OJK Siap Menampung Pengaduan Keluarga Korban Air Asia

MALANG – Pembayaran asuransi kepada korban yang masih simpang siur atas tragedi kecelakan pesawat AirAsia QZ8501 membuat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turun tangan menangani kasus tersebut. Meskipun tidak membuka posko pengaduan, OJK Malang mengaku siap menerima informasi dan pengaduan keluarga korban.
Kepala Kantor OJK Malang Indra Krisna mengatakan, posko pengaduan OJK saat ini hanya ada di Surabaya. Namun pihaknya tetap membuka ruang pengaduan bagi keluarga korban yang tinggal di wilayah Malang. Perlu diingat, sebanyak 39 warga Kota dan Kabupaten Malang menjadi korban dalam tragedi jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501. “Meskipun tidak membuka posko, namun OJK Malang membuka ruang pengaduan bagi keluarga korban. Pengaduan tersebut akan kami teruskan ke OJK Surabaya sehingga keluarga korban tidak perlu repot untuk pergi keluar kota,” kata Indra Krisna pada Malang Post, kemarin.
Terkait klaim asuransi yang sampai saat ini belum menemukan titik terang karena alasan penerbangan ilegal, Indra menegaskan bahwa seluruh perusahaan asuransi yang berkaitan dengan klaim kecelakaan pesawat harus membayar asuransi tersebut. Untuk melancarkan hal itu, OJK Malang telah bekerjasama dengan pemerintah Kota Malang. “Hari Jumat lalu, kami sudah berbicara dengan pihak Pemkot. Rencananya Senin ini kami akan bertemu lagi untuk membahas hal tersebut agar masalah asuransi bisa terselesaikan,” lanjutnya.
Menurutnya, dalam musibah kecelakaan pesawat, secara umum terdapat kompensasi yang dilakukan melalui mekanisme asuransi yang meliputi tiga hal, yaitu kerugian atas badan dan mesin pesawat, jiwa penumpang dan kerugian pihak ketiga baik barang maupun jiwa. Pihak asuransi yang terlibat adalah PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) yang melakukan koasuransi dengan PT Asuransi Sinar Mas.
“Klaim Asuransi tetap harus dibayar. Namun kami masih melakukan investigasi terkait siapa ahli warisnya. Ada satu keluarga yang menjadi korban dalam kecelakaan tersebut sehingga kami masih melakukan pendataan untuk menentukan siapa ahli warisnya,” papar Indra.
Ia menambahkan, AirAsia diketahui juga bekerja sama dengan PT Asuransi Dayin Mitra Tbk dengan memberikan perlindungan melalui asuransi perjalanan bagi penumpang yang sudah membeli asuransi perjalanan melalui AirAsia. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: PM 77 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara dijelaskan bahwa penumpang pesawat berhak mendapatkan pergantian kerugian.
“Penggantian kerugian itu nilainya maksimal sebesar Rp1,25 miliar per orang, jika kondisinya meninggal dunia atau cacat total. Nah ini kan sudah jelas kalau korban meninggal dunia sehingga tidak ada alasan bagi pihak asuransi untuk tidak membayar kewajibannya itu,” tutur Indra.
Indra menjelaskan, penumpang tetap memiliki hak untuk mendapatkan penggantian sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Ia juga mengatakan kembali, meskipun penerbangan ilegal bukan alasan bagi pihak asuransi untuk lari. “Dalam kasus ini penumpang tidak bersalah. Semua me­mang menunggu keputusan pemerintah. Tapi yang jelas, OJK berpendapat bahwa klaim tetap dibayar oleh perusahaan asuransi. Penumpang tetap mendapat hak penggantian sesuai ketentuan yang berlaku. Sebab, itulah fungsi asuransi,” beber Indra.
Indra juga mengatakan belum bisa menentukan kapan waktu selesainya proses asuransi itu karena sampai saat ini sedang melakukan verifikasi data ahli waris yang berhak menerima, sehingga tidak ada pihak yang memanfaatkan situasi ini dengan mengaku sebagai ahli waris. (mg5/udi)