PT Reliance Securities Akusisi Bank Kesejahteraan Ekonomi

MALANG - PT. Reliance Securities sejak 8 Januari lalu  telah resmi sebagai pemegang saham Bank Kesejahteraan Ekonomi (BKE) sebanyak 20 persen. Saham tersebut didapatkan setelah melakukan investasi Rp 60 miliar. Dalam waktu dekat, RELI berniat untuk menjadi pemegang saham pengendali hingga angka maksimum yang diperbolehkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yaitu 40 persen kepemilikan saham.
Info tersebut didapatkan dari Manager Marketing PT Reliance Cabang Malang Venus Kusumawardana. Di tahap awal, RELI telah disetujui oleh OJK untuk berinvestasi Rp 60 miliar.
Rencana kepemilikan saham hingga 40 persen menandakan bahwa RELI akan menjadi pemegang saham terbesar dan akan menjadi pengendali di bank tersebut.
“Semua saham yang diterbitkan untuk RELI adalah saham baru dan tidak ada pemegang saham yang ada menambah kepemilikan atau menjual saham mereka,” ucap Venus.
Untuk kepemilikan 20 persen saham di BKE Venus mengatakan menggunakan uang kas RELI. Para pemegang saham yang ada dengan suara bulat telah menyetujui masuknya RELI sebagai pemegang saham baru melalui RUPSLB pada tanggal 10 Desember 2014. OJK sendiri telah memberikan persetujuan resmi efektif pada tanggal 29 Desember 2014.
Ia mengatakan, BKE merupakan bank umum yang fokus terhadap layanan keuangan dan kesejahteraan pegawai pemerintah dan keluarga mereka. Pemegang saham BKE saat ini termasuk Induk Koperasi Pegawai Republik (IKPRI), PT. Recapital Advisors dan PT. Taspen. Perusahaan induk dari Reliance Securities yaitu Reliance Capital Management (RCM), penambahan BKE menandakan pencapaian tujuan jangka panjang strategis dari RCM untuk menjadi lembaga jasa keuangan yang lengkap atau dalam istilah sederhana, supermarket keuangan, pada tahun 2015 ini.
“Melalui tiga pilar utama usahanya, RCM menawarkan solusi keuangan lengkap meliputi investasi (pialang sekuritas dan manajemen aset), perlindungan (kesehatan, asuransi umum dan jiwa) dan pembiayaan (multifinance dan sekarang perbankan),” tutur Venus.
Dalam 10 tahun terakhir, lanjutnya, RCM telah secara aktif mencari bank yang sesuai dengan model bisni segmentasi pasar massal. BKE tersebut, menurutnya dapat menciptakan sinergi yang maksimal dan membantu segmen menengah kebawah untuk mencapai harapan dan impian keuangan mereka.
“Ini adalah segmen pasar yang sangat menarik di era baru Indonesia,” lanjutnya.
Terkait fokus utama BKE di pasar ritel dan pasar massal seperti pegawai pemerintah. Bersama dengan IKPRI dan PT. Taspen sebagai pemegang saham, diharapkan Reliance dapat memberikan layanan tidak hanya untuk pegawai negeri yang aktif, tetapi juga untuk pensiunan pegawai negeri.
“Ini adalah potensi pangsa pasar yang menarik dengan populasi total gabungan sekitar 4,5 juta karyawan aktif dan pensiunan dengan pendapatan yang stabil,” ujar Venus.
BKE sendiri didirikan pada tahun 1992 oleh Prof Sumitro Djojohadikusumo, arsitek utama kebijakan ekonomi Indonesia, ketika ia menjadi Ketua IKPRI. Pada akhir tahun 2013, BKE memiliki aset sebesar Rp. 3.025 triliun dan ekuitas pemegang saham sebesar Rp. 304 miliar. Saat ini BKE memiliki total 13 kantor cabang utama dan pembantu. Dan melalui kemitraan dengan IKPRI, cakupan BKE mencapai semua 34 provinsi di Indonesia dan memiliki akses ke lebih dari 10.000 koperasi dan 1,8 juta anggota pegawai negeri di seluruh Indonesia. (mg5/fia)