Bumbu Pecel Nusantara Khas Malang


MALANG - Bumbu pecel khas Kota Malang dengan lebel nusantara, produksi rumahan Nur Hamidah sukses menembus pangsa pasar luar negeri. Sejumlah negara seperti Malaysia, Jepang, hingga Saudi Arabia telah menikmati kelezatan bumbu tersebut.
“Alhamdulilah, sekarang bumbu pecel racikan saya sudah banyak peminatnya. Bahkan masyarakat dari negara lain pun mulai mencintai rasa dari produk saya,” ujar Owner sambel pecel nusantara, Nur Hamidah kepada Malang Post.
Sekilas tak ada yang berbeda kemasannya dengan bumbu pecel sejenis bikinan Blitar dan Kediri. Namun untuk kualitas rasa yang tersaji sangatlah berbeda. Hal tersebut dibuktikan ketika Malang Post mencoba untuk mencicipi rasanya. Paduan rasa bumbu kacang, gula merah, dan bumbu-bumbu lain menjadi satu sehingga menambah cita rasa khas masakan Malangan.
“Saya mencoba meracik bumbu pecel ini dengan rasa yang berbeda. Ada rasa gurih dan sedikit manis yang khas. Rasa manis yang dihasilkan berasal dari gula merah asli Malang Selatan,” katanya.
Siapa sangka berawal dari kegemaran suaminya menyantap pecel, Nur nampaknya memiliki ide cemerlang untuk meracik bumbu pecel kesukaan suaminya dengan sentuhan rasa yang berbeda.
“Suami saya ingin merasakan sensasi rasa yang berbeda, jadi saya raciklah bumbu pecel dengan sedikit tambahan bumbu rahasia. Coba rasakan sendiri, pasti ada yang berbeda rasa dari pecel saya dibanding pecel Blitar maupun Kediri,” kata wanita yang telah menempuh gelar Master of Economics di Universitas Brawijaya ini.
Awalnya bumbu pecel bikinan Nur hanya dapat dinikmati oleh tetangga-tetangganya saja. Namun karena testimoni dari tetangganya mengatakan bahwa rasanya sangat mengoncang lidah, Nur mulai mendapatkan ide untuk mengemasnya.
“Tetangga banyak yang pesan, jadi saya memberanikan diri untuk mengemasnya dengan ciamik, dan saya titipkan ke pusat oleh-oleh bakpau telo. Eh takdisangka kok banyak yang memesan,” tambahnya dengan mengumbar senyum.
Dengan konsep cita rasa Malangan, di tahun pertama mampu menjual bumbu pecel itu ke provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. “Kami langsung banjir pesanan. Tak mampu memproduksi sendiri kemudian mengunakan tenaga karyawan untuk membantu produksi kami,” lanjutnya.
Tak mau kalah sama dengan bumbu pecel lain, Nur mampu menciptakan bumbu pecel dengan predikat anti oksidan. “Saya tak mau setengah-setengah dalam berbisnis. Saya ingin menghadirkan pecel dengan kualitas terbaik. Untuk itu kandungan isi dalam bumbu pecel ini sangat teruji,” jelasnya.
Tak hanya terjual di pangsa pasar Indonesia, bumbu pecel nusantara miliknya sudah mampu menembus pasar luar negeri. Nur mengaku kewalahan melayani permintaan pasarnya. Setiap bulan, ia mampu mendulang omzet hingga Rp 200 juta per bulan.
“Untuk memasarkan bumbu pecel itu, saya mengemasnya dalam bungkus plastik yang dijual eceran kemasan 40 gram dengan harga Rp 2 ribu. Saya juga melayani pembelian kiloan dengan harga Rp 50 ribu per kilogram,” tandasnya. (mga/oci)