Kenaikan Tarif Batas Bawah

MALANG - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) secara resmi menaikkan tarif batas bawah untuk tiket penerbangan sesuai Peraturan Menteri Perhubungan nomor 91 Tahun 2014. Aturan tarif baru ini hanya berlaku untuk penerbangan dalam negeri dan sudah ditandatangani Menteri Perhubungan Ignasius Jonan pada 30 Desember 2014.
Staf Khusus Menteri Perhubungan, Hadi M Djuraid menjelaskan, selama ini batas bawah yang diberlakukan dalam bisnis penerbangan nasional adalah 30 persen dari tarif batas atas. Jika tarif Jakarta-Surabaya Rp 1 juta, maka batas bawahnya Rp 300.000. Namun, masih ada celah bagi maskapai untuk memberlakukan harga lebih rendah tarif bawah. "Ada klausul yang menyebut maskapai boleh mengajukan tarif di bawah itu sehingga jor-joran di bawah 30 persen sangat banyak," ujar Hadi di kantornya, Jakarta.

Keputusan Kemenhub yang akan mengeluarkan peraturan tentang tarif batas bawah bagi maskapai mendapat sambutan beragam. Travel agent mengaku akan ada penurunan minat perjalanan wisata group, sementara dari maskapai mengakui bisa mengurangi persaingan promo harga yang terkadang tidak rasional.
District Manager Sriwijaya Air Malang, M. Yusri Hansyah menyambut antusias dari peraturan tersebut. Sebab selama ini beberapa maskapi sangat menantikan keputusan adanya batas bawah dalam sebuah peraturan. Sehingga aksi jor-joran maskapai dalam memberikan harga tiket yang murah bisa lebih terjaga.
“Ya ini yang sangat ditunggu. Sebab, dengan tidak adanya tarif batas bawah, kemungkinan terjadi persaingan tidak sehat untuk mendapatkan penumpang sangat besar,” beber dia.
Yusri menuturkan, besaran tarif yang diwacanakan 40 persen dari tarif batas atas pun sangat pas. Dia mencontohkan, bila rute Malang–Jakarta memiliki tarif batas atas sebesar Rp 1,3 juta maka tarif batas bawahnya di kisaran Rp 500 ribuan. Masih sangat terjangkau dan tidak memberatkan budget penumpang. Dari sisi maskapai, harga ini sangat rasional bila dirujuk dengan cost yang mesti dikeluarkan oleh maskapai dalam sekali perjalanan.
Pria berkepala plontos ini menyampaikan, langkah tersebut mesti mendapat dukungan dan segera diresmikan. Yang paling utama, dari keputusan ini bisa menjaga persaingan yang sehat antar maskapai dan tidak ada lagi harga yang jomplang ketika berada di masa promo. “Apalagi ketika masa high season banyak maskapai menggunakan tarif batas atas, tidak terlihat perbedaan harga yang mencolok. Selain itu, dengan harga yang wajar mutu pelayanan kepada penumpang pun dijamin maksimal,” tandas dia.
Tour Operator Misama Gatharia Travel Andika Yudha menyebutkan, pasti ada efeknya bila peraturan terbaru ini diresmikan. Salah satunya, mengurangi minat perjalanan wisata. “Pasti ada pengaruhnya bagi bisnis travel yang sering memaksimalkan masa promo dari maskapai,” sebutnya.
Menurutnya, saat ini tinggal menunggu kepastian dari peraturan tersebut. Selain itu, dia mengakui masih belum memahami bagaimana regulasinya. Sebab, tarif batas bawah itu dibandingkan dengan kelas yang mana. “Setiap maskapai memiliki beberapa kelas. Selain itu, tiap tujuan penerbangan, tarif batas atasnya kan juga berbeda,” papar dia panjang lebar.
