Dari Hobi, Deden Ekspor Boeing sampai Sukhoi Made in Cimahi

KETRAMPILAN: Deden Sopian, warga Kota Cimahi, Jawa Barat ini rela banting setir menjadi pembuat miniatur pesawat terbang.

CIMAHI - Orang kalau memiliki hobi apapun caranya akan ditempuh agar terpenuhi, apalagi hobinya mampu menghasilkan pundi-pundi uang. Tak banyak yang berani memutuskan untuk meninggalkan profesi yang dicita-citakan.
Bekal keahlian seorang mantan teknisi maskapai penerbangan, Deden Sopian (47) warga Kota Cimahi, Jawa Barat ini rela banting setir menjadi pembuat miniatur pesawat terbang.
Dunia Dirgantara seolah telah mendarah daging dalam dirinya. Berawal dari sekedar iseng membuat pesawat dalam porsi mini, kini hobinya malah jadi lahan usaha yang menjanjikan. Kerap lirikan mata konsumen banyak yang memesan untuk dibuatkan replika pesawat terbang sesuai dengan selera masing-masing.
"Pertama dari hobi, saya iseng coba untuk membuat miniatur pesawat, dan menawarkan pada teman di kantor. Ternyata mereka pada suka jadi banyak yang pesen sama saya, buat lagi dan terus berlanjut sampai sekarang," ucap Deden di kediamannya sekaligus tempat produksi, Jalan KH. Usman Dhomiri, Padasuka, Kota Cimahi, kemarin.
Debutnya ia mulai sejak tahun 2007 silam. Deden sendiri merupakan lulusan SMK Penerbangan, dan sempat bekerja di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. Setiap hari ada saja pesanan yang diterima untuk membuat pesawat berbahan fiber glass. Beragama kalangan baik dari profesi penyuka pesawat maupun dari pihak luar yang memesan sebagai cinderamata.
"Mungkin banyak yang ngasih tahu dari mulut ke mulut jadi banyak yang pesan, jadi saya perbanyak lagi produksinya karena untuk memenuhi permintaan," terangnya.
Deden mengaku menggeluti bisnisnya ini sangat menjanjikan. Karena saingan usahanya masih jarang, sehingga peluang ia untuk memasarkan hasil produksinya masih terbuka lebar. Terbukti tak hanya pembeli dalam negeri saja yang membawa pulang hasil pesawat buatannya, beberapa warga negara asing pun banyak berminat.
"Penjualan sih sudah sampai ke luar negeri ke Bangladesh, India, terakhir kemarin ada juga dari orang Singapura yang pesan buat oleh-oleh. Bandung dan Jakarta juga ada banyak yang minta dibuatkan pesawat, macam-macam jenisnya," ucap pemilik usaha dengan nama Tiara Flight Miniatur ini.
Sebelumnya, Deden secara resmi telah melayangkan surat pengunduran diri dari pekerjaannya sebagai teknisi pesawat terbang sejak bulan Desember 2015 tahun lalu. Kini, ia lebih memilih menjalankan usahanya karena hasilnya dianggap lebih besar terlebih waktu bersama keluarga lebih banyak. "Keluar kerja sejak akhir tahun lalu, karena lebih banyak waktu juga bersama keluarga di rumah. Kalau kerja bisa sampai jam 4 subuh baru pulang," ujarnya.
Pesawat yang ia buat beragam bentuk dan ukuran, dari mulai pesawat komersil hingga pesawat militer. Paling kecil berukuran 8 cm sedangkan yang besar pernah dibuatnya mencapai 1,5 meter. Harganya pun bermacam-macam tergantung ukuran dan tingkat kesulitan saat pembuatan.
Paling besar pernah ia terima pembuatan pesawat jet jenis Sukhoi dengan ukuran 1,5 meter. Pesawat tersebut dipesan oleh pihak Instansi dari Rumah Sakit Salamun untuk dipasang di depan Gapuranya. Miniatur yang saat ini sedang dikerjakan oleh Deden adalah pesawat Jabiru J-430 hasil rakitan siswa-siswa SMK Negeri 12 Bandung. Menurutnya puluhan pesawat ini ia buat untuk cinderamata dalam kegiatan yang akan diadakan oleh sekolah tersebut. Selain itu ada pesawat Piper Warrior pesanan dari luar kota, yang dibuat dengan skala 1:48,4 cm.
"Ada Helikopter, Hercules, yang banyak diminati adalah Boeing dari yang paling kecil ukurannya 8 cm sampai yang 1,5 meter tadi," tuturnya.
"Harganya bermacam-macam ada yang Rp 50.000 untuk ukuran kecil sampai yang besar tadi itu pesawat tempur Sukhoi harganya Rp 17,5 Juta," lanjutnya.
Sehari Deden bisa membuat paling sedikit 2 miniatur, dan dalam seminggu bisa menghasilkan puluhan pesawat dengan omset mencapai Rp 10 Juta. Bahan fiber glass atau serat kaca dipilih sebagai bahan utama. Ia menilai bahan ini mampu membuat pesawat ciptaannya tetap ringan dan kokoh.
"Kebetulan pernah mempelajari tentang komposit, fiber glass kemudian dikembangkan membuat pesawat. Karena bahannya tidak terlalu mahal tapi hasilnya kuat. Sehari pembuatan tergantung dari jenis pesawatnya dulu, kalau sulit paling 2 kalau yang gampang 10 itu baru cetak belum finishing," kata dia.
Teranyar, dirinya mengaku mendapatkan pesanan untuk membuat pesawat Kepresidenan Indonesia. Replika pesawat dalam ukuran mini tersebut telah rampung ia kerjakan dalam kurun waktu dua minggu saja. "Itu ada pesanan buat pesawat Kepresidenan sebanyak 20 pesawat, untuk cinderamata saja sekitar bulan lalu," ungkap Deden. (dtc/ra/udi)