Saham Bergerak Mixed, IHSG Melemah

MALANG – Hingga hari kedua pada Selasa (5/1) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup dengan pelemahan 34,6 poin atau 0,66 persen dan berada di 5.208,17 pada pukul 12:00 WIB. Hal itu berbeda dengan transaksi terakhir pada Jumat (2/1) lalu yang sempat menguat 16 poin.
Head of Marketing Reliance Securities Venus Kusumawardana mengatakan pelemahan itu terjadi karena harga minyak dunia yang turun sedangkan dolar yang semakin menguat. Hal itu membuat masyarakat lebih memilih mata uang daripada saham. Sementara penurunan BBM bersubsidi di awal tahun diprediksi hanya berdampak positif ke APBN bukan pada membaiknya neraca transaksi.
“Meskipun harga BBM bersubsidi turun namun neraca transaksi saat ini berjalan tetap karena impor migas turun tetapi volumenya tetap,” ucapnya pada Malang Post.
Sementara itu, saham Impack Pratama Industri saat ini menguat 1.000 poin dengan pembukaan Rp 5.275 per saham dan ditutup Rp 6100 per saham. Mayora juga mengalami pengutan 625 poin dengan harga terakhir Rp 21.925 per saham dari harga pembukaan Rp 21.300 per saham. Blue Bird juga menguat menjadi Rp 9700 per saham. Perusahaan telekomunikasi Indosat menguat 80 poin dengan harga awal Rp 4120 per saham dan ditutup Rp 4200 per saham.
“Setiap ada saham yang turun maka pasti ada yang naik. Itu memang selalu terjadi agar tetap balance,” lanjutnya.
Ia juga memberikan data saham beberapa perusahaan yang turun seperti PT Gudang Garam Tbk (GGRM).  Harga saat pembukaan Rp 61 ribu turun menjadi Rp 60.750 dengan -1.050 poin. Tidak hanya itu, H.M. Sampoerna Tbk yang dibuka Rp 67.650 merosot -400 poin dengan harga terakhir Rp 67.525 ribu.  Sedangkan Indofood CBP Sukses Makmur juga mengalami penurunan -275 poin. Pada saat dibuka harga saham perusahaan itu Rp 13.100 namun pantauan terakhir menjadi Rp 12.875.
“IHSG bergerak mixed cenderung melemah pada perdagangan hari ini (kemarin). Pasar Eropa ditutup mix dan pasar Amerika ditutup cenderung flat pada akhir pekan kemarin. Musim liburan akhir tahun masih membuat pergerakan pasar tidak banyak berubah,” tutur Venus.
Pria ramah ini menjelaskan, secara teknikal IHSG bergerak menuju area upper bollinger band dan resistance di level 5250 dengan Indikator Stochastic yang bergerak jauh diatas area jenuh beli. Indikator RSI juga terlihat mulai menjenuh sehingga berpeluang terjadi koreksi pada perdagangan selanjutnya.
“Diprediksikan IHSG akan bergerak mixed cenderung tertekan dengan range pergerakan 5200-5265,” tambahnya.
Ia menambahkan, keputusan Amerika untuk membanjiri pasar dengan shale oil-nya diperkirakan dapat menekan perekonomian Rusia dan Venezuela sebagai produsen minyak yang dirugikan oleh menurunnya harga komoditas tersebut. Investor kini sedang menantikan hasil pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB) pada 7 Januari mendatang.
“Untuk dalam negeri, industri manufaktur diharapkan untuk terus berkembang agar semakin siap untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada akhir tahun ini,” pungkas dia. (mg5/fia)