Jalani Hidup dengan Filosofi Pohon, Tak Henti Menebar Inspirasi

Arif Setyo Budi, B-Boy (sebutan untuk penari breakdance) yang satu ini memang luar biasa. Di balik kekurangan fisiknya, Arif memiliki talenta yang tak terduga. Selain piawai gerakan ekstrim breakdance, Arif rupanya juga jago akting. Terbukti, Arif bisa terpilih menjadi aktor terbaik dalam festival film pendek SMK Muhammadiyah 5 (SMEAMU) Kepanjen, beberapa waktu lalu.

Saat ditemui Malang Post, Arif tengah mengatur nafas setelah mengayuh sepeda fixie birunya. Dia mengayuh sepeda kesayangannya itu, dari rumahnya di Jl S Supriyadi, Sukun, menuju sebuah franchise di kawasan Jl Soekarno-Hatta, Kota Malang. Jarak jauh, bukan menjadi halangan untuk Arif menjalani hobi bersepedanya itu meski hanya berkaki satu.
Turun dari sepeda, Arif lekas mengambil tongkat penyanggah yang ia gantung di sepeda fixie itu. Ya, tongkat tersebut sudah sejak 6,5 tahun lalu ia gunakan. Pasca kecelakaan di sebuah perusahaan plastik di Sidoarjo September 2007 silam, Arif hidup dengan satu kaki.
Namun, hidup dengan kekurangan tersebut tak membuat Arif terjerat dalam kekecewaan mendalam. Malah, sejak menjadi pria berkaki satu ini, Arif memiliki motivasi baru untuk terus berkarya. Salah satunya, dengan menjadi seorang B-Boy. Sampai-sampai, kini dia mendapat julukan Arif Oneleg karena kondisi fisiknya tersebut.
Karir menari pria kelahiran 15 Mei 1987 ini, sudah tidak perlu diragukan lagi. Arif sudah sering menoreh prestasi di dunia breakdance. Mulai dari juara II LA Break 2011 tingkat Jatim, juara I LA Break 2012 tingkat Jatim. Sampai masuk 48 besar dalam ajang pencarian bakat di salah satu stasiun televisi swasta Indonesia Mencari Bakat (IMB