Pasca liburan, Hotel Mulai Cooling Down

MALANG – Imbas tahun baru masih dirasakan hingga hari ketiga bulan Januari  dimana okupansi masih menyentuh 80 persen. Namun setelah masa libur usai maka okupansi hotel paling tinggi hanya akan mencapai 50 persen.
Hal itu diungkapkan oleh Public Relation Swiss Belinn Hotel Ires Mariska. Menurutnya bulan Januari hingga pertengahan Maret merupakan low season. Hal itu karena beberapa perusahaan dan pebisnis sedang menyusun anggaran kerjanya. Setelah bulan itu, okupansi hotel akan beranjak naik dan kembali sepi saat bulan puasa namun kembali naik mulai hari raya Idul Fitri hingga memuncak pada akhir tahun. Ketika hotel sepi seperti saat ini pihaknya memanfaatkan waktu untuk melakukan perbaikan dengan memberikan berbagai pelatihan kepada seluruh staff
“Pada Januari hingga pertengahan Maret nanti memang low season. Kami memanfaatkan waktu untuk melakukan training kepada seluruh staff demi meningkatkan pelayanan,” ucap Ires.
Ia menargetkan hingga akhir Januari nanti okupansi bisa mencapai 58 persen. Ires menjelaskan, saat low season tidak akan menggelontor diskon namun memberikan berbagai promo dan tema berbeda setiap bulannya, salah satunya adalah paket wisata. Swiss Belinn Hotel sendiri saat ini telah menggandeng 20 travel agent yang ada di beberapa kota seperti Surabaya, Malang, Semarang, Jogja, Bali dan Jakarta untuk menyukseskan promo tersebut.
“Meskipun low season kami tidak akan memberikan diskon besar-besaran untuk menarik pengunjung. Kami lebih menawarkan paket dan promo wisata agar customer mendapatkan kepuasan tersendiri,” terangnya pada Malang Post.
Public Relations Manager Atria Hotel and Conference Kadek Ayu Ery Ratnawati mengungkapkan hal yang sama dimana pada bulan Januari hingga Maret adalah masa low season. Ia mengatakan, bulan ini Atria tidak bisa menargetkan terlalu tinggi hanya sekitar 45 persen karena memang bukan masa liburan. Berbagai paket untuk menarik untuk menarik pengunjung juga telah disediakan.
“Saat ini kami telah menyediakan berbagai paket menarik agar okupansinya tetap terjaga,” ujar Kadek.
Sementara itu, setelah pemerintah mengeluarkan larangan mengadakan pertemuan di hotel untuk Pegawai Negri Sipil (PNS), Swiss Belinn dan Atria telah membuat rencana baru. Jika dulu hampir 50 persen okupansi berasal dari government, kali ini mereka mengatakan lebih menggenjot pasar corporate dan travel agent.
“Itulah mengapa sekarang kami lebih banyak menggandeng travel agent agar okupansi dari government yang hilang bisa ditutupi,” tambah Kadek.
Ia menjelaskan, okupasi dari sektor travel agent dan corporate termasuk universitas sejak Desember lalu masing-masing 50 persen. Banyaknya mahasiswa yang membuat acara di hotel menjadi nilai tambah. Ia menambahkan, saat ini juga banyak pihak kampus yang melaksanakan seminar dan sosialisasi di hotel.  (mg5/fia)