Ira Kristiana, Si Cantik Pebisnis Batu Fosil

Fenomena batu akik yang digemari oleh masyarakat beberapa waktu terakhir membuat aneka batu lain turut terangkat pamornya.Termasuk batu fosil, yang merupakan sisa makhluk hidup yang akhirnya menjadi batu atau mineral. Tidak tanggung-tanggung, penggemar batu fosil mencapai luar negeri, seperti Singapura.


Kusuma Gallery Jewelry and Art’s milik Ira Kristiana menjadi salah satu outlet yang menerima berkah itu. Beberapa koleksi batu fosilnya, dikirim hingga keluar pulau seperti Sumatera dan Bali, serta mencapai Singapura yang mendapatkan julukan sebagai negeri Singa.
“Kusuma Gallery memiliki beraneka ragam jewelry. Mulai dari perhiasan perak, emas, hingga berlian. Termasuk fosil, yang penggemarnya tidak hanya dari Indonesia,” ujarnya, mengawali cerita.
Perempuan yang akrab disapa Dewi ini menuturkan, awal mula batu fosil ini dia ekspor keluar negeri. Memiliki jaringan di luar pulau seperti Batam, membuat koleksinya dikenal oleh pengelola hotel dari Singapura. Tak pelak, Kusuma Gallery pun mendapatkan pesanan untuk mengirim ke sana. Tidak hanya satuan namun borongan.
Menurutnya, pengiriman sudah terjadi sejak tahun lalu. Dalam sekali pengiriman, jumlahnya sangat besar. “Rugi kalau ekspornya sedikit. Apalagi, batu fosil ini ada beberapa yang memiliki ukuran besar juga,” beber dia kepada Malang Post.
Alumnus University of Sidney Australia itu mengatakan, koleksi batu fosilnya beragam dan dari berbagai wilayah. Mulai dari ujung timur Indonesia seperti Papua, Nusa Tenggara, hingga dari Kalimantan yang dipercaya menjadi salah satu daerah yang kaya akan peninggalan batu fosil. Namun, dari sekitar Pulau Jawa pun juga ada seperti di kawasan Jawa Barat.
“Ada yang berbentuk sudah full seperti batu dan berkilau, ada pula yang masih dalam serangkaian kayu atau dalam balutan tubuh makhluk hidup. Misalnya dari rangkaian kepala hewan, maupun dari batang kayu,” papar perempuan berusia 32 tahun ini panjang lebar.
Dewi menyampaikan, penjualan fosil yang masih dalam bentuk utuh dipatok mulai dari Rp 1 juta sampai dengan puluhan juta. Bila ukurannya besar, dengan tinggi sekitar 50 cm, maka harganya mencapai dua digit. Apalagi bila bentuknya sangat jelas, misalkan serangkaian tubuh binatang seperti dinosaurus, harganya juga lebih mahal.
Menurutnya, penjualan batu fosil tidak bisa diprediksi. Bila terjadi pemesanan, seperti dari Singapura lalu, sekali pengiriman minimal senilai Rp 300 juta. Sementara, untuk customer yang membeli 1-2 pieces saja, juga tidak kalah banyak. “Bingung kalau ditanya omset batu fosilnya,” tegas dia, lantas tersenyum,
Lantas dia memastikan, bila penggemar batu fosil ini sangat besar sejak tahun lalu. Terutama ketika memasuki semester kedua, yakni antara Juli sampai Desember. Tidak lama setelah itu, batu akik pun fenomenal. “Memang masih kalah dengan batu akik. Sebab, penggemar batu fosil pun kalangan tertentu,” paparnya.
Dia membandingkan, pemburu batu fosil mengoleksi batu itu karena berburu sejarahnya dan menjadikannya untuk hiasan di rumah. Sementara, batu akik bisa dijadikan perhiasan dan ditenteng kemana-mana. “Tetapi, akhir-akhir ini batu fosil mulai menjadi perhiasan bagi selebritis. Mungkin sebentar lagi juga pamornya naik,” harap Dewi.
Menurutnya, batu fosil bisa dipadukan dengan perhiasan seperti kalung emas putih. Di luar negeri,  harganya sekitar Rp 180 juta yang dibuat dari fosil tulang dinosaurus, morganite, straw topaz dan berlian putih.
Dalam beberapa waktu terakhir sejumlah figur publik juga menunjukkan kesukaannya pada koleksi desain dari Monique Pean yang unik. Pean adalah salah satu desainer batu fosil di New York. Yang memakai karyanya, diantaranya Michelle Obama, Jennifer Lawrence dan Emma Watson. Di samping menggunakan bahan atau material dari tulang dinosaurus, dia juga menggunakan fosil lain seperti tulang mammoth, walrus, gading caribou dan tanduk sapi.
Putri ketiga dari empat bersaudara ini menambahkan, secara keseluruhan koleksi batu fosil di Kusuma Gallery sekitar 20 persen dari isi galeri. Jumlah ini memang masih kalah dengan perhiasan, akan tetapi tidak mengurangi sumbangsih batu fosil dalam bisnisnya. Termasuk ketika galeri yang kini masih buka di Hotel Sahid Montana Dua tersebut mengikuti pameran di luar kota.
“Kami sering ikut pameran di Jakarta, Medan, dan Surabaya. Makanya, yang mengenal koleksi tidak hanya orang lokal Malang, malah dari luar kota. Proses pengenalan lebih dari mulut ke mulut,” sambungnya.
Sementara itu, terkait bisnisnya, Dewi tidak hanya berbisnis di bidang bebatuan. Perempuan berparas ayu ini juga memiliki bisnis pengiriman barang serta bisnis kopi luwak yang berasal dari Sumbawa.(Stenley Rehardson/ary)