Terbang Jidor Prajurit Yonif 512

GUDANG amunisi, latihan militer dan apel  selalu menjadi ciri khas markas tentara. Tapi markas Yonif 512 /QY Marabunta punya suasana  lebih berbeda. Selain lengkap ‘menu’ suasana militer, batalyon yang dipimpin Mayor Inf  Erlangga Galih Wisnuwardhana itu  punya grup terbang jidor. Melalui terbang jidor inilah prajurit Yonif 512/QY Marabunta berdakwah sekaligus menjaga keutuhan NKRI.
 
Berseragam loreng, sejumlah prajurit lincah memainkan seperangkat alat musik terbang jidor dalam  Masjid Koesaeri. Harmoni irama religius pun mengalun dari dalam mesjid di kompleks satuan tempur dibawa Korem 083/BDJ ini.  Sekejap, suasana religius mengental di sekitar markas tentara  tersebut. Begitulah suasana latihan terbang jidor milik Yonif 512/ QY Marabunta.
Grup terbang jidor beranggota 25 prajurit ini dibentuk sejak 2009 lalu. Kendati harus bisa berbagi waktu agar tugas pokok sebagai prajurit TNIAD tetap dijalankan, mereka giat berlatih dan membuat ciri khas tersendiri.
Grup ‘penerbang’ ini memang punya keunikan. Yakni tak menggunakan alat musik elektronik. Namun irama yang dihasilkan sangat harmonis, syahdu dan juga bisa rancak sehingga enak didengar. Peralatan yang dimiliki terdiri dari  12 alat musik terbang, satu bass drum, gendang kempul dan gendang dangdut, satu set tamborin plus simbal dan tiga gamelan.
“Ciri khas kami non elektronik. Di sini kami berimprovisasi,” kata Kopda Fathor Rohim, koordinator  terbang jidor Yonif 512/QY  Marabunta.
Improvisasi anggota grup terbang jidor yang rata-rata terdiri dari prajurit berpangkat tamtama itu bisa menghasilkan berbagai aliran musik. Mulai dari Al Banjari yang mengandalkan pukulan atau tabuhan monoton dan berkekuatan vokal hingga marawis dan gambus.
Fathor mengatakan, mereka punya jadwal latihan rutin. Yakni sekali dalam sepekan. Dari latihan rutin itulah kepiawaian  terbentuk lalu tampil di luar markas. “Kami tampil di berbagai daerah. Di desa atau di mana saja sesuai permintaan” terangnya.
Masyarakat umum bisa mengundang grup terbang jidor dari TNI AD ini. Mereka tak memasang tarif lantaran punya misi yang diemban. Bahkan pihak pengundang tak perlu repot memikirkan transportasi. Soalnya mereka selalu menggunakan kendaraan milik Yonif 512/QY Marabunta atas izin komandan. Tujuannya agar tak memberatkan pihak pengundang sekaligus bentuk nyata dukungan komandan batalyon.
“Kalau mau mengundang kami  mengajukan surat ke Danyon,”  terang Fathor. “Dan biasanya kami tampil di luar jam dinas. Sehingga tugas utama sebagai anggota TNI AD tetap bisa dijalankan,”sambungnya.
Soal misi, Fathor mengatakan, terbang jidor milik kesatuannya itu punya misi dakwah kepada masyarakat. Di saat bersamaan, misi membangun kesadaran untuk menjaga keutuhan NKRI tetap terjaga. Karena itulah  setiap kali tampil, mereka selalu mengenakan pakaian dinas, loreng.
Para anggota terbang jidor tentara ini pun tak pilih-pilih undangan. Sepanjang tak berbenturan dengan jam dinas, mereka pasti memenuhi undangan. “Kami pernah main di pelosok-pelosok, di desa-desa,” terang Fathor yang juga Ketua Takmir Masjid Koesaeri di markas Yonif 512/QY Marabunta ini.
Dibalik  kearifan tak pilih-pilih undangan, terbang jidor ini pernah tampil di berbagai acara penting. Diantaranya pembukaan MTQ Jawa Timur, di Situbondo, Desember 2014 lalu. Mereka juga pernah tampil di Madiun, Nganjuk dan Mojokerto.
Tak hanya itu saja, para ‘penerbang’ dari Yonif  512/QY Marabunta ini pun dipercaya tampil di depan Panglima TNI, Jenderal TNI Moeldoko belum lama ini di Tumpang, mengiringi Ustad Jefri Al Buchori semasa hidup saat berdakwa di markas Kodam V Brawijaya.
Mereka juga kerap tampil di majelis-majelis Maulid di Malang Raya seperti Majelis Riyadlul Jannah dan  Majelis Ar  Ridwan. Kendati sering tampil di acara penting, terbang jidor Yonif 512/QY Marabunta juga tampil di lingkungan sekitar markas dan acara pernikahan sesama prajurit.
Semua prajurit di batalyon tersebut berpeluang menjadi anggota terbang jidor. Namun ada persyaratan yang harus dipenuhi. Yakni bisa baca Al Quran, berakhlak baik dan tentu punya jiwa seni. Anggota terbang jidor tersebut berasal dari berbagai kompi di Yonif 512/QY Marabunta.
Danyonif 512 / QY Marabunta, Mayor Inf  Erlangga Galih Wisnuwardhana menuturkan, terbang jidor punya sistem kaderisasi agar tetap eksis. Hal ini dilakukan karena prajurit biasanya berpindah tugas.
“Kaderisasi agar tetap eksis. Cara kaderisasi alami. Biasanya dilakukan penelusuran minat bakat di masing-masing kompi. Kalau cocok, dikumpulkan lalu dikenalkan dan ikut latihan,” terangnya.
Alumnus SMAN Kepanjen ini mengatakan, keberadaan terbang jidor memiliki fungsi perekat di internal batalyon. Pasalnya anggotanya berasal dari lima kompi yang berada di bawah Yonif 512/QY Marabunta. Selain itu juga menjadi bengkel iman prajurit.
“ Terbang jidor ini juga sebagai sarana pembinaan teritorial dan komunikasi sosial dengan masyarakat. Dan tentu juga sarana pembentukan mental prajurit,’’ terang mantan Kasi Ops Korem 082 Mojokerto ini.
Tak kalah pentingnya lagi yakni melalui terbang jidor memberi pembelajaran wawasan kebangsaan kepada masyarakat lewat syiar shalawat untuk menangkal radikalisme. Karena itulah, setiap kali tampil selalu mengenakan pakaian dinas militer supaya identitas TNI ada bersama masyarakat.(vandri battu/ary)