Sewa Kilang Sheel di Singapura Bakal Diperpanjang

JAKARTA - PT Pertamina (persero) berpeluang memperpanjang kontrak sewa kilang milik Shell di Singapura. Hal ini untuk mengolah minyak mentah hasil produksi dari aset Pertamina di luar negeri. Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan pihaknya saat ini masih melakukan uji coba untuk mengolah minyak mentah hasil produksi aset Pertamina di luar negeri. Adapun, Kilang Shell telah mengirimkan produk olahan minyak asal Irak sebesar 1 juta barel pada Juli yang diolah menjadi premium. Rencananya, pengiriman dilakukan hingga Desember 2016. "Kalau bagus, kita naikin CPD (Crude Processing Deal)-nya. Kalau kita tambah lagi, juga ada opportunity ke sana," ujarnya saat dihubungi Bisnis.com, Minggu (7/8) kemarin. Jenis sour crude yang dihasilkan dari beberapa aset Pertamina di luar negeri memang belum bisa diolah di kilang dalam negeri. Oleh karena itu, pihaknya memilih opsi sewa kilang di negara yang lokasinya strategis dan menawarkan harga menarik. Dengan pertimbangan tersebut, Kilang Shell ditunjuk untuk mengolah minyak mentah asal Irak. "Shell untuk crude processing deal mengolah minyak hak Pertamina dari Blok kami di Irak," ujarnya. Sebagai gambaran, dia menyebut kebutuhan impor premium sebesar 7 barel per bulan. Adapun, 1 juta barel di antaranya dipenuhi melalui kesepakatan pengolahan minyak mentah atau CPD. Sisanya, dilakukan melalui lelang dengan kontrak jangka panjang melalui Integrated Supply Chain (ISC). Menurut Wianda, bila dibandingkan, pengadaan melalui CPD lebih efisien daripada mengimpor produk jadi. Namun, tak berarti hal itu menjadi acuan tetap karena jumlah peserta tender yang semakin banyak membuat peluang penawaran menarik lebih banyak. Dengan demikian, skema tender bisa saja dipilih jika memberikan nilai tambah lebih. "Asalkan sesuai kebutuhan, spesifikasi yang ditetapkan Direktorat Jenderal Migas, dan harga yang lebih ekonomis," katanya. Sementara, belum lama ini pihaknya pun menerima kiriman premium dari Rosneft, perusahaan asal Rusia dengan kontrak 1,2 juta barel atau pengiriman 200.000 barel per bulan selama enam bulan. Rosneft, katanya, salah satu peserta tender pada ISC yang memenangkan lelang untuk pengadaan premium. "Rosneft mengikuti tender ISC untuk pengadaan mogas 88 (premium)," kata Wianda. Sebelumnya, Vice President Fuel Marketing Pertamina Afandi mengatakan pada semester I/2016 konsumsi premium tahun ini mengalami penurunan sebesar 8 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu menjadi 12,5 juta kilo liter. Solar turun konsumsinya sebesar 5 persen menjadi 6 juta kilo liter dari periode yang sama tahun 2015. Jenis lain seperti Pertamax justru mengalami penaikan sebesar 44 persen. Pertamina memprediksi konsumsi premium tak jauh berbeda dengan tahun lalu, yakni 30 juta KL. Premium terserap 25 juta KL dan sisanya jenis lain seperti Pertamax dan Pertalite. Adapun, tahun lalu terserap sebesar 30 juta KL dengan Premium 28 juta KL dan Pertamax juga Pertalite 2 juta KL " premium turun 8 persen jadi 12,5 juta KL, solar turun 5 persen jadi 6 juta KL dan Pertamax naik 44 persen," katanya. (dtc/van)