Untuk itu, travel agent pun kini masih menunggu kejelasan peraturan dan kapan mulai diaplikasikan. Saat ini, penyelenggara perjalanan wisata masih belum mendapat instruksi apapun sehingga belum merasa khawatir. “Kecuali bila sudah dijalankan dan kami tahu efek yang ditimbulkan, baru bisa memikirkan strategi untuk kestabilan bisnis ke depan,” imbuhnya.
Terpisah, Owner QA Holiday Travel Kiky Andika mengakui, pasti ada efeknya dari peraturan terbaru. Yang paling jelas, minat traveler dipastikan berkurang begitu mengetahui budget perjalanan wisata meningkat. “Untuk saat ini memang belum bisa dipastikan berapa besar jumlah penurunannya. Tunggu saja pengesahannya,” ujarnya ketika dikonfirmasi Malang Post. Meski sudah ada peraturan Kemenhub, saat ini maskapai memang belum menerapkan ketentuan tersebut, mereka masih menunggu turunnya SK secara resmi.
Kiky menyebutkan, hal itu menjadi tantangan bagi bisnis perjalanan wisata. Tinggal bagaimana untuk memaksimalkan sektor lain. Dia pun menambahkan, untuk keperluan bisnis, berapapun harga tiketnya, pasti juga tetap dibeli oleh calon penumpang. Dia memprediksi, yang akan merasakan pemberlakuan batas bawah yang berujung pada kecilnya besaran promo dari maskapai merupakan traveler. Penumpang tipe itu yang paling memanfaatkan harga promosi ketika ingin berwisata.
Januari hingga pertengahan Maret merupakan masa low season untuk wisata, Owner The Holiday Travel Yoshita Anggrahini mengatakan jelas terdapat perbedaan penjualan tiket antara akhir tahun saat banyak hari libur dibandingkan dengan awal tahun.
 “Bulan Januari memang sepi karena memang masanya low season. Jadi berkurangnya jumlah traveler saat ini tidak dipengaruhi oleh peraturan Kemenhub tentang batas atas tiket pesawat itu,” terangnya pda Malang Post.
Travel agent yang bekerjasama dengan PJTKI itu menjelaskan, meskipun harga tiket pesawat semakin mahal tidak mempengaruhi jumlah TKI keluar negri karena itu merupakan kebutuhan. Menurut Yoshi saat ini yang menggunakan jasa transportasi udara itu lebih banyak dari kalangan pebisnis.
“Untungnya kita juga bekerjasama dengan PJTKI, jadi meskipun harganya mahal mereka tetap beli karena merupakan kebutuhan,” lanjuntnya.
Sementara itu, Ticketing Wisata Lintas Benua Diva Winda mengatakan jika dibandingkan dengan akhir tahun dan hari libur terdapat perbedaan pembeli hingga 70 persen. Di hari biasa seperti saat ini pihaknya hanya bisa menjual antara 10 hingga 20 tiket setiap hari. Sama seperti yang diungkapkan Yoshi, Diva mengatakan, saat low season hanya pebisnis yang menggunakan pesawat.
“Meskipun harga tiket pesawat mahal para pebisnis akan tetap membelinya. Peraturan Kemenhub itu tidak bisa dirasakan saat ini. Mungkin nanti saat high season pada April baru kita bisa membandingkan apakan ada penurunan atau tidak,” tutur Diva.
Diva menambahkan, untuk pengusaha travel dengan pangsa pasar para pebisnis, korporasi dan pemerintahan, kenaikan harga tiket tidak akan berpengaruh karena mereka lebih mengutamakan pelayanan daripada harga murah. Kebijakan tersebut hanya akan berdampak pada travel agent yang  menjual paket perjalanan dengan harga murah.
“Saat ini, pesawat bukan lagi menjadi barang mewah tapi kebutuhan saat melakukan perjalanan terutama bisnis. Ketika melakukan perjalanan jarak jauh, mengguankan pesawat lebih efisien jika dibandingkan dengan transportasi darat meskipun harganya lebih mahal,” pungkasnya. (ley/mg5/han)