Layanai Perusahaan Nasional, Siapkan Miniatur Robot

Hobi  kerap menjadi jembatan seseorang untuk meraih kesuksesan, seperti yang dialami Willy Hervindo. Berawal dari hobi membuat miniatur bangunan, pria 34 tahun ini sukses membuka usaha pembuatan maket properti. Karyanya banyak dilirik oleh instansi pemerintahan, perusahaan nasional, hingga luar negeri.
Tidak sulit menemukan rumah yang sekaligus dipergunakan tempat usaha oleh Willy Herlindo yang terletak di Jalan Melati Kelurahan Cempokomulyo Kecamatan Kepanjen. Setelah masuk gang, cukup menempuk jarak kurang lebih 300 meter. Terdapat rumah bergaya kuno dan berbeda dari rumah lain di sekitarnya.
Willy Hervindo, saat menerima Malang Post di rumahnya, langsung menghentikan aktivitasnya mengutak atik maket. Setelah mempersilakan wartawan koran ini ke dalam ruangan yang sekaligus dipakainya untuk bekerja, ia pun langsung menceritakan kisahnya dengan penuh semangat.
Semula, tidak pernah terlintas di benak Willy untuk menekuni usaha pembuatan maket bangunan properti. “Awal saya menekuni hobi ini, pada tahun 1999 lalu. Saat itu, memang saya suka membuat miniatur bangunan,” ujarnya kepada Malang Post.
Di awal kiprahnya, Willy memang langsung memilih miniatur bangunan. Karya kreatifnya itu, kemudian diunggah dan dijual melalui berbagai situs media sosial (medos). Respon dari pengguna situs jejaring sosial cukup bagus. Hingga dia memberanikan diri membuat jasa pembuatan miniatur bangunan yang diberi nama D’Uwit. Karyanya berupa maket bangunan semakin banyak diminati. Mulai instansi pemerintahan, perusahaan nasional hingga warga asing, meminati produknya.
Salah satu perusahaan nasional yang memesan maketnya adalah Ciputra Group untuk bangunan apartemen. “Melalui perusahaan itu pula, karya saya dikirim ke luar negeri. Saat itu, Ciputra Group mengembangkan usahanya di Australia membuat apartemen dan membutuhkan maket buatan saya,” tuturnya.
Selain Australia., maket buatannya pernah dipesan oleh wisatawan Jepang untuk dijadikan koleksi. Tidak cukup itu saja, beberapa kampus dan sekolah tinggi, berbondong-bondong memesan maket bangunan buatannya. Untuk harga, Willy menyesuaikan dengan tingkat kesulitan saat proses pembuatan maket.
“Pernah suatu ketika, saya disuruh membuat pesanan maket bangunan sekolah selama kurun waktu 18 jam. Saat itu saya turuti, tetnunya dengan harga yang wah pula. Saat itu, saya patok Rp 150 juta untuk satu maket,” terangnya. Biasanya, dibutuhkan waktu selama 24 jam untuk pembuatan satu maket berskala 1 x 200 cm.
Menurutnya, maket bangunan yang dibuatnya, menyerupai bentuk asli dari bangunan tersebut. Dia juga pernah membuat maket Pasar Sumedang di Kepanjen. “Yang sulit itu membuat maket Masjidil Haram. Karena harus teliti saat mengukurnya. Kemudian disesuaikan dengan maket yang dibuat,” paparnya.
Sedangkan untuk bahan baku utama pembuatan maket bangunan, dia mengambilnya dari Surabaya. Yakni berupa kertas king shit dan kertas polyester shit. Sedangkan bahan pendukungnya berupa lem, kertas mika dan cat pilok. Seluruh proses pembuatan itu dilakukan Willy Hervindo di rumahnya.
“Saya juga melayani pembuatan tender maket. Itu berarti maket dibuat sebelum bangunan yang asli jadi,” tuturnya. Setelah sukses membuat maket bangunan dia mengembangkan pembuatan miniatur beberapa mainan. Di antaranya seperti rumah, mobil, sepeda motor pesawat, kereta api, menara dan produk mainan lainnya.
Pengembang perumahan, juga banyak yang memesan maket bangunan buatannya. Saat ini Willy masih punya mimpi untuk dapat membuat miniatur mainan robot. Saat ini, proses pembuatan tersebut sudah dimulai dan diharapkan bisa seleai akhir tahun ini. (big/han)