Garuda Kepakkan Sayap ke Pasuruan

MALANG POST – PT Garuda Indonesia (Garuda) mengawali 2015 dengan melakukan ekspansi layanan penjualan tiket ke Pasuruan. Pembukaan kantor layanan Garuda Indonesia Pasuruan digelar Senin (12/1) malam.
Manager Gerai Garuda Pasuruan Arief Wibisono menyebutkan, pangsa pasar Garuda di Kabupaten Pasuruan dan Kota Pasuruan sangat besar sekali. Selama ini, pangsa pasar di Pasuruan belum digarap secara intensif.
‘’Penjualan dari Pasuruan hanya mengandalkan sistem online saja. Atau mungkin lewat biro perjalanan. Makanya, mulai 2015, kita coba untuk penetrasi pasar secara maksimal,’’ kata Arief.
Ia menjelaskan, Garuda akan memaksimalkan menggarap kekuatan 80 industri besar di Pasuruan, utamanya di kawasan PIER (Pasuruan Industrial Esteta Rembang). Selain itu, kekuatan pasar dari pemerintahan juga dieksplorasi kekuatannya.
‘’Sedang untuk penjualan grup, kita akan garap warga Pasuruan yang dikenal cukup agamis. Misalnya, penawaran perjalanan umroh. Karena Garuda sudah memiliki rute penerbangan Surabaya-Jeddah,’’  ujarnya.
Ari8ef menuturkan, potensi pasar Pasuruan dan sekitarnya diharapkan bisa memberi kontribusi penjualan sedikitnya Rp 1 miliar per bulan. Saat ini, omzet penjualan tiket dari Pasuruan dikisaran Rp 500 juta sampai Rp 700 juta per bulan.
Vice President Domestic Region 3 Garuda Indonesia Ary Suryanta menambahkan, potensi bisnis penerbangan di Jawa Timur masih sangat menjanjikan. Di Malang misalnya, load factor (tingkat isian penumpang di pesawat) rute Malang – Jakarta selalu tinggi.
Sayangnya, infrastruktur bandara belum memungkinkan maskapai melakukan ekspansi bisnis dengan cara penambahan frekuensi, salah satunya terkendala kurangnya fasilitas Instrument Landing System (ILS).
‘’Kita sudah lama ingin menambah frekuensi penerbangan, misalnya Malang-Jakarta. Tapi, sampai sekarang tidak bisa dipenuhi,’’ kata Ary kepada Malang Post usai pembukaan Gerai Garuda di Pasuruan, Senin malam.
Dikatakan Ari, ILS di bandara perlu ditambah karena kondisi cuaca di Malang tidak seperti di daerah lain di Indonesia. Jam terbang pesawat dari Abdurahman Saleh baru bisa dimulai dikisaran pukul 09.00 WIB hingga maksimal pukul 15.00 WIB.
‘’Kalau terbang di bawah jam 09.00 cuacanya terkadang masih kabut. Begitu juga jika terbang di atas jam 15.00, kondisinya hampir sama. Otomatis banyak peluang bisnis yang tidak bisa ter-cover,’’ paparnya.
Padahal, lanjut Ary, animo masyarakat Malang Raya berpergian ke Jakarta di bawah jam 09.00 sangat banyak. Keinginan itu tidak bisa dipenuhi maskapai penerbangan karena jarak pandang pilot sangat terbatas.
Ary menyebutkan, Garuda sebenarnya ingin melayani penerbangan Malang-Jakarta mulai pukul 06.00 seperti yang dilakukan di Bandara Juanda Surabaya. Karena, jika warga Malang bisa berangkat pagi-pagi ke Jakarta tidak perlu dari Surabaya.
‘’Dan kita memang sudah ngajukan tambahan frekwensi tapi kayaknya di blok sama Lanud. Maskapai lain juga begitu, banyak yang ingin nambah juga mengalami nasib sama,’’ katanya dengan menyebut sekitar 7 penerbangan potensial hilang karena ILS kurang memadai.
Menurut dia, maskapai penerbangan tidak memiliki opsi atau kekuatan lain untuk memaksakan kehendaknya. Sebaliknya, peran pemegang otoritas bandara dan dukungan pemerintah Malang Raya sangat dibutuhkan.
‘’Kami yakin, kalau slot Malang-Jakarta bisa ditambah tentu multi efeknya akan banyak. Apalagi, Malang dikenal sebagai daerah pariwisata. Bayangkan kalau jam penerbangan dari Singapura bisa di-chain dengan penerbangan dari dan ke Malang di pagi hari, industri wisata bisa lebih besar lagi,’’ katanya.(has/fia)