Berburu Gadis Sunda dan Tiongkok di Akuarium Danau Poso

Wisata seks di Danau Tempe Pantai Sanur mungkin sudah umum bagi para wisatawan domestik. Namun, banyak tempat terselubung di sekitaran Sanur yang juga menyediakan jasa esek-esek bagi turis. Bagi wisatawan anyar, nama Danau Poso mungkin tidak begitu familiar. Pada siang hari, Danau Poso hanyalah komplek perumahan biasa. Masuk malam hari, rumah-rumah tersebut berubah jadi ‘akuarium’ terselubung.

Malam hari di jalan protokol Sanur sangat sepi. Dengan waktu menunjuk pukul 01.00 WITA, hampir tidak ada lagi mobil lalu lalang. Gemerlap surga dunia tidak terasa di jalanan sekitar Pantai Sanur. Tour guide dadakan di Bali, Roni (nama samaran), melihat sebuah jalan kecil di kiri jalan besar.
Dia membelokkan motornya ke jalan tersebut. Sembari mengendarai motor, dia bercerita bahwa Sanur juga punya tempat terselubung. Hanya masyarakat lokal, atau wisatawan domestik berpengalaman yang mengetahui posisi ‘akuarium’ di sudut-sudut Danau Poso. Begitulah nama dari kompleks tersembunyi di Sanur yang menyediakan jasa cinta satu malam.
Sekilas, komplek ini hanya seperti kumpulan rumah-rumah biasa. Seperti rumah-rumah di Bali pada umumnya, ada tempat pemujaan di depan rumah. Sesajen pun masih terlihat berserakan di atas punden kecil dari batu. Namun, suasana ternyata makin asyik masyuk ketika menjelajahi ruas aspal Danau Poso.
Menurut tour guide wisata seks ini, rumah-rumah akuarium bercampur dengan rumah penduduk biasa. “Kalau orang biasa yang datang ke sini pasti tidak akan menyangka. Letak akuariumnya tersembunyi di belakang rumah. Dari depan terlihat seperti rumah biasa. Dan memang bercampur dengan rumah biasa,” sambung Roni.
Pria berdarah Kupang itu pun menyebut, ada tanda khusus yang harus diperhatikan apabila tidak mau salah masuk ke rumah biasa. Tiap-tiap rumah akuarium, diberi angka di depan gerbang. Angka tersebut selalu menonjol, biasanya dengan ukuran besar untuk memudahkan calon konsumen yang datang.
Roni membeberkan, ada beberapa nomor rumah yang sudah dikenal oleh para pemburu kenikmatan di Danau Poso. “Paling terkenal adalah 29 dan 505. Ada pula nomor lain. Namun, paling banyak ceweknya dan kualitas bagus ya di rumah dua nomor ini,” tandas pria yang menggeluti dunia jurnalistik itu.
Roni mengajak masuk ke Danau Poso nomor 29. Pasalnya, dia menganggap tempat ini sebagai salah satu yang paling bagus di Sanur. Gerbang masuk menuju akuarium memang tidak jauh. Namun, tempatnya memang sangat terselubung. Jalan masuknya berkelok. Sehingga, akuarium tidak akan terlihat oleh orang yang lalu lalang di jalanan.
Halaman belakang rumah 29 ini gelap. Ada bale yang terletak di samping kiri. Di situ, banyak pria duduk-duduk, menyesap rokok dan menenggak bir. Lalu, di samping kanan ada ruangan yang sangat terang dengan kaca besar. Rupanya, inilah akuarium itu. Di depan kaca, beberapa pria tampak berdiri, senyum-senyum mesum.
Di dalam akuarium, para kupu-kupu malam duduk cantik. Mereka mengenakan pakaian sensual dan menggoda. Make up pun lengkap. Sebagian tampak sibuk dengan handphone. Ada pula yang ramai mengobrol. Sebagian lagi, melihat langsung ke arah para calon konsumen dengan tatapan sayu-sayu binal.
Dari perbincangan dengan mucikari di depan akuarium, harga untuk mendapatkan jasa para penjaja kenikmatan ini tidak murah. Wisatawan baru yang tidak pernah datang ke sini, biasanya langsung dipatok harga Rp 400 ribu untuk short time. Namun, tour guide ini bukan orang baru di bisnis seks Sanur.
Karena sudah saling kenal, Roni bisa melobi harga hingga jadi Rp 200 ribu saja. Namun, ada syarat dari sang mucikari. “Saya harus booking minimal tiga atau empat jam. Itu berarti mengeluarkan biaya Rp 600 ribu sampai Rp 800 ribu. Tapi, servis mereka dijamin memuaskan,” urai Roni.
Danau Poso 29 itu bukan hanya terdiri dari akuarium saja. Pada bagian lain, ada kamar-kamar yang bisa digunakan untuk eksekusi. Menurut Roni, kamarnya cukup luas, dengan kamar mandi dalam. Springbed pun disediakan agar konsumen makin nyaman. Menariknya, ada kecenderungan dari pengelola rumah terselubung ini untuk menyuplai akuarium dengan wanita dari suku tertentu.
Rumah 29, cenderung campur. Wanita darah Sunda, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jakarta hingga luar pulau berkumpul di akuarium ini. Sedangkan, ada rumah nomor lain yang jadi spesialis Jakarta. Ada pula rumah spesialis Sunda, atau khusus Banyuwangi. Beberapa rumah lain pun jadi spesialis Jawa Tengah. Bahkan, rumah spesialis Tiongkok pun tersedia.
“Biasanya, rumah spesialis Sunda itu paling diburu dan bergengsi. Secara kulit, mereka bersih dan putih. Wajah pun cantik. Sedangkan, spesialis Jakarta kurang begitu bagus. Karena, ceweknya tidak bisa servis. Sering minta tip tambahan, dan paksa tamu cepat-cepat selesai,” sambungnya.(habis/tim)