Malang Post

You are here: Features

Features

Diambil Dari Sembilan Sumber Mata Air

Share
Mendak Tirta, Ritual Hari Jadi ke 1254 Kabupaten Malang

 MEMPERINGATI Hari Jadi ke 1254 Kabupaten Malang hari ini, diadakan ritual mendak tirta selama dua hari. Air dari sembilan sumber di Kabupaten Malang, diambil dan dibawa ke Pendopo Agung Kabupaten Malang sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki yang didapat dan terhindar dari malapetaka.

Sejak pagi hari, sejumlah orang dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Malang, bersiap diri untuk melaksanakan ritual mendak tirta. Mereka didampingi spiritual dan sekaligus budayawan Mbah Lolong. Tampak pula Kabid Kebudayaan Disbudpar Kabupaten Malang Jonshon Sonaru mengikuti kegiatan tersebut.
Pada hari pertama Rabu (26/11), rombongan mengambil air dari tiga sumber. Yakni Sumber Ringin Kecamatan Tumpang, Telaga Jenon Kecamatan Tajinan dan Sumber Toko Kecamatan Turen. Keesokan harinya, rombongan melanjutkan pengambilan air dari enam sumber tersisa. Yakni Pemandian Dewi Sri Kecamatan Pujon, Sumber Air Mbah Kabul Kecamatan Pakis, Sendang Kamulyan di Kecamatan Donomulyo, Sumber Urip Kecamatan Wonosari dan dua sumber di Kecamatan Singosari yakni Sumber Watu Gede dan Sumber Urip. Ritual ini, rutin diadakan tiap tahun menjelang Hari Jadi Kabupaten Malang.
Rombongan tersebut, sebelumnya telah membawa guci dari tanah liat yang sudah dipersiapkan, sebagai wadah air dari sembilan sumber tersebut. Sebelum mengambil air dari masing-masing sumber, terlebih dahulu diadakan prosesi. Di antaranya doa bersama dan berziarah di makam sesepuh yang berada di sekitar sembilan sumber.
“Prosesi pengambilan mata air ini, dilakukan secara khidmat. Karena dalam prosesi ini terdapat makna sendiri, sebagai tanda Hari Jadi Kabupaten Malang,” ujar Kepala Disbudpar Kabupaten Malang Made Arya Wedhantara kepada Malang Post.
Dia menjelaskan, saat prosesi pengambilan air di masing-masing sumber, selalu didampingi oleh kecamatan, perangkat desa, budayawan dan tokoh masyarakat. Air tersebut dimasukkan ke dalam guci yang terbuat dari tanah liat. Setelah itu, guci yang sudah terisi air didoakan oleh pemuka agama.
Seluruh guci yang berisi air lalu dibawa ke Pendopo Agung Kabupaten Malang untuk didoakan kembali. “Seluruh guci berisi air didoakan saat acara pengajian memperingati Hari Jadi ke 1254 Kabupaten Malang,” kata Kabid Kebudayaan Disbudpar Kabupaten Malang Jonshon Sonaru, terpisah.
Menurutnya, ritual ini merupakan prosesi yang sakral. Karena air tersebut diambil dari sumber yang dikeramatkan oleh warga. Selain itu, sembilan sumber sudah ada sejak lama pada era kerajaan, sehingga dibutuhkan ritual khusus saat mengambil airnya.
 “Intinya kegiatan ini sebagai rasa syukur kepada yang maha kuasa atas limpahan rahmat yang diraih setahun kemarin. Sedangkan tahun ke depannya, diharapkan semakin menambah kemajuan Kabupaten Malang dan rakyat semakin sejahtera,” kata dia.
“Karena kita hidup di tanah Jawa, maka harus menjunjung tinggi adat istiadat maupun kebudayaan yang ada di Jawa ini,” tambahnya.
Masih kata Jonshon, ritual ini sebagai harapan supaya Kabupaten Malang terhindar dari malapetaka maupun bencana alam. Sehingga kondisi masyarakat Kabupaten Malang secara keseluruhan semakin aman, tentram dan kondusif. Sedangkan muaranya adalah kemakmuran yang dirasakan oleh seluruh masyarakat yang adai di Kabupaten Malang.“Puncaknya, sembilan air sumber ini nantinya juga akan ikut di kirab saat Kirab Budaya Agung di Kecamatan Kepanjen,” imbuhnya. Kirab itu kata dia, sebagai rasa syukur masyarakat Kabupaten Malang pada Hari Jadi ke 1254 kali ini. (Binar Gumilang/red/han).    
comments

Page 1 of 280

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »