Tekanan Luar, Pasar Anjlok


TURUN : Lesunya kondisi ekonomi juga menurunkan pasar rokok hingga 2,8 persen.


SURABAYA – Industri rokok turun 2,8 persen pada semester pertama 2016 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dikatakan Ketua Umum Paguyuban Mitra Pelinting Sigaret Indonesia (MPSI) Djoko Wahyudi, salah satu penyebabnya ialah lesunya kondisi ekonomi di Indonesia.
Dia juga menyatakan, penurunan pasar rokok termasuk disebabkan banyaknya tekanan dari pihak luar. “Antara lain, desakan ratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) serta kampanye dari penggiat antirokok dan tembakau,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah daerah salah tafsir sehingga menghasilkan peraturan daerah kawasan tanpa rokok (KTR) serta kenaikan cukai. Pada kuartal kedua tahun ini pun industri rokok mengalami penurunan pangsa pasar 4,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Secara umum, pasar sigaret kretek mesin (SKM) tumbuh dari 75,1 persen menjadi 75,7 persen pada kuartal kedua 2016. Pasar sigaret putih mesin (SPM) pun naik tipis 0,2 persen dari 6,2 persen menjadi 6,4 persen.
Sementara itu, pasar sigaret keretek tangan (SKT) anjlok dari 18,7 persen di kuartal kedua 2015 menjadi 17,9 persen pada periode yang sama tahun ini. “Industri rokok legal di Indonesia. Banyak kepentingan asing untuk melemahkan industri ini,” tegas Djoko.
Dalam FCTC sendiri, terdapat pelarangan penggunaan bahan tambahan dalam rokok, termasuk cengkih. Padahal, 95 persen rokok di Indonesia merupakan rokok keretek yang menggunakan cengkih. “Ratifikasi FCTC bisa mematikan petani cengkih dalam negeri. Untung pemerintah tidak mau meratifikasi,” papar dia. (jpnn/mar)