Maskapai Khawatir Penguatan Dolar

JAKARTA -Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional alias Indonesia National Air Carriers Association (INACA) khawatir atas penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Pasalnya, bisnis maskapai dalam negeri banyak memakai mata uang Paman Sam.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) INACA, Tengku Burhanuddin, mengatakan banyak komponen yang terimbas langsung dengan penguatan dolar AS, mulai dari biaya avtur sampai asuransi pesawat. "Pendapatan kita dalam rupiah, ini yang bikin kita sulit," ujarnya di Kantor Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Selasa (10/3/2015).
Saat ini sudah ada maskapai yang lakukan lindung nilai alias hegding, demi menghadapi pelemahan rupiah. Salah satunya adalah PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). Tapi masih banyak juga maskapai yang belum pakai 'asuransi valas'. Sehingga, jika penguatan dolar terlalu tinggi, maka maskapai dalam negeri bisa kesulitan. "Rupiah nanti Rp 13.500 (per dolar AS)," ujarnya.
Apalagi, jika dolar semakin tinggi maka bisa menurunkan daya beli masyarakat. Turunnya daya beli ini bisa mengganggu bisnis penerbangan dalam negeri. Untungnya, dalam waktu dekat ini bisnis travel untuk liburan maupun umrah dan naik haji masih belum terkena pengaruh dari penguatan dolar AS.
Sementara itu, spekulasi kenaikan Fed fund rate menggiring dolar AS terapresiasi tajam. Greenback bahkan mencapai level tertinggi selama tujuh tahun terakhir terhadap yen dan bahkan 11 tahun terakhir di hadapan euro.
Pada perdagangan Selasa (10/3/2015) petang, Bloomberg Dollar Spot Index mencatat indeks dolar menguat 0,67% menjadi 1.207,66. Indeks tersebut mengukur nilai dolar terhadap sepuluh mata uang utama dunia.
Dolar tercatat terapresiasi terhadap seluruh mata uang utama. Franc Swiss menjadi mata uang terlemah dengan depresiasi mencapai 0,78%. Dolar sempat melejit melampaui 122 yen dan euro terpelanting hingga US$1,08. "Data-data perekonomian merefleksikan bahwa mata uang global cukup lemah. Masih ada ruang penguatan bagi dolar untuk meneruskan tren bullish," kata analis dari Citigroup Inc. Todd Elmer, seperti dikutip dari Bloomberg.
Sementara itu, di wilayah Asia Pasifik hanya dolar Hong Kong yang tetap menguat terhadap dolar AS. Itu pun sangat tipis hanya 0,02%. Won menjadi mata uang terlemah dengan depresiasi nyaris 1%. Di belahan dunia lain, mata uang Eropa, Timur Tengah, dan Afrika serempak melemah begitu pula mata uang di pasar Amerika.(dtc/bs/han)