Batik Mega Mendung Diklaim Turki

MASYARAKAT Indonesia dihebohkan kabar bahwa Turki mengklaim motif batik mega mendung, seperti ramai pada media sosial. Hal ini turut mengundang perhatian desainer Yosafat Dwi Kurniawan.
Yosafat Dwi Kurniawan, desainer yang mengangkat batik Mega Mendung di Paris Fashion Week, mengatakan bahwa klaim tersebut belum bisa dibuktikan kebenarannya. Pasalnya, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari otoritas Turki.
"Setahu aku, tekstil turki itu tidak ada kemiripan dengan Indonesia. Mereka lebih (produksi) karpet. Jadi, bukan orang Turki yang usil," katanya seperti dikutip dari Okezone.
Yosafat menambahkan, jika blus dilabeli ”Turki Limited Edition”, bisa saja merupakan bagian dari strategi pemasaran butik Mark Spencer di Champ Elysees Paris, Prancis. Dia menilai wajar karena butik tersebut tidak tahu jika busana yang ditawarkannya memiliki motif asli Indonesia.
"Kita tidak boleh menyalahkan luar negeri terus. Mungkin saja mereka tidak tahu, lantas disebut Turki. Kalau di Eropa itu marketing strategy. Penambahan label Turki bisa saja agar lebih terdengar eksotis," terangnya.
Lebih lanjut, Yofasat menegaskan pentingnya sosialisasi terhadap budaya lokal. Tujuannya agar masyarakat internasional bisa lebih menghargai dengan apa yang Indonesia miliki.
"Jadi, tugas kita yang harus memberi edukasi tentang karya lokal. Kita juga harus lebih agresif dalam promosi," tutupnya.
Para pengguna media sosial di Indonesia tengah ramai membicarakan batik mega mendung. Semua berawal dari Path, di mana seorang netizen bernama Inggrid mem-posting sebuah foto butik yang memajang blus batik.
Blus batik berwarna biru gelap tersebut memiliki motif mega mendung. Yang menjadi bahan pembicaraan yang ramai di kalangan netizen, blus tersebut diberi label tulisan "Turki Limited Edition". (okz/oci)