Malang Post

You are here: Features

Features

Modal Rp 250 ribu, Seminggu Raup Omzet Rp 24 juta

Share
Bagi sebagian orang, dongkel (akar bambu) mungkin tidak ada artinya. Dianggap sebagai limbah kayu bakar saja. Tetapi tidak demikian jika berada di tangan Jumaro Joko Pratomo. Akar bambu tersebut bagai logam emas yang bernilai mahal. Melalui polesan tangannya, ia menyulap akar bambu menjadi karya kerajinan yang sangat indah.

Puluhan topeng primitif dari akar bambu terpajang di dinding serta teras sebuah galeri di Jalan Raya Kebonagung, Kecamatan Pakisaji. Kerajinan tangan yang sangat indah tersebut, menarik pandangan pengguna jalan. Tak sedikit pengendara motor atau pengemudi mobil yang menyempatkan untuk melirik.
Bahkan, beberapa dari mereka ada yang memilih putar balik lalu berhenti untuk melihat kerajinan topeng primitif. Termasuk Malang Post, yang kebetulan melintas tertarik untuk melihatnya. Semua kerajinan yang terpampang itu adalah karya Jumaro.
“Ini (karya kerajinan topeng primitif, red) masih sedikit, hanya tinggal beberapa saja. Sebelumnya sekitar dua minggu lalu sangat banyak, tetapi sudah diborong oleh orang Bali. Ada sekitar 600 lebih topeng karya saya yang diborong dan rencananya akan dibawa ke Bali serta Kanada,” terang Joko.
Ia sudah lama menggeluti kerajinan yang terbuat dari akar bambu ini, terhitung sejak akhir 1999 lalu. Sebelum memutuskan menjadi perajin akar bambu, Joko adalah manager desain sebuah perusahaan otomotif. Ia keluar dari perusahaan, karena ingin lebih luas untuk berkarya.
Bermodal Rp 300 ribu, sisa uang dari hasil mengantar (ojek) temannya yang notaris, dimanfaatkan Joko untuk membeli peralatan pahat seadanya. Setelah peralatan ada, ia langsung memulai membuat kerajinan. Dongkel (akar bambu) menjadi pilihan saat ia berjalan-jalan ke pinggir sungai melihat akar bambu berserabut yang tidak terpakai.
Dari akar bambu yang semula tidak terbentuk, kemudian disulap menjadi patung. Awalnya hanya bermotif hewan, seperti bebek, landak serta bangau. Ia kemudian menjual karyanya itu di alun-alun. Ternyata tidak butuh waktu lama, semua produk terjual habis.
Melihat banyak yang meminati karyanya, pria kelahiran Karanganyar Jawa Tengah ini, lalu berfikir untuk memperluas jangkauan pemasaran. Ia pun ikut sebuah pameran di Jakarta pada 2000. Dari pameran tersebut, ternyata hasil karyanya banyak diminati oleh wisatawan mancanegara. Berawal dari situlah, akhirnya karya Joko tembus kebeberapa negara. Seperti Amerika, Jepang, Dubai, Kanada, Belanda serta lainnya.
Bahkan saking banyaknya pesanan, Joko sempat kewalahan. Akhirnya untuk mengejar target pesanan, ia mulai merekrut beberapa karyawan hingga mempunyai dua galeri dan 160 karyawan. “Semua karyawan saya adalah bekas narapidana, kecuali narapidana kasus perkosaan. Kami mencari karyawan narapidana dengan datang ke desa-desa untuk mendidik mereka,” jelas pria kelahiran 1972 lalu ini.
Selama delapan tahun, usaha karjinan tangan akar bambu ini berjalan lancar. Tetapi pada pertengahan 2008 usahanya sempat vakum hingga pertengahan 2014. Saat itu, ia terjun di dunia politik dan menjadi donatur salah satu calon bupati saat pemilihan kepala daerah di Tulungagung. Sayang, calon yang digadang-gadang bisa menang ternyata kalah padahal Joko sudah ‘menginvestasikan’ semua dananya untuk kampanye. Usahanya hancur, hingga membuat bapak empat anak ini frustasi.
Bertahun-tahun ia masih belum bisa move on, hingga tiga minggu lalu, setelah mendapat dorongan dan motivasi dari keluarga dan teman-temannya, Joko bangkit lagi. Ia kembali membuka galeri kerajinan tangan. Modal yang digunakan pun tidak banyak, hanya Rp 250 ribu. Sepekan setelah membuka galeri, ternyata hasil karyanya diborong oleh orang Bali yang akan memasarkan produk tersebut di Kanada dan Bali. Semua karyanya itu diborong seharga Rp 24 juta.
“Saat membuat kerajinan lagi, modal saya hanya Rp 250 ribu. Tetapi dalam satu minggu mendapat uang Rp 24 juta. Sekarang saya sedang menyelesaikan banyak pesanan. Karena akhir Desember nanti, ada pesanan satu kontainer,” ujar Joko.
Dongkel yang digunakan Joko adalah bambu jenis ori dan petung. Akar bambu tersebut didapat dari beberapa daerah di Kabupaten Malang, seperti Pakisaji, Kepanjen, Jabung, Donomulyo serta Gunung Kawi. Joko sudah memiliki beberapa orang yang dipekerjakan untuk mencari akar bambu.
Untuk akar bambu ori, satu biji dibeli oleh Joko dengan harga Rp 2000, sedangkan akar bambu petung seharga Rp 10 ribu. “Perbedaannya, serat ori lebih rapat dan pertahanannya kuat. Sedangkan petung hanya lebih besar saja,” tuturnya.
Bersama lima karyawannya, saat ini Joko mampu menghasilkan 36 kerajinan dalam sehari. Setiap orang bisa menyelesaikan enam kerajinan. Harganya dipatok mulai Rp 50 ribu sampai Rp 20 juta untuk kerajinan ukuran besar. “Kami membuat kerajinan tidak dengan mal atau berdasarkan gambar. Tetapi dengan insting. Saya belajar kerajinan ini secara otodidak,” kata Joko sembari mengaku mempunyai 22 anak angkat.
Selain akar bambu, Joko juga memanfaatkan akar pohon jati serta pohon kopi. Pohon kopi untuk kaki meja ukiran, dan akar pohon jati untuk meja dan juga aksesoris dinding. Namun setelah terukir, harga jualnya tidak murah, bisa mencapai ratusan juta. “Saya juga mendapat pesanan kursi bambu untuk dikirim ke Dubai, tetapi permintaan itu saya pending dulu,” lanjutnya.
Setelah usaha kerajinan akar bambunya kembali berkembang dan menunjukkan tren positif, Joko mulai melibatkan istri serta anaknya untuk mengurusi manajemen dan memegang semua keuangan. “Ini saya lakukan karena trauma dengan kejadian yang sempat membuat usaha saya vakum,” paparnya.(agung priyo/han)
comments

Page 1 of 327

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »