Harga Beras Naik, Permainan Distributor

MALANG POST - Harga beras di beberapa wilayah di Indonesia mengalami kenaikan yang cukup tinggi. Politisi PDIP yang juga Wakil Ketua Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aria Bima mengatakan stok beras nasional saat ini dalam kondisi aman. Baik di tingkat pasar atau tingkat Bulog."Stok beras semuanya dalam kondisi aman dan melimpah," kata Aria Bima saat reses di Solo, Selasa (24/2).
Dengan kondisi tersebut, lanjut Bima, seharusnya harga beras tidak naik tinggi. "Kalau hukum ekonomi itu harga beras akan stabil saat stok melimpah," ucapnya.
Terkait kondisi stok tersebut, Bima mengaku sudah sudah melakukan pengecekan di lapangan. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Bulog dan stoknya aman. "Kami sudah cek, stoknya aman, kenapa bisa naik terus? Ini pasti ada permainan saat pendistribusian beras ke tingkat pengecer," tandasnya.
Bima menambahkan, saat ini pemerintah masih mendeteksi permasalahan yang menyebabkan meningkatnya harga. Dia berharap akar permasalahan harus segera ditemukan. "Kita tegaskan, jika ada yang mempermainkan masalah pangan akan ditindak sesuai hukum yang berlaku," ujarnya.
Bima juga menjelaskan pemerintah juga tidak akan melakukan impor beras dari negara lain. Impor tidak akan menyelesaikan namun sebaliknya, akan menambah masalah baru.
Sementara itu, penjualan beras di Pasar Induk Cipinang Jakarta merosot hingga 75 persen. Akibat dari penaikan harga beras rata-rata mencapai Rp 500 per kilogram.
Para pedagang menilai penaikan harga beras terjadi akibat pasokan beras dari daerah berkurang. Di sisi lain, pasokan beras dari Depot Logistik (Dolog) belum juga muncul.
"Kenaikan harga beras tahun ini tertinggi selama lima tahun terakhir. Naik sudah mencapai Rp 2.200 menjadi Rp 10.200 per kilogram dari biasanya Rp 8.200 per kilo. Kenaikan ini untuk semua jenis beras," ujar Ayong, salah satu pedagang di Pasar Induk Cipinang Jakarta, kemarin.
Seretnya pasokan beras dari daerah membuat Ayong hanya bisa membeli 10 juta ton beras per hari. Turun dari pembelian biasanya mencapai 30 juta ton per hari. "Sudah dua minggu naiknya Rp 2 ribu per kilogram, itu bertahap kenaikannya. Sekarang naiknya Rp 400- Rp 500 per kilo, sudah dua hari," jelas dia.
Beras dari Dolog diharapkan bisa menstabilkan harga belum terlihat di Pasar Induk Cipinang. Malah harga beras Dolog masih tersedia yang seharusnya di bawah Rp 4 ribu per kilogram, kini telah mencapai Rp 4.600 per kilogram. "Para pembeli justru pada kecewa dikira saya menaikkan sendiri. Yang ada kami pukul rata semua kenaikan harga beras, karena susah jual beras," ungkapnya.
Terpisah, Gubernur Jawa Timur, Soekarwo mengambil langkah inisiatif untuk menekan harga beras di pasaran, yang mengalami kenaikan. Salah satunya menggelar operasi di beberapa pasar tradisional yang ada di provinsi Timur Pulau Jawa ini. "Operasi pasar sudah kita lakukan, terkait kenaikan harga beras. Khususnya beras KW 1 dan medium, harganya harus turun. Itu harus kita jaga agar harganya stabil dan segera turun," kata Soekarwo di Gedung Gerahadi Surabaya, kemarin.
Gubernur yang akrab disapa Pakde Karwo ini memaparkan, kenaikan harga beras yang terjadi saat ini, bukan dikarenakan musim hujan yang berimbas pada gagal panen, tapi dampak dari kenaikan harga di pusat. "Sebenarnya kenaikan harga di Jatim ini imbas dari harga beras dari pusat, bukan karena musim hujan. Buktinya untuk hasil panen petani di Jatim masih normal. Hasilnya masih mencapai 12,8 juta ton. Musim hujan di Jatim tidak sampai mengganggu hasil panen," paparnya.
