Titik Widayati Pelopor Pertanian Organik di Kota Malang

Vigur Organik adalah kelompok tani binaan Titik Widayati, warga Kelurahan Cemorokandang  Kota Malang. Lewat ketelatenan Titik, kota ini memiliki sentra pertanian organik. Hal ini juga makin menunjang semakin tingginya kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan hidup sehat dengan 'back to nature'.

Tak hanya tanaman, kelompok ini juga sudah mampu memproduksi berbagai produk olahan,  seperti kecap, pasta hingga saos tomat. Kesadaran berorganik ria inilah, kemudian membuat kelompok yang bermarkas di Jalan Bandara Juanda II ini berhasil terpilih sebagai wakil Jawa Timur dalam lomba tanaman dan produk olahan organik se Indonesia beberapa waktu lalu.
Yang membanggakan, tanaman serta produk olahan organik yang dihasilkan berhasil mendapatkan lisensi nasional berupa sertifikat organik yang dikeluarkan Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman (LeSOS) tahun 2014 lalu.
Kesan lembut, langsung muncul ketika bertemu dengan Titik Widayati. Wanita mengenakan jilbab juga terkesan sabar dan telaten. Mungkin karena pembawaan itu pula, Titik berhasil mewujudkan produk sayur organik.
Kebiasaannya berkebun nampak dari halaman rumahnya. Tak terhitung tanaman di halaman rumah miliknya. Nyaris tak ada ruang kosong, jika ada itu hanya cukup untuk berjalan kaki saja. Suasana sejuk pun langsung terasa saat berada di pekarangan rumah ini.
Berbeda saat di lapangan yang gersang, di halaman ini pepohonan rindang berhasil menyamarkan terik matahari. Ditambah dengan kolam ikan, di bagian depat rumah ini  membuat siapapun yang berkunjung kerasan.
“Semua tanaman disini adalah tanaman organik,’’ tegas Titik ketika berjumpa dengan Malang Post.
Bahkan termasuk buah alpukat, jambu biji daging dan sirsak. Semuanya menggunakan metode organik.  Istri dari Sugiantoro ini mengajak Malang Post menuju sekretariat Vigur Organik yang berada di depan rumahnya. Didampingi suaminya, Titik pun menceritakan panjang lebar tentang pengalaman back to nature yang digelutinya saat ini.
Aksi bercocok tanam organik ini dimulai tahun 2007 lalu. Saat itu Titik merasa resah dengan banyaknya orang sakit di sekitarnya. Dia resah, karena penyakit yang diderita orang-orang disekitarnya adalah penyakit baru, yang secara umum tidak ditemukan obatnya. Dari keresahan inilah, nenek enam cucu ini mulai berpikir untuk mengkonsumsi makanan organik.
“Sakit itu biangnya adalah makanan. Kesadaran itulah kemudian, saya bertekat untuk mengkonsumsi makanan organik saja,’’ urainya.
Awalnya memang Titik hanya sebagai orang yang mengkonsumsi saja makanan organik. Tapi semakin lama, dia pun mulai tertarik untuk terjun dengan menanam sendiri sayuran organik.
“Pertama saya menyediakan 26 polibag sebagai wahana tanam untuk kangkung dan sawi, dengan metode tanam urban farming,’’ katanya.
Tidak seperti tanaman konvensional (tanaman pertumbuhannya didukung dengan proses kimia), tanaman organik harus dimonitor setiap hari.  Setiap perkembangan tanamanya dikontrol untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
“Saat mencoba, 30 persen dari 26 tanaman rusak, dan tidak bisa dipanen,” akunya.
Titik tetap mengolah hasil panen tanaman organik. Di sana dia mendapatkan kepuasan. Sayur hasil tanaman organiknya, betul-betul mampu menggoyang lidah setelah diolah. Rasanya betul-betul berbeda. “Saat mengkonsumsi saya merasakan tubuh lebih sehat, lebih dan lebih fresh,’’ katanya.
Titik tidak mau ilmu menanam organik dimiliki sendiri. Setiap kali melakukan pertemuan dengan ibu-ibu PKK, dia terus mensosialisasikan dan mengajak warga di sekitar rumahnya untuk budidaya tanaman organik.
Ajakan itu memang tidak langsung bisa diterima. Sebab warga berpendapat bahwa sayur organik mahal. Lantaran kegigihan Titik, banyak warga kemudian meniru gaya hidupnya. “Setelah banyak warga yang ikut menanam tanaman organik, kemudian kami membentuk kelompok Vigur Organik tahun 2010. Vigur Organik ini singkatan, yaitu Villa Gunung Buring Organik. Semua anggota disini tidak hanya mengkonsumsi, tapi juga menanam tanaman organik,’’ urainya.
Kelompok tani yang dibina oleh Titik ini terus berkembang. Bahkan, dengan berbagai inovasi yang dilakukan, kelompok ini mampu melakukan percepatan waktu panen. “Tidak hanya tanaman konvensional saja yang waktu panennya bisa dibuat lebih cepat. Tanaman organik juga bisa,’’ katanya.
Dia memberi contoh tanaman kangkung, yang biasanya 30 hari menjadi 18 hari saja. Tanaman organik yang awalnya hanya dikonsumsi sendiri ini, memiliki nilai ekonomi. Anggota kelompok yang menanam tanaman ini pun mulai menjual ke luar. Bahkan, hasil panen tanaman organik dari kelompok ini sudah masuk di beberapa supermarket di Malang Raya.
“Harganya memang lebih mahal, tapi khasiatnya juga bisa diandalkan. Sayuran organik saat dimasak rasanya lebih manis, dan masakan tidak cepat basi. Saat disimpan juga tidak mudah layu,’’ katanya.
Dia mengaku sudah mampu mengembangkan 53 jenis tanaman organik. Bahkan, pihaknya juga mampu membuat olahan dari tanaman organik seperti kecap, saos sambal, saos tomat, serta pasta.
Kesuksesan kelompok ini mengembangkan pertanian organik didengar pemerintah Kota Malang. Yang kemudian mengikut sertakan kelompok ini dalam berbagai lomba. Hasilnya pun luar biasa. “Pertama tahun 2010 lalu, kami mendapat pengakuan yang diberikan berupa sertifikat organik oleh Pamor (LSM Bidang Organik). Kemudian tahun 2011 ditunjuk Dinas Pertanian Kota Malang untuk ikut lomba tanaman organik tingkat Jatim. Terakhir tahun lalu, kami mendapat lisensi nasional tanaman organik ini,’’ kata ibu ini sembari tersenyum bangga.
Ibu tiga anak ini mengatakan, semua tanaman yang dihasilkan oleh Vigur Organik tidak ada yang melalui proses kimia. Pupuk yang digunakan menanam adalah pupuk organik yang dibuat sendiri oleh warga dari kotoran kambing.
“Kami tidak sekadar hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan organik, tapi kami juga mengajak seluruh masyarakat tidak hanya Malang Raya tapi seluruh Indonesia, untuk hidup sehat dan mengkonsumsi makanan organik. Ajakan ini terus kami gaungkan melalui berbagai pertemuan,’’ tandasnya.(ira ravika/ary)