Harga Daging Sapi Tembus Rp 120 Ribu

MALANG – Harga daging sapi di beberapa pasar tradisinal seperti Pasar Besar dan Pasar Blimbing terus mengalami kenaikan. Kini harga daging sapi berada pada posisi Rp 120 ribu per Kg.
Salah satu penjual daging sapi yang ada di Pasar Besar Hj.Umi Djazuli mengatakan, kenaikan harga sapi telah terjadi sejak tahun 2014 ketika harga BBM naik. Namun kini setelah harga BBM turun, harganya justru semakin mahal karena stok yang menipis.
Hal itu karena kebijakan pengetatan izin impor daging sapi beku (frozen meat) yang dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) pada awal Januari 2015.
”Kalau dulu harga daging sapi mahal karena BBM naik. Tapi mulai awal tahun ini karena stok dagingnya berkurang,” ucapnya.
Ia mengungkapkan, setiap hari  terjadi kenaikan hingga Rp 3000 per Kg. Untuk daging sapi kualitas bagus atau bagian lulur dalam harganya saat ini Rp 120 ribu per Kg atau naik Rp 30 ribu dibandingkan posisi Desember 2014 yang seharga Rp 90 ribu per kg. Untuk daging jenis sirloin harganya saat ini berkisar Rp 90 ribu per kg hingga Rp 100 ribu per kg.
”Setiap bagian daging sapi itu harganya berbeda. Paling mahal ya lulur dalam, kalau yang paling murah itu jenis tetelan harganya Rp 60 ribu per kg,” lanjutnya.
Ia juga telah mendapatkan surat edaran dari Himpunan Pengusaha Muslim Indonesia Seksi Jagal (HPMISJ) Kota Malang mengenai kenaikan harga yang terjadi. Ketika dilihat oleh Malang Post, surat tersebut telah disebar pada Desember 2014. Isinya juga mengenai kenaikan harga sapi Rp 3000 per kg.
”Ini suratnya memang sudah ada sejak Desember tahun lalu. Isinya tentang harga daging sapi yang naik karena BBM yang juga naik. Tapi kalau untuk kenaikan harga karena kebijakan impor itu kita belum dapat,” terang Umi.
Stok daging sapi memang menjadi faktor utama naiknya harga. Hal itu juga diungkapkan oleh pedagang Pasar Blimbing, Erfan Efendi. Ia mengungkapkan, awal tahun ini semakin membuat pedagang sapi kebingungan untuk menentukan harga. Selain itu, naiknya Tarif Dasar Listrik (TDL) di awal tahun juga menjadi faktor mahalnya harga daging sapi.
”Sudah stok menipis, TDL juga naik. Itu yang membuat harga daging sapi semakin mahal. Jika dulu kita dapat pasokan dari Australia sehingga stok masih aman. Sekarang sepertinya sudah tidak ada,” terangnya.
Meskipun tidak ada dampak berkurangnya pembeli daging sapi karena sudah mempunyai pelanggan tetap, namun ia tetap berharap agar pemerintah memberikan solusi atas stok yang semakin menipis. Menurutnya, dalam sehari ia mampu menjual sebanyak 100 kg daging sapi. Jika harganya lebih murah mungkin dirinya bisa menjual lebih banyak.
”Pembeli lebih banyak dari kalangan pengusaha kuliner yang sduah langganan di sini. Kalau dari kalangan keluarga untuk konsumsi pribadi itu sangat sedikit. Jika harganya murah pasti masyarakat semakin banyak yang beli,” pungkasnya. (mg5/fia)