Harga Naik, Pembelian Cenderung Menurun


MALANG - Harga hewan kurban sapi mulai mengalami kenaikan dengan semakin dekatnya hari raya Idul Adha. Rata-rata, kenaikan berkisar 10 persen dari harga awal menjadi Rp 20 juta hingga Rp 35 juta per ekor, dari harga semula sekitar Rp 18 juta- Rp 31,5 juta. Jenis sapi kurban yang dijual antara lain peranakan limousin, sapi sumbawa, dan sapi brahman
Moedjiono Hadi, sesepuh penjual hewan kurban, di Sanan Kelurahan Puwantoro mengatakan, tahun ini pembelian cenderung menurun. Hingga Rabu (24/8/16) kemarin, ia baru menjual 17 ekor sapi dari 70 stok sapi yang disiapkan. Jumlah stok ini pun sudah turun dari total penjualan tahun lalu yang mencapai 80 sapi.
“Tahun ini trennya tidak seramai tahun lalu. Dulu saya sehari bisa menjual 7 sampai 10 ekor sapi saat ramai pengunjung, sekarang tidak tentu. Bisa lima dan bahkan di bawahnya. Makanya, stok sapi kurban yang saya siapkan juga sengaja saya turunkan,” ujar Moedjiono.
Dari total 70 sapi yang disiapkan, 50 di antaranya adalah sapi peranakan limousine, yang memiliki ciri-ciri pedaging bewarna cokelat tua,  kecuali di bagian sekitar ambing berwarna putih serta lutut ke bawah dan sekitar mata berwarna lebih muda. Sedangkan sapi brahman memiliki ciri-ciri punuk besar , bertanduk, telingan besar dan memiliki gelambir di kepala dan dada. Sementara sapi sumbawa memiliki warna hitam kadang terdapat warna belang putih baik di badan atau di dekat mata. “Untuk sapi sumbawa ini sebenarnya milik teman yang ditaruh di sini,” ujarnya.
Moedjiono menambahkan, tren penurunan pembeli terjadi karena kondisi ekonomi. Sehingga masyarakat masih harus berfikir dua kali untuk menyisihkan dana untuk membeli hewan kurban. Di sisi lain, harga sapi tahun ini juga naik cukup tajam dibandingkan tahun lalu. Moedjiono menyontohkan, harga sapi usia sekitar 2 tahun jenis limousin kini dijual sekitar Rp 30 juta-Rp 35 juta per ekor, tahun lalu  harganya masih Rp 24 juta-RP29 juta. Sedangkan jenis brahman  dijual dengan harga  Rp 20 juta-Rp 27 juta, sedangkan tahun lalu harga sapi ini dimulai dari Rp 17 juta-Rp 22 juta. Menurut dia, persediaan hewan ternak sapi lokal ini masih mencukupi, bila bersamaan dengan penggabungan sapi-sapi milik warga Sanan mencapai 500 ekor.
Meski cenderung sepi, namun pria yang selalu berjualan hewan kurban ini optimis pembeli akan bertambah mendekati hari H hari raya. Khusus untuk sapi peranakan limousine, menurutnya yang paling banyak diminati. Biasanya pembeli datang dari pondok pesantren dan perorangan.

Moedjiono sendiri mendatangkan sapi-sapi itu dari pasar hewan sejak 6 bulan lalu ketika berusia 1,5 tahun dalam keadaan kurus. Siswa waktu ia manfaatkan untuk menggemukkan sapi-sapi tersebut dengan memberikan pakan di antaranya limbah kedelai beserta air kedelai sebagai makanan pokok sapi. Dua bahan tersebut dipilih karena menyehatkan sapi dan membuatnya cepat gemuk. “Sedangkan rumput tidak membuat sapi cepat gemuk. Berat badan sapi-sapi ini naik antara 250 kg hingga 300 kg dalam kurun waktu tersebut,” ujarnya.

Selain memberi nutrisi dari kedelai, Moedjiono rajin mendatangkan seorang mantri asal Pakis setiap minggunya untuk memeriksa kesehatan sapi. Sehingga jika dijual benar-benar dalam sudah dalam kualitas yang baik. Ia juga memberikan tip kepada calon pembeli hewan kurban, untuk memilih sapi yang berumur  2-3 tahun, dengan badan sehat, gemuk, bebas dari cacat atau sempurna. (mgc/han)