IHGM Siapkan Sertifikasi Bagi General Manager Untuk Hadapi MEA

MALANG - Indonesia Hotel General Manager (IHGM) bersiap untuk menghadapai Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dengan merencanakan adanya sertifikasi. Hal itu penting dilakukan agar General Manager (GM) asli Indonesia mampu bersaing dalam menghadapi MEA.
Advisor IHSG yang juga sebagai Chief Operating Officer Parador Hotels and Resorts Ricky Theodores mengatakan saat ini belum semua GM bersertifikasi. Banyak dari GM tidak memiliki background perhotelan melainkan dari perusahaan. Latar belakang GM dari marketing finance menurutnya juga dibutuhkan. Ia juga mengatakan, keinginan pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 6 persen merupakan hal yang baik bagi bisnis perhotelan. Catatan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) pada tahun 2012 hingga 2014 terdapat 600 hotel baru.
“Dalam 1 hotel memerlukan 1 GM maka peluang untuk menjadi GM juga sangat besar. Tapi  yang perlu diingat adalah kualifikasi mengenai kualitas dari GM yang akan dipilih. Itulah mengapa perlu adanya serftikasi,” tutur Ricky.
Menurutnya, ketika MEA nanti bukan hanya industri atau jual beli barang yang mudah masuk ke Indonesia, namun juga akan ada supervisor, chef dan GM luar yang akan menggeser masyarakat dalam negri. Hal itu juga akan membuat persaingan juga semakin ketat.
“Kita harus sudah siap dalam menyambut MEA. Jika sudah ada sertifikasi maka dipastikan kualitas GM Indonesia tidak akan kalah dengan yang dari luar,”  lanjutnya.
Penetapan sertifikasi GM tersebut nantinya akan dibuat oleh
Ricky mengatakan, di Tanggerang, hotel berbintang 3,4 dan 5 pada tahun 2010 hanya ada 3. Namun pada tahun 2014 meningkat  menjadi 21 hotel. Perkembangan bisnis hotel itulah yang menjadi fokus para GM untuk bisa bersaing tidak hanya dengan orang dalam negri. Ia juga menegaskan, orientasi calon GM harus diubah.
“Menjadi GM itu minimal harus memiliki pengalaman kerja di hotel minimal 8 hingga 11 tahun. Sehingga dia akan tahu bagaimana mengelola hotel secara bijak. Tidak hanya memikirkan masalah uang dan pendapatan,” terangnya.
Untuk melaksanakan hal itu, Parador Hotels and Resorts sendiri saat ini telah bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Perhotelan Bandung (STPB) untuk mencetak generasi GM yang berkompeten. Ricky juga menambahkan, orang-orang dari dalam organisasinya akan diberikan kesempatan untuk menempuh pendidikan itu. Namun tetap terikat dalam kontrak kerja.
“Kami memanfaatkan orang-orang dalam untuk kemudian disekolahkan sehingga ketika lulus nanti mereka bisa mengembangkan bisnis ini,” tambahnya.
Di tahun 2015 ini, terdapat 7 ekspansi Parador Hotels and Resort yang tersebar di beberapa kota seperti Semarang sebanyak 2 hotel, 2 di Surabaya, Tanggerang, Jogja dan Lampung. Sedangkan pada tahun 2016  nanti juga akan menambah 4 hotel dimana masing-masing berada di Timika, Bali dan 2 di Jogja.
“Lebih banyak hotel bintang 3,”  ucapnya.
Ricky juga menyebutkan, investasi per kamar untuk hotel bintang 3 mencapai Rp 600 juta. (mg5)