Dengan hasil panen yang mencapai 12,8 juta ton inilah, Soekarwo mengklaim, panen di Jawa Timur masih tergolong stabil di banding provinsi-provinsi lain. "Kalau di luar Provinsi Jatim, seperti Jateng, Jabar banyak mengalami gagal panen. Kalau kita lihat, kenaikan harga ini imbas dari Jakarta dan luar Jawa, Jatim hanya terkena imbasnya," tuturnya.
Sementara terkait konsumsi beras di Jawa Timur, hanya sekitar 8,2 juta ton, sehingga masih tersisa banyak, jika hasil panennya mencapai 12,8 juta ton beras. "Masih tersisa 4,6 juta ton beras. Ini setara dengan konsumsi 50 juta masyarakat. Jadi untuk stok beras di Jatim masih banyak," pungkasnya.

Sementara itu, lonjakan harga yang terjadi pada beras, tidak hanya terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Di Kecamatan Singosari, harga beras naik mulai Rp 1000 sampai Rp 4.000 tergantung kualitasnya.
 “Selama seminggu terakhir, harga beras memang dalam puncaknya. Jika pada bulan-bulan pertama awal tahun harganya relatif stabil, maka di tahun ini mengalami kenaikan. Itu pun, sangat lumayan selisihnya. Masalahnya, di tahun-tahun lalu, memasuki Januari hingga Maret, harga beras biasa stabil,” kata penjual beras di Pasar Singosari, Waji.
Pria asli Desa Klampok ini mencontohkan, seperti Beras Mentari yang biasanya dibeli penjual seharga Rp 9.5oo per kilo, sekarang naik menjadi Rp 10.500 per kilo, sehingga harga jual juga menjadi Rp 11.000. Hal serupa, juga terjadi pada Beras jenis Sriti. Jika sebelumnya harga beli Rp 46 ribu per lima kilo, maka kini menjadi Rp 50 ribu dan harga jual sampai Rp 52 ribu.
“Kenaikan harga beras ini menyeluruh. Seperti beras super 64, juga naik. Minggu lalu sekitar Rp 55 ribu per 5 kilogram, maka sekarang pun ikut naik,” paparnya.
Masih menurut Waji, walaupun harga beras naik, namun dirinya tetap berharap harga bisa cepat turun sehingga tidak berdampak ke bahan lain. Karena, kian tinggi kenaikan harga sembako, maka nominal yang dikeluarkan penjual pun akan ikut tinggi untuk memenuhi permintaan.
“Kalau penjual, tahunya hanya memenuhi permintaan. Seandainya dari awal tahu seperti beras ini akan naik, penjual seperti kami pasti akan membeli dalam jumlah banyak untuk stok. Namun realitanya, penjual tidak tahu dan hanya mengikuti harga di pasaran. Makanya, mudah-mudahan harga bisa kembali normal,” ujarnya.
Waji menambahkan, memasuki Maret dan April, beras biasanya memasuki masa stabil sebab petani mulai panen.
“Kenaikan ini bisa jadi disebabkan karena musim panen yang gagal. Masalahnya, di mana-mana juga terjadi hujan. Makanya, beras yang biasanya normal di bulan pertama hingga Maret, sekarang justru mengalami kenaikan,” tambahnya.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pasar (Disperindagpar) Kabupaten Malang, Helijanti Kuntari, dikonfirmasi mengatakan bahwa dinasnya sudah melakukan koordinasi dengan Disperindag Provinsi Jatim, menyikapi lonjakan harga beras. Dari koordinasi itu, diperoleh penjelasan agar segera menyampaikan usulan operasi pasar kepada Bulog di wilayah masing-masing.
“Kami hari ini (kemarin) sudah melakukan koordinasi dengan provinsi (Jatim). Hasilnya, agar segera menindak-lanjuti dengan Bulog untuk melakukan operasi pasar,” imbuhnya seraya mengatakan, tujuan operasi pasar untuk membantu menstabilkan harga beras. (sit/jpnn/mer/udi)