digunakan berbelanja bahan baku serta tempat. Namun begitu, karena dananya kecil dia pun hanya mampu membeli botol bekas sebagai tempat jamunya. “Botol bekas hanya satu bulan saja, karena setelah itu saya membeli botol baru hingga sekarang, botol yang digunakan mengemas jamu ini semuanya baru,’’ katanya.
Selama menjalankan usaha membuat dan menjual jamu, Ujang tidak pernah merasa minder, bahkan malu. Dan itu terbukti, dia sendiri yang keliling berjualan, baik itu hanya untuk memberikan tester di satu tempat, hingga membuka stand. Imbasnya, seiring sejalan, usaha jamunya berkembang. Tahun 2008 lalu, pria ini mulai memiliki karyawan. “Sekarang sudah ada 22 karyawan, omzet saya perbulan Rp 60 juta,’’ katanya sembari berucap Alhamdulillah sebagai tanda syukur.
Ujang pun mengaku dirinya terbantu oleh BNI. Ketika pada 2013 lalu, perusahaan botol kemasan sedang menggelar diskon. Sementara Ujang tidak memiliki modal lebih. Setelah berpikir panjang, dia pun teringat dengan BNI. “Kebetulan ada teman kerja disana, kemudian saya melakukan sharing, dan akhirnya mengajukan dana pinjaman melalui program KUR,’’ kata Ujang.
Saat itu bapak dua anak ini mengaku meminta bantuan modal Rp 100 juta, bunga 6,3 persen dengan masa pinjaman 2 tahun. Hati Ujang pun berbunga, karena bantuan pinjaman itu cepat cair, bahkan waktunya kurang dari 10 hari. “Uang itu semuanya langsung saya setor ke perusahaan botol kemasan,’’ katanya.
Terkait dengan usahanya, Ujang mengatakan terus berkembang. Jamunya tidak  hanya dikenal di berbagai tempat wisata di Batu, tapi juga sudah banyak. Bahkan, dia juga kerap mendapatkan pesanan, hingga luar daerah. Bahkan, Ujang mengatakan jamunya ini juga pernah menjadi santapan tamu-tamu VIP maupun VVIP. “Menteri, atau tamu-tamu kenegaraan yang datang ke Pemkot Batu, jamu saya ini menjadi andalan Pemkot. Malah, tamu-tamu ini banyak yang cocok dan kemudian membawa pulang,’’ katanya sambil kemudian bersyukur.
Keberhasilan Ujang ini pun bisa menjadi inspirasi banyak orang. Lebih-lebih pria ini juga tidak pelit berbagi, terutama soal pemasarannya. Dari sinilah, yang kemudian membuat pihak BNI tertarik datang, dan mendatangi rumah suami dari Indah Aryati ini.
“Sowan aja, sebagai cerita inspiring,’’ kata wakil Pemimpin Bidang Pembinaan Kantor Layanan BNI Malang S Favourita. (vik/oci)