Spin Sumbang 80 Persen Penjualan Chevrolet

MALANG – PT Smart Mulia Abadi (Chverolet) Malang mengalami penurunan target penjualan di tahun ini. Bila tahun 2014 lalu Chevrolet mampu menjual average 30 unit per bulan, tahun ini target justru di angka 27 unit per bulan.
“Target penjualan Chevrolet tahun 2015 ini turun sepuluh persen ketimbang tahun sebelumnya. Hal ini dipengaruhi beberapa hal,” ujar Branch Manager Chevrolet Malang, Arif Cahyadi.
Angka 27 unit tersebut, dipengaruhi penjualan tahun lalu yang tercatat mengalami kelesuan di semester kedua. Prediksinya, di tahun ini masih akan berlaku hal yang sama.
“Tahun ini trend otomotif juga masih lesu, makanya target awal tahun lalu lebih rendah daripada pencapaian di tahun lalu,” beber pria yang akrab disapa Cahyo ini.
Dia menuturkan, untuk tahun ini faktor kelesuan berasal dari dua sisi. Dari Chevrolet sendiri serta dari faktor ekonomi dan politik yang cenderung belum membaik. “Tahun lalu lebih pada sektor politik. Semester dua kan jelang Pilpres,” terang dia kepada Malang Post.
Hal itu berpengaruh pada minat customer membeli mobil. Alhasil, di Malang pun pembeli Chevrolet cenderung menurun  dan sedikit membaik jelang akhir tahun.
“Tetapi sekarang masih belum begitu baik. Apalagi sekarang ekonomi makro sedang tidak bagus,” imbuh dia.
Cahyo mencontohkan, kurs rupiah yang kian melemah terhadap dollar Amerika dan berdampak pada otomotif. Pada Chevrolet, hampir semua mobilnya diproduksi di luar negeri.
“Mobil impor, pasti terimbas. Harga lebih mahal sepuluh persen juga di tahun ini,” terangnya.
Dia menuturkan, untuk tahun ini target penjualan disesuaikan dengan kondisi terbaru Chevrolet pula. Terkini, pabrik Spin di Indonesia akan segera ditutup dan difokuskan untuk produksi di luar negeri. Padahal, Spin merupakan andalan dealer tersebut untuk menggoda pasar. Terbukti, sepanjang 2014 lalu, 80 persen penjualn dari tipe MPV tersebut.
“Spin memang pindah produksi, fokus di luar negeri saja. Tetapi tetap akan diproduksi karena itu backbone Chevrolet,” terang dia.
Pria ramah ini menyampaikan, sempat terjadi kepanikan di kalangan customer akan tutupnya pabrik di Indonesia. Namun, edukasi diberikan yang memastikan seri yang dibandrol mulai Rp 180 jutaan ini masih bisa dibeli oleh customer.
“Sebenarnya, yang ditakutkan bukan ketersediaan saja. Tetapi pada after sales seperti spare part dan servisnya,” imbuhnya.
Sementara itu, untuk tahun ini target di Malang sebanyak  324 unit penjualan bisa direvisi dengan melihat perkembangan terbaru pada semester kedua mendatang. Bila ada perbaikan, menurut Cahyo, bisa jadi target meningkat atau malah menurun.
“Bisa naik lagi di sisa semester menjadi 30 unit per tahun atau lebih, bisa juga kurang,” pungkasnya. (ley/jon)