Rupiah Melemah, IHSG Anjlok

MALANG – Menjelang akhir tahun, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS)terus melemah. Saking tingginya, posisi dolar AS tembus level tertingginya tahun ini sejak dua hari terakhir mencapai Rp 12.892 per dolar AS sebelum akhirnya rupiah menguat ketika mengakhiri perdagangan ke posisi Rp 12.645 per dolar AS.
Sehari sebelumnya, kurs rupiah sudah mencatat rekor dengan menembus Rp 12.705 per dolar AS.  “Dua hari terakhir ini, pelemahan rupiah semakin mendekati level Rp 13.000 per dolar AS,” ujar Pengamat Ekonomi, Kartono.
Dia menyebutkan, kondisi ini merupakan yang tertinggi selama setahun terakhir. Sebagai catatan, di awal tahun nilai tukar rupiah masih di kisaran Rp 12.170 per dolar AS, dan beberapa kali sempat mengalami penguatan di bawah Rp 12.000. Menurut mantan Branch Manager SucorInvest AbdulGani tersebut, nilai tukar rupiah kemarin juga yang paling buruk sejak krisis ekonomi yang terjadi di tahun 2008.
“Jika tidak ada langkah antisipatif dengan segera, Rupiah akan terus bertahan di kisaran Rp 12.700 bahkan bisa melebihi angka Rp 13.000 sebelum akhir tahun ini,” beber dia kepada Malang Post.
Pria yang akrab disapa Nando ini menerangkan, sejatinya pelemahan rupiah ini sudah diprediksi oleh banyak ekonom lain. Pasalnya, kenaikan harga BBM Bersubsidi November lalu turut menjadi faktor yang mempengaruhi tidak stabilnya nilai rupiah. Belum lagi, kondisi ekonomi di AS memang tercatat sedang bagus, sehingga posisi tawarnya terhadap negara lain cukup tinggi.
“Beberapa negara lain juga mengalami pelemahan kurs. Misalnya Malaysia nilai ringgitnya juga melemah terhadap dolar AS,” paparnya.
Sementara itu, di pasar saham pun seharian kemarin juga terimbas tren negatif rupiah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ambruk mencapai 82 poin ke level 5.026 poin. Mengawali perdagangan, IHSG langsung jatuh 0,79 persen ke level 5.067 poin.  “Imbas karena nilai tukar rupiah yang tidak baik sehari sebelumnya,” beber Equity Sales, Agus Prayitno.
Dia menjelaskan, berkat pelemahan rupiah, hampir semua sektor saham mengalami tekanan jual. Hasilnya, investor asing pun terlihat khawatir dan berlomba melepas sahamnya. “Bahkan, tadi sempat terjun 94 poin ke level 5.013 poin,” tegas Agus kepada Malang Post. (ley/han)