Ganti CEO, Mulai Hadirkan Menu-menu Sehat

McDonald’s mengumumkan Briton Steven Easterbrook sebagai chief executive officer baru. Easterbrook menghadapi banyak pekerjaan rumah, terutama soal perbaikan citra perusahaan. "Perusahaan terus berubah secara agresif. Meski itu butuh waktu, khususnya bagi para konsumen di seluruh dunia," ujar Easterbrook sebagaimana dikutip dari The Guardian.

Easterbrook memulai karier di McDonald’s London pada 1993. Delapan tahun berikutnya, karier Easterbrook melonjak hingga menjadi manajer restoran Inggris bagian utara. Sebelum menjadi CEO, Easterbrook adalah bekas bos perusahaan kawasan Eropa pada 2010. Di kawasan ini, terdapat lebih dari 7.000 restoran cabang yang tersebar di 39 negara.
Sebelumnya, bos perusahaan makanan cepat saji raksasa, Don Thompson, mengundurkan diri pada Kamis, 29 Januari 2015. Don dianggap gagal mengangkat pendapatan perusahaan yang turun hingga 15 persen pada 2014.
Turunnya pendapatan disebabkan perusahaan McDonald’s sulit mengubah tren konsumsi masyarakat yang beralih ke makanan organik. Akibatnya, banyak restoran cepat saji, yang dianggap “mematikan”, mengalami kerugian.
Ini dibuktikan pada tahun lalu. Perusahaan yang bermarkas di Amerika Serikat ini mencatat kerugian hingga US$ 4,7 miliar (Rp 56,4 triliun). Kerugian ini termasuk yang terbesar selama 12 tahun belakangan. Easterbrook harus memaksa manajemen menghadirkan menu-menu sehat, seperti salad, yang tumbuh secara normal dan sehat. Salad, kata Easterbrook, dapat dihadirkan setiap pagi ketika masyarakat memulai aktivitas.
Selain itu, perusahaan harus kembali meriset pasar secara langsung. Cara ini dimulai Thompson dengan mengajak konsumen langsung ke dapur sejak akhir tahun lalu. Tetapi cara ini tidak efektif karena masih jarang dilakukan.
Namun penyajian menu ini lebih dulu dimulai restoran pesaing, Chipotle. Menu yang sehat dan simpel menjadi favorit banyak orang, termasuk Presiden Amerika Serikat Barrack Obama.
Bos McDonald’s AS, Mike Andres, mengatakan perusahaannya juga sedang berjuang mengubah standar prosedur memasak. Bahkan Andres berpikir mengurangi kadar pengawet pada makanan.
Selanjutnya, Easterbrook berujar, McDonald’s juga harus memperbaiki pelayanan dengan memangkas menu-menu yang jarang dipilih konsumen. Akibat terlalu banyak menu, konsumen butuh waktu lebih lama mengantre. "Saya akan bekerja lebih keras, menyusun strategi untuk pelayanan yang lebih baik," ujar Easterbrook.(ok/*/han)