Menang di Picasso Art Contest India dan Raih Gold Palletes di Eropa

Amira menunjukkan karya lukis yang mengantarnya meraih gelar Golden Artist.

Amira Farras Athayazzaka Pemenang Kompetisi Melukis Internasional
“Satu kegagalan mengarah pada kesuksesan”.  Kutipan Charles F. Kettering, tokoh penyempurna electric starter mobil itu, memang tak pernah diketahui oleh Amira Farras Athayazzaka. Meskipun gadis cilik ini, pernah merasakan kegagalan dalam kompetisi melukis tingkat kota. Hebatnya, Amira berusaha dan terus berusaha, hingga kemudian menjadi pemenang kompetisi melukis berskala internasional! 
 
Gigi gingsul Amira menyembul saat tersenyum. Berjalan agak cepat, ia mendatangi ibundanya yang tengah duduk membawa sebuah lukisan berpigura. Gaya berjalan dan perangainya menunjukkan usia belia gadis ini. Namun siapa sangka, gadis cilik yang lahir di kota Surabaya itu memiliki bakat seni yang luar biasa.
Amira, sapaan akrabnya itu rupanya telah mencetak prestasi gemilang baru-baru ini. Namanya tercatat sebagai salah satu pemenang di ajang kompetisi melukis internasional, Picasso Art Contest yang bertempat di India. Gelar “Golden Artist” berhasil disandangnya, bersama dua finalis lain dari Rusia dan Ukraina.
Lukisan yang saat itu ia buat dalam kompetisi internasional tersebut sekilas tampak sederhana. Sang ibunda, Ninuk Sri Wahyuni memang sengaja memperlihatkannya kepada Malang Post. Kebetulan saat itu sedang ada Luqman, SPd., MPd., Kepala Sekolah tempat Amira belajar yaitu SD Islam Sabilillah.
Karya sebesar A3 itu tampak colourfull dengan nuansa pemandangan khas gaya anak-anak. Namun, jika didekati, akan terlihat goresan-goresan kasar cat acrylic yang menghidupkan bentuk batang pohon. Lebatnya dedaunan bahkan rerumputan yang memenuhi bagian bawah lukisan. Dan benar saja, juri dalam kompetisi itu menyebutkan adanya apresiasi khusus untuk kombinasi warna yang indah untuk karya Amira sehingga ia patut mendapatkan penghargaan “Golden Artist” itu.
Lukisan itu, dibuat oleh Amira dalam waktu tak lebih dari satu jam. Saat itu, Amira bersama keluarga sedang menikmati pemandangan di Taman Bentoel Trunojoyo Malang. Sang Bunda kemudian membiarkan gadis kelas 6 SD itu duduk menghadap sebuah pohon besar dan mulai menuangkan cat acrylic berwarna-warni di atas kertas.
“Kalau melukis itu saya harus berada di depan obyeknya. Biar bisa tahu bentuk aslinya dan serat-serat batangnya pohon. Soalnya kata guru saya, melukis itu tidak hanya memperhatikan gradasi warnanya saja,” urai Amira dengan gaya khas anak seusianya.
Setelah jadi, lukisan itu kemudian diperlihatkan ke guru lukisnya. Ninuk pun sedikit kaget karena sang guru tak memberikan kritik. Bahkan menyebutkan karya Amira saat itu sudah bisa dikirim ke panitia lomba.
Padahal, biasanya untuk membuat satu karya yang akan dikirim ke ajang internasional, Amira harus melewati beberapa tahapan. Karena harus disesuaikan dengan standar penilaian internasional. Gayung bersambut, karya kilat itupun mampu menghasilkan juara.
Bakat yang dimiliki Amira itu rupanya mendapat dukungan penuh dari sang Ibunda. Melihat putrinya bolak-balik ditunjuk sekolah untuk mengikuti lomba melukis di tingkat kota, Ninuk berinisiatif mencari informasi kompetisi melukis internasional melalui internet.
“Akhirnya dapat info tentang Picasso Art Contest ini dan Amira juga semangat waktu saya tawari. Saya jelaskan tentang tema yang dilombakan dan ia memilih untuk menggambar pemandangan. Setelah gambarnya jadi lalu saya mengirim lukisannya ke panitia,” imbuh Ninuk.
Merasa tak puas dengan kemenangan itu, Ninuk menjadi semakin gemar mencari informasi kompetisi lainnya. Beberapa karya Amira pun telah dikirim ke kompetisi di Tiongkok dengan tema “Komik”, kompetisi Look and Learn Art di London Inggris dengan tema “Ancient Egypt”, dan  “Back to School”.
Tak hanya itu, lima kompetisi juga sudah memenuhi waiting list di agenda Amira saat ini. Adalah kompetisi internasional yang diselenggarakan di Slovenia dengan tema “Ethnologycal Dress dan Folklore Dance of my People”, Atlanta Amerika Serikat dengan tema “My Dream of Peace”, Tiongkok dengan tema “Peace”, London Inggris “Factory of The Future”, dan Amerika Serikat  dengan tema “Reef Relationship”.
Eksistensi Amira di kompetisi Internasional baru dimulai akhir-akhir ini. Awalnya, Ninuk melihat Amira kian serius menggeluti dunia seni melukis. Banyaknya kemenangan yang diraih oleh Amira di kompetisi tingkat kota semakin mengukuhkan bakat Amira. Ia kemudian mengasah kemampuannya dalam sebuah sanggar.
Namun, prestasi yang diraihnya itu bukan tanpa rintangan. Amira mengaku ia bahkan pernah kalah dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan kota Malang dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN).
“Waktu itu, saya merasa kalau lukisannya bagus. Namun entah mengapa memang tidak bisa dapat juara. Amira saat itu sangat kecewa. Tapi saya berikan motivasi agar tidak down,” terang Ninuk.
Namun, tak disangka, karyanya berjudul “Puppeter Practicing” yang menceritakan pemain wayang itu justru mampu memukau para juri di ajang kompetisi lukis internasional bertajuk “The Small Montmartre of Bitola Children’s Art Competition and Exhibition 2015” yang diselenggarakan di Macedonia, Eropa. Juri memberikan penghargaan sebagai “Gold Palletes” untuk karya Amira tersebut.
Siswa yang bersuara emas itupun bahkan telah diundang oleh panitia untuk datang ke Macedonia pada bulan April mendatang. Sayangnya, pada tanggal itu, Amira harus melaksanakan Ujian Akhir Sekolah sehingga tak bisa memenuhi undangan.
“Nanti yang akan datang kakaknya Amira. Kebetulan kakaknya juga ikut lomba itu dan menang juga,” pungkas Ninuk.(Nunung Nasikhah/ary)