Mencoba Senam Anti Stroke di Penarukan Kepanjen

PENYEMBUHAN  penyakit stroke kerap membutuhkan biaya mahal.  Namun, tidak demikian dengan senam gagasan  kader Posyandu Kelurahan Penarukan, Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang yakni  Roudatul Jannah (48 tahun)  warga Jalan Subur RT05 RW05 Kelurahan Penarukan. Warga bebas mengikuti senam ini secara gratis.

Senam anti stroke.  Inilah senam  gagasan warga Jalan Subur RT 05 RW 05 Kelurahan Penarukan Kepanjen. Ida,sapaan akrab Roudatul Jannah, selama empat bulan terakhir sangat menjadi instruktur senam di tiap rukun warga (RW) kelurahannya.
Untuk bisa menemui Ida atau bergabung dengan senam anti strokenya, tidaklah sulit. Masalahnya, hampir setiap jam 15.00, senam tersebut digelar secara bergantian di total lima RW di Kelurahan Penarukan. Sedangkan di hari Jumat, senam digelar di rumah Ida, dengan jam pelaksanaan yang sama. Bahkan, pada awal bulan atau tanggal 1, senam tersebut dilakukan di pendopo kelurahan dengan melibatkan seluruh anggota yang ada di masing-masing RW.
Menjadi bagian dari senam anti stroke, sangat simpel. Mengingat, tidak banyak persyaratan yang harus dibawa atau dimiliki peserta. Sebaliknya, anggota hanya harus datang dan bersama-sama melakukan senam. Sebelum pelaksanaan senam dimulai, seluruh peserta akan dilakukan tensi darah. Tujuannya, untuk mengetahui tekanan darah dan kondisi jantung, karena berhubungan dengan setiap gerakan yang akan diberikan dalam senam.
“Karena tensi harus dilakukan satu-persatu, saya juga dibantu kader Posyandu Kelurahan Penarukan. Jadi, semua peserta senam akan dilakukan tensi seluruhnya,” ujar ibu satu anak ini kepada Malang Post.
Begitu pelaksanaan tensi selesai, seluruh peserta pun boleh langsung mengambil posisi senam. Khusus yang satu ini, karena lokasinya berpindah-pindah dan terkadang memakai halaman rumah warga atau pun jalan kampung, maka dibebaskan dengan catatan tetap bisa mengetahui setiap gerakan yang dikomandokan.
“Dalam senam yang diberikan, total ada sekitar 18 gerakan yang terfokus pada gerakan tangan. Keseluruhan gerakan itu, memakan waktu sekitar 30 sampai 35 menit. Sementara keseluruhan gerakan yang diberikan, adalah sesuai dengan panduan senam anti stroke yang diberikan oleh dokter. Yang intinya, adalah mengaktifkan syaraf motorik dan melancarkan penyumbatan-penyumbatan darah yang terjadi pada bagian badan, lengan hingga otak,” paparnya.
Bagi pasien yang memiliki stroke kronis, terang Ida, anggota tidak dipaksakan untuk mengikuti setiap gerakan yang diberikan. Namun, lebih kepada keinginan pasien untuk menyatukan gerakan senam. Dari rangsangan awal berupa gerakan yang seadanya atau di atas kursi roda itulah, secara berangsur-angsur akan memancing kerja sel-sel syaraf untuk aktif kembali.
“Biasanya butuh waktu sampai sebulan, untuk memancing sel-sel syaraf agar mulai bekerja. Setelah bekerja, biasanya butuh waktu sampai tiga bulan, keseluruhan anggota badan bisa digerakkan secara normal. Selanjutnya, pasien atau anggota harus tetap melakukan olahraga minimal seminggu tiga kali di rumah atau tetap bergabung senam anti stroke,” terangnya.
Ia kemudian juga menguraikan bahwa karena ada tahapan penyembuhan, makanya tensi darah dilakukan untuk memantau kemampuan pasien. Sehingga, ketika terlihat kelelahan, maka pasien diminta untuk menghentikan sementara gerakan.Terlebih, karena untuk pasien stroke kronis butuh perhatian serius, anggota atau pasien diharuskan mengikuti setiap gerakan. Jangan sampai, pasien yang kronis hanya duduk atau memandang orang senam. Namun, lebih kepada keinginan bergabung senam dan melakukan gerakan.
“Senam ini tergolong baru untuk masyarakat. Namun, hasilnya ternyata luar biasa. Bahkan, seorang pasien saya yang dianggap kronis dan tidak bisa apa-apa lagi, selama empat bulan terakhir rutin bergabung. Hasilnya, Alhamdulillah sekarang sudah aktifitas rutin normal dan tetap mendampingi setiap kali melakukan senam anti stroke. Anggota tersebut, sekarang sudah bisa jalan-jalan sendiri, memakai sepatu hingga menjalankan usahanya dengan sendiri,” lanjutnya.
Ditambahkannya, dari total lima RW yang diberi senam anti stroke, hampir semua memiliki jumlah keanggotaan hingga 50 orang. Beberapa anggota, justru mengakui sendiri berbagai keuntungan dan manfaat yang diperoleh dari mengikuti senam ini mengenai  keuntungan atau manfaat yang diperoleh.
Disinggung mengenai aksi sosialnya, Ida menjelaskan, hanya ingin membantu warga untuk bersama-sama menjaga dan membantu mengantisipasi penyakit. Dengan melakukan senam atau olahraga, maka akan terhindar dari penyakit. Termasuk, banyak-banyak minum air putih.
“Kalau dikomersilkan, saya malah tidak mau. Tujuan saya, hanya ingin membantu warga seiring dengan tugas sebagai kader posyandu,’’ paparnya.Ia juga menuturkan Bupati Malang H Rendra Kresna yang pernah mencoba senam ini telah memberikan bantuan berupa sound system yang disambut gembira para peserta senam anti stroke ini. ‘’Bantuan beliau sangat membantu kami. Bantuan ini, sangat bermanfaat dibandingkan saya yang awalnya harus berteriak kepada anggota senam, ketika setiap kali harus ganti gerakan,” paparnya. (sigit rokhmad)