Kredit Korporasi Bank Mandiri Melambat

SURABAYA – Kredit perbankan menunjukkan catatan positif pada semester pertama 2016. Kredit di segmen mikro, ritel, dan komersial tumbuh positif. Namun, segmen korporasi mengalami perlambatan.
Bank Mandiri di Jawa Timur membukukan pertumbuhan kredit sekitar 7 persen dibandingkan 2015 lalu. Pada kuartal kedua, Mandiri berhasil menyalurkan kredit Rp 55,2 triliun. Regional CEO PT Bank Mandiri Tbk Jawa III Agus Haryoto Widodo mengatakan, penyaluran kredit didominasi kredit produktif. Yakni, Rp 45,6 triliun atau 82,7 persen dari total portofolio di Jatim.
Sedangkan outstanding kredit di segmen mikro dan komersial Rp 38,8 triliun atau tumbuh 8,19 persen.
Sepanjang semester pertama tahun ini, tutur Agus, perbankan mengalami tantangan cukup berat. Industri besar cenderung menahan ekspansi karena omzet mereka menurun. ’’Nasabah industri besar sangat hati-hati. Tetapi, semester kedua ini rasanya kebijakan pemerintah mulai berdampak sehingga permintaan kredit di segmen korporasi akan naik juga,’’ katanya.
Agus justru melihat segmen menengah ke bawah lebih bergairah melakukan ekspansi usaha. Itu menandakan ekonomi mikro sedang tumbuh sehingga mampu menopang perlambatan kinerja industri besar.
Karena terjadi perubahan tren, perbankan dituntut lebih jeli melihat peluang pasar dari tren permintaan kredit produktif. Seiring dengan realisasi proyek-proyek infrastruktur pemerintah, Bank Mandiri berkomitmen menyalurkan kredit ke sektor infrastruktur dengan limit pembiayaan Rp 89,9 triliun. Jumlah itu lebih tinggi daripada periode yang sama tahun lalu sekitar Rp 75 triliun.
Bank Mandiri telah melakukan antisipasi untuk memastikan perseroan tetap tumbuh di tengah masih berlanjutnya dampak perlambatan ekonomi pada kinerja perbankan. Salah satu antisipasi yang dilakukan, membentuk pencadangan guna mengantisipasi tren kenaikan kredit bermasalah. Pada kuartal kedua 2016, Bank Mandiri mengalokasikan pencadangan Rp 9,9 triliun. Jumlah tersebut meningkat dari Rp 4 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Pencadangan perlu dilakukan karena angka non-performing loan (NPL) gross Bank Mandiri naik dari 1,71 persen per Juni 2015 menjadi 3,29 persen pada Juni 2016. Pada kuartal kedua tahun ini, Bank Mandiri mencatatkan laba bersih Rp 7,08 triliun atau menurun 28,7 persen (yoy).
Selain meningkatkan pencadangan, Mandiri menajamkan risk acceptance criteria (RAC) dan mengoptimalkan restrukturisasi. ’’Kami optimistis akan tumbuh dan lebih siap menghadapi berbagai tantangan ke depan,’’ ujar Agus.(jpnn/han)