Beras Naik, Kota Malang Justru Deflasi

MALANG – Kenaikan harga beras yang terjadi di bulan Februari lalu tidak berpengaruh pada inflasi di Kota Malang. Hal ini dibuktikan dengan raihan deflasi yang justru diraih sebesar 0,57 persen dan diikuti oleh beberapa kota lain di Jawa Timur.
Kasi Statistik dan Distribusi Badan Pusat Statistik Kota Malang, Erni Fatma Setyoharini menyampaikan, arah inflasi -0,57 persen ini disebabkan banyaknya penurunan dari komoditas yang menjadi acuan pencatatan inflasi. “Selama Februari lalu, beberapa kebutuhan primer justru turun. Misalnya premium, angkutan dalam kota, cabai rawit, semen, bawang merah, hingga apel,” ujarnya.
Sementara, sepuluh komoditas teratas yang mengalami kenaikan harga pada Februari lalu yakni beras, angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, daging ayam ras, emas perhiasan, tarif listrik, shampoo, pepaya, wortel dan baju anak setelan.
Erni menerangkan, dari delapan kota di Jawa Timur, tercatat semua mengalami deflasi sepanjang tahun lalu. Paling tinggi terjadi di Banyuwangi sebesar 1,02 persen dengan IHK (indeks harga konsumen) 116,57, diikuti Kediri sebesar 0,83 persen dengan IHK 117,75 persen dan Kota Malang di posisi ketiga sebesar 0,57 persen dengan IHK sebesar 118,53 persen. Berturut-turut setelah Kota Malang yakni Sumenep dengan 0,56 persen, Jember sebesar 0,54 persen, Madiun 0,51 persen, Probolinggo 0,42 persen dan terakhir Surabaya dengan deflasi sebesar 0,42 persen.
Menurut Erni, tingkat inflasi tahun kalender Februari 2015 sebesar -0,53 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun di Kota Malang sebesar 6,43 persen. Melandainya angka inflasi tersebut dipicu oleh beberapa faktor, seperti dampak langsung penurunan BBM bersubsidi sejak  12 Februari 2015, yakni premium menjadi Rp 6.700 per liter dan solar menjadi Rp 6.400 per liter.
“Penurunan harga BBM berpengaruh pada perubahan  tarif  angkutan  dalam  kota  dan  travel yang turut  turun. Beberapa komoditas pun ikut turun,” terang dia.
Dia merinci akan kelompok  komoditas  yang  memberikan  andil deflasi, yakni  kelompok bahan makanan -0,2412 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,0141 persen; serta kelompok perumahan,  air,  listrik,  gas,  dan  bahan  bakar  0,0348 persen. Selain itu,  kelompok  sandang  0,0483 persen;  kelompok  kesehatan 0,0376 persen, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,0107 persen,  dan kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan -0,4778 persen.
Dari 11 sub kelompok dalam kelompok bahan makanan, empat sub kelompok mengalami inflasi dan tujuh sub kelompok mengalami deflasi. Sub kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan  juga  memberikan  sumbangan  deflasi.  Hal ini berdampak  pula  diturunkannya  tarif  angkutan  dalam  kota  dari  Rp  4.000  menjadi  Rp 3.500  sehingga menyumbang deflasi sebesar 0,2251 persne, solar sebesar 0,0071 persen, tarif kereta api sebesar 0,0067 persen,  tarif  kendaraan  travel    mengalami  penurunan  dam  menyumbang  deflasi  sebesar  0,0044 persen. (ley/feb)