Manusia dan Alam Semesta Disucikan

MALANG – Ribuan umat Hindu memenuhi Pantai Balekambang, kemarin. Mereka menggelar ritual agung upacara Jalanidhi Puja. Upacara ini merupakan rangkaian ibadah sebelum Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1937 digelar. Upacara yang di Bali dikenal dengan nama Melasti ini digelar tiga hari sebelum Hari Raya Nyepi.  
“Jalanidhi Puja ini merupakan rangkaian  ibadah sebelum perayaan nyepi.  Tujuannya untuk penyucian,’’ kata Ketua Panitia Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1937, Asnawi.
Dia menyebutkan, penyucian tersebut meliputi Jagat Alit dan Jagat Gede. “Jagat alit  adalah manusia, sedangkan Jagat Gede adalah alam semesta. Semuanya disucikan, sehingga saat Nyepi nanti semua umat Hindu yang menjalankan betul-betul suci,’’ tambahnya.
Kemarin, upacara Jalanidhi Puja ini dimulai pukul 09.00. Diawali dengan upacara Mendak Toya Anyar Ngiring Ida Batara Pura Luhur Amerta Jati. Dalam upacara ini salah satu ritualnya adalah mengambil air laut sebagai syarat untuk mensucikan ini.
Menurut keyakinan umat Hindu, saat melaksanakan upacara ini, Dewa Betara turun, untuk mengikuti prosesi, ritual. “Upacara ini sekaligus untuk meminta restu kepada Sang Hyang Widi untuk pelaksanaan upacara selanjutnya,’’ urai Asnawi.
Memang  tidak semua Umat Hindu ikut mengambil air laut tersebut, tapi cukup dengan perwakilan yaitu panitia dan pemangku se Malang Raya. Sedangkan umat lainnya duduk  dengan menghadap pantai sambil menyaksikan dan memanjatkan doa.
Setelah itu, dilanjutkan dengan prosesi Pradaksina. Upacara mengarak Jolen dengan mengitari persajian.  Jolen merupakan tempat membawa hasil bumi dari kayu yang berbentuk joglo.  
Tahun ini ada 48 jolen. Itu dari perwakilan masing-masing Pura yang ada di Malang Raya. Jolen ini dibawa dari luar pantai dan diarak menuju pantai kemudian memutari. Saat memutar harus ke kanan. “Kanan untuk aura positif, sehingga selama prosesi upacara berlangsung, tidak ada halangan,’’ kata Asnawi.  
Prosesi pradaksina berlangsung suasana terlihat sangat khidmat. Para umat Hindu tidak sekadar melihat, tapi mereka mengucapkan mantra atau doa.
Jolen kemudian dilarung. Larung jolen ini menjadi acara puncak upacara Jalanidhi Puja. Kali ini, saat larung Jolen dimulai, umat Hindu dihibur dengan tarian Nata Mudra Karana. Tarian ini merupakan tarian wajib saat upacara Jalanidhi Puja. “Tarian ini bukan tarian biasa. Tarian ini diasumsikan sebagai  pengusir roh jahat, sehingga dalam rangkaian ibadah nanti tidak ada kendala apapun,’’ terangnya.
Umat juga menggelar sembahyang yang dipimpin oleh Singgih Pandita Panaya Nirmala.
Saat sembahyang, juga ada ritual Wasuh Padna. Dimana semua umat mendapatkan percikan air suci. Dan percikan tersebut merupakan anugerah. “Air suci itu adalah gabungan air yang diambil dari sumur pitu dalam upacara Mendak Toya Anyar di Sumur Pitu, Pantai Balekambang Selasa (17/3) lalu, dan air laut yang diambil dalam Upacara Mendak Segara, yang diambil dinihari tadi (kemarin),’’ katanya.
Sementara Sekretaris Daerah Kabupaten Malang H Abdul Malik yang kemarin datang mewakili Bupati Malang . Dia mengatakan upacara Jalanidhi Puja ini ada sejak tahun 1985 lalu. Upacara ini tidak sekadar menjadi ritual suci umat Hindu yang akan merayakan hari raya Nyepi.
Melasti telahmenjadi destinasi wisata bagi warga yang beragama lain. Itu terbukti, banyaknya wisatawan yang hadir saat upacara ini digelar. Bahkan dari tahun ke tahun, jumlahnya terus meningkat.
“Kegiatan ini  tidak sekadar memanjatkan doa, tapi di dalamnya ada seni dan budaya. Inilah yang menjadi kelebihan. Sehingga upacara yang digelar ini tidak sekadat menjadi tontonan, tapi juga tuntunan,’’ katanya.
Dengan banyaknya wisatawan yang datang, Malik begitu pria ini akrab dipanggil pun meminta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang untuk lebih meningkatkan fasilitas yang ada, termasuk memasukkan unsur kesenian, dalam setiap kegiatan yang diadakan, sebagai upaya untuk menarik wisatawan. (ira/ary)