Booking Rp 600 Ribu, Bisa ‘Eksekusi’ Sesuka Hati hingga Dugem

Pantai Sanur, Denpasar Bali bukan hanya dikenal karena ombak dan indah pantainya. Malam hari di Sanur adalah malam penuh gairah. Sanur telah mahsyur sebagai pusatnya pelesir lendir di Bali. Jalan Danau Tempe tidak akan asing bagi kaum pria yang ingin coba-coba wisata seks Sanur. Berikut, penelusuran Malang Post di lokalisasi terbesar Bali tersebut.

Angin malam pinggir Pantai Sanur sejuk. Hembusan udara laut pasang seperti hasrat yang sedang mengingini sentuhan. Desir ombaknya memanggil-manggil. Namun, udara pinggir laut tetap lembab. Leher berkeringat. Bulir-bulir air keluar dari pori-pori dahi, meleleh turun ke dekat mata. Sebenarnya, udara pantai malam hari tidak begitu buruk.
Sayang, tidak semua orang suka panas di malam hari, terutama sambil menunggu untuk janji bertemu. Kawan yang bernama Roni (samaran), berjanji bakal menunjukkan jalan menuju pusat wisata kegemaran para pria-pria kesepian di Sanur Bali. Jam smartphone menunjukkan waktu pukul 01.00 WITA.
Udara semakin dingin saat pemuda yang ditunggu-tunggu, tiba. 15 menit kemudian, Roni datang. Sembari minta maaf sekenanya, pria muda yang punya darah Kupang NTT itu, memberi sapaan ramah. “Mohon maaf ya. Habis liputan. Baru selesai ketik. Ayo kita telusuri tempat yang itu,” ujarnya, menunjuk sebuah gang kecil yang remang di seberang jalan.
Langkah kaki kecil Roni tampak cukup yakin saat masuk ke gang remang tersebut. Dari luar, hanya ada seorang tukang parkir yang mengenakan udeng khas Bali. Sesekali, dia menghentikan motor yang hendak masuk ke gang, dan menarik karcis. Sekilas, gang tersebut hanya gang biasa. Namun, ternyata begitu banyak pria yang keluar masuk gang tersebut.
Beberapa pria yang keluar sudah berwajah lega. Sisanya masih cemberut karena mungkin belum dapat “barang bagus”. Roni makin percepat langkahnya menuju gang itu. “Soalnya, harus cepat-cepat datang kesini sebelum jam 2 malam. Kalau di atas jam itu, barang-barang yang bagus sudah diajak keluar dugem ke Kuta atau Denpasar sama tamunya,” tandas Roni.
Begitu kaki sudah masuk ke dalam gang, Roni menunjukkan pemandangan nyata lokalisasi terbesar di Pulau Bali, yakni Jalan Danau Tempe Sanur. Begitu banyak pria berjalan-jalan di depan wisma. Para wanita penjaja kenikmatan, tampak duduk-duduk santai. Sesekali, mereka memanggil manja, untuk mampir dan lampiaskan dahaga.
Cahaya di sana remang-remang. Sehingga, Roni harus benar-benar mempelototi para kupu-kupu malam yang duduk. “Kalau di Jalan Danau Tempe ini, barang yang bagus-bagus pasti sudah nampang di wisma-wisma depan. Semakin ke dalam, kualitas ceweknya semakin tidak bagus,” sambungnya.
Di sudut mata, terlihat ada wanita berkulit putih. Kakinya jenjang. Sepatu high heel warna hitam melengkapi jemari kaki yang sudah diwarnai kutek. Kakinya mulus dan hampir tanpa rambut. Dia mengenakan terusan rok mini berwarna merah. Wajahnya oriental, dengan make up yang menonjol di bagian mata.
Dia ingin matanya yang sipit tersamarkan oleh warna maskaranya. Namun, wajah orientalnya begitu menggoda. Dia hanya duduk diam di depan wisma. Satu batang rokok dia sedot. Ada beberapa pria yang berdiri di sampingnya, mencoba mengajak bicara. Namun, kupu-kupu malam yang berdarah Cina itu, cuek.
Saat disapa dan ditanya apakah sedang free, Meylan, menolak. “Tidak, saya sedang ada yang booking. Maaf ya,” ujarnya. Roni berujar, kupu-kupu malam seperti Meylan cukup mudah ditemui di Danau Tempe. Namun, dengan spesifikasi seperti dia, harganya terhitung mahal untuk ukuran standar short time.
Penjaja seks dengan bodi mulus dan wajah cantik, bisa dibanderol sekitar Rp 200 ribu sampai Rp 250 ribu. Sedangkan, yang kurang cantik dan mulus, standar harganya Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu. Menurut Roni, wanita-wanita penjual jasa sensual itu bisa dibooking untuk long time. Namun, tarifnya juga beda.
“Ada tamu yang ingin bawa cewek dari lokalisasi selama enam jam. Tinggal dikalikan saja, jadinya Rp 600 ribu. Setelah dibooking, cewek bisa dibawa kemana-mana. Bisa dieksekusi sesuka hati, bisa juga diajak dugem ke Legian atau klub malam di Seminyak juga,” sambung pria brewok tipis-tipis ini.
Namun, wisata seks di Danau Tempe tidak akan terasa nyaman buat wisatawan yang belum pernah tahu kultur Bali. Sebab, malam hari di lokalisasi sering berubah jadi keonaran. Para pria yang mabuk, adu pukul dengan pria mabuk lainnya. Hal itu sudah jadi pemandangan biasa di lokalisasi Sanur.
Menurut Roni, ada wisata seks lain yang terselubung pada siang hari namun aktif pada malam hari. Lokasinya pun tidak berjauhan dari Danau Tempe. Dari segi tempat, lokalisasi Danau Tempe cenderung kumuh. “Sedangkan, kalau yang terselubung ini, bersih dan bagus. Bahkan, kamar tempat eksekusi ada AC dilengkapi kamar mandi yang bersih. Tempatnya bernama Danau Poso, dan ada “akuariumnya”,” tutur Roni.(bersambung/tim)