500 Investor Bergabung dengan Harfam

MALANG –  Penyelamatan lahan kritis di beberapa kota di Indonesia saat ini mulai dilakukan oleh Harfam. Melalui cara tersebut, produk investasi itu kini bisa mendapatkan 500 investor yang tersebar di seluruh Indonesia.
Supervisor Harfam Rangga Saputra mengatakan, pihaknya sedang melakukan pameran di beberapa kota agar semakin banyak masyarakat yang bergabung. Saat ini lahan kritis yang telah digarap berada di Bondowoso dan Situbondo. Menurutnya, investasi tidak hanya bisa dilakukan dengan menyimpan emas atau property.
”Turut andil dalam merawat lahan kritis dengan melakukan investasi penanaman pohon jati juga bisa dilakukan. Bukan hanya profit pribadi yang didapat namun bisa diwariskan untuk anak cucu dan masyarakat yang tinggal di sekitar lahan kritis,” ungkap Rangga pada Malang Post.
Ia menjelaskan, masyarakat di sekitar area konservasi diberikan kesempatan untuk merawat tanaman sehinga mereka mempunyai pekerjaan tetap. Bukan hanya itu, konsep tumpang sari juga bisa dilakukan oleh warga dan hasil sepenuhnya bisa mereka dapatkan. Pemilihan pohon jati menurutnya karena kebutuhan pasar kayu jati dunia yang semakin bertambah setiap tahun. Selain itu, harga tanaman itu juga tergolong mahal dibandingkan dengan sengon atau yang lainnya. ”Kebutuhan kayu jati dunia 90 persen itu ditentukan oleh pasar Asia sehingga investor tidak perlu takut untuk berinvestasi disini,” terang Rangga.
Rangga menjelaskan, demand kayu jati dunia saat ini 90 juta m3 per tahun. Sedangkan hutan jati alami atau konvensinal hanya mencukupi sebanyak 0.4 juta m3 kayu per tahun dan hutan tanaman mampu menghasilkan 1 sampai 2 juta m3 per tahun. Ia juga menambahkan, produktivitas hutan sangat menurun karena jati yang dipanen berusia 40 hingga 90 tahun sangat sulit ditemui. Penemuan Harfam Biotec 1 (HB1) dan Harfam Biotec 2 (HB2) bisa mempercepat masa panen menjadi 8 tahun.  
“Diprediksi pada tahun 2050 nanti permintaan kayu jati akan meningkat 150 persen dan mencapai 135 juta m3 per tahun. Sebagai gambaran untuk harga kayu jati di berbagai negara dengan kualitas rata-rata berkisar di angka USD $350 hingga $650 per kubik,” ungkap Rangga.
Mengenai bagi hasil, Harfam menerapkan sistem syariah dimana 50 persen untuk investor, 40 persen Harfam, 5 persen karyawan Harfam dan 5 persen masyarakat sekitar. Sementara itu, jenis investasi yang banyak dipilih adalah blok Tetona Park (c) dengan 500 pohon pada 0.5 Ha. Harga tunai paket tersebut Rp 565 juta. Namun Harfam juga menyediakan pembayaran secara kredit tanpa bunga untuk memudahkan investor.
“Untuk memudahkan investor kita juga melayani secara kredit dan itu tanpa bunga. Hingga tiga hari setelah pameran ini kami juga memberikan berbagai hadiah langsung dan voucher belanja,” paparnya.
Menurutnya, harga akan terus naik. Dibandingkan dengan tahun lalu, mulai Januari telah ada kenaikan hingga 10 persen. Hal itu karena harga pupuk dan biaya tenaga kerja yang semakin mahal. (mg5/udi)