Perisay Seriusi Asuransi Sektor Properti

MALANG - PT. Asuransi Bintang Tbk tahun 2015 ini semakin meningkatkan pelayanan dalam produk unggulannya yaitu Perisay Rumah. Hampir 45 persen perusahaan itu fokus pada asuransi properti dan sisanya merupakan asuransi kendaraan, kecelakaan hingga kesehatan.
Marketing Asuransi Bintang, Imawan Ferianto mengatakan Perisay Rumah merupakan jaminan perlindungan terhadap risiko kerugian karena beberapa faktor seperti banjir, penjarahan, pencurian, terorisme hingga sabotase. Selain itu, asuransi itu juga menjamin risiko pembongkaran, tanggung jawab hukum terhadap pihak ketiga hingga biaya pengobatan atas kecelakaan yang terjadi di lingkungan rumah.
“Apabila terjadi risiko kerusakan rumah atau kehilangan sebagian isinya maka ganti rugi dari Perisay Rumah akan penuh dan cukup untuk membeli barang yang hilang kembali tanpa dipotong biaya penyusutan,” terang Imawan pada Malang Post.
Imawan menjelaskan, pembayaran asuransi Perisay Rumah harus dilakukan di awal secara lunas. Harganya tergantung dari luas bangunan. Sementara untuk kendaraan bisa melakukan pembayaran mulai Rp 3 juta hingga Rp 4 juta per tahun. Ia mengatakan, hingga Januari 2015 telah tercatat sebanyak 2000 pemegang polis dan 1000 customer yang telah menggunakan kedua jenis asuransi itu.
“Kendaraan yang bisa diasuransikan di sini hanya mobil. Kalau bus dan truk itu tidak bisa masuk,” lanjutnya.
Sementara itu terkait premi, Imawan mengatakan saat ini pihaknya tidak bisa sembarangan dalam menentukan prosentase minimal. Hal itu terjadi karena Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengatur batas minimal premi yaitu 3 persen. Ia menyambut baik terkait peraturan yang telah berjalan hampir satu tahun itu.
“Ketika sudah ada peraturan tentang tarif premi minimal yang telah ditentukann oleh OJK itu maka persaingan antar perusahaan asuransi bisa lebih sehat dibandingkan sebelumnya,” ucap Imawan.
Di lain tempat, Kepala Kantor OJK Malang Indra Krisna mengatakan tarif premi asuransi serta ketentuan biaya akuisisi yang berlaku sejak 24 Januari 2014 berlaku untuk seluruh lini usaha asuransi kendaraan bermotor dan harta benda, serta jenis risiko khusus meliputi banjir, gempa bumi, letusan gunung berapi, dan tsunami yang diatur dalam Pasal 20 PP Nomor 73 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian.
“Selain PP ada juga Keputusan Menteri Keuangan Nomor 422/KMK.06/2003 Pasal 19, bahwa premi harus dihitung berdasarkan profil kerugian (risk and loss profile) selama sekurang-kurangnya lima tahun,” papar Indra.
Ia menjelaskan, surat edaran itu mengatur penetapan batas atas dan batas bawah tarif premi, kecuali untuk asuransi gempa bumi. Tarif batas atas ditetapkan dengan tujuan melindungi kepentingan masyarakat dari pengenaan premi yang berlebihan. Sedangkan penetapan tarif batas bawah untuk mencegah tarif premi tidak memadai yang dapat menyebabkan perusahaan asuransi tak mampu membayar kewajibannya saat terjadi klaim.
“Kalau tidak diatur seperti itu perusahaan asuransi akan berlomba untuk memberikan premi yang sangat kecil. Namun pada saat terjadi klain mereka tidak mampu membayar. Jika hal seperti itu terjadi yang dirugikan juga msayarakat,” pungkasnya.(mg5/fia)