Rupiah Melemah, Bahaya untuk Bisnis Impor

MALANG – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika terus menunjukkan tren pelemahan sepanjang Maret ini. Bahkan terbaru, Rabu (12/3/15) kemarin sudah menembus Rp 13.200 per dolar AS yang membuat pelaku ekonomi di tanah air mulai khawatir bila tidak segera ada perubahan untuk menekan superioritas dolar.
Analis Keuangan Sugeng Suroto menyampaikan, tren pelemahan rupiah ini berbahaya bila terus terjadi. Sebab, efeknya bisa menyebar ke berbagai sektor lain yang akan mengerek kenaikan harga. “Terutama sektor bisnis yang mengandalkan barang impor. Sektor ini yang pasti paling utama merasakan imbas pelemahan dolar,” ujarnya.
Menurut dia, hal ini sedikit berbeda dengan sektor bisnis mikro yang sebagian besar masih diperdagangkan di dalam negeri, serta menggunakan bahan baku lokal. Asisten Manajer Bisnis Mikro BRI Malang Martadinata itu mengungkapkan, untuk bisnis mikro relatif belum terpengaruh. “Berbeda dengan bisnis seperti otomotif dan elektronik yang sebagian besar harus impor. Sektor ini lebih cepat terpengaruh,” beber dia kepada Malang Post.
Menurutnya, berbahaya bila rupiah tidak segera stabil dan kembali di kisaran Rp 11 ribu per dolar AS. Pasalnya, seperti sektor otomotif, pasti segera melakukan update harga terbaru menyesuaikan cost yang dikeluarkan untuk produksi. “Selain itu kami berharap nilai tukar segera stabil, tidak naik turun atau terus melejit seperti saat ini. Sebab, pelaku bisnis juga memerlukan kepastian dalam penentuan harga,” papar dia panjang lebar.
Sugeng menyampaikan, bagi perbankan juga sangat berbahaya. Penyebabnya, bila nilai tukar rupiah terus melemah, maka kemampuan nasabah perbankan yang bermain di sektor bisnis impor juga terpengaruh. Bila terus terus terjadi, memungkinkan terjadinya kenaikan non performing loan (NPL) dan tidak sehat bagi perbankan.
“Terutama bank besar yang bisnis utamanya bukan sektor mikro. Pasti mulai ketar-ketir saat ini,” imbuhnya.
Terpisah, pengamat ekonomi nasional, Prof. Erani Yustika menyampaikan, tren pelemahan rupiah ini di luar prediksi banyak pengamat ekonomi. Sebab, di awal tahun banyak yang optimis nilai tukar rupiah maksimal di angka Rp 12.500 per dolar AS. “Sekarang ternyata sudah lebih tinggi ya. Pasti sudah banyak yang waspada,” sebutnya.
Menurut guru besar Universitas Brawijaya itu, pelemahan rupiah kali ini lebih susah diketahui faktornya. Hanya ada satu faktor yang pasti, yakni superioritas dolar AS beberapa waktu terakhir terhadap mata uang lainnya. “Tidak hanya rupiah yang terus melemah. Di negara lain juga sedang kalah dari dolar,” beber dia kepada Malang Post.
Menurut pengamatannya, perekonomian di Indonesia sudah lebih baik. Tinggal mencari formulasi yang tepat agar rupiah tidak kalah dari dolar AS. Sebagai bukti, di sektor pasar saham juga telah menembus level 5.500, yang merupakan level tertinggi saham selama ini. “Selain itu, defisit neraca juga lebih baik daripada periode yang sama tahun lalu,” tegas dia.
Dia berharap, segera ada perubahan yang bisa dilakukan, sehingga rupiah tidak terus melemah. Sebab, bila itu terjadi akan menambah berat dalam memperbaiki sektor ekonomi di Indonesia. (ley/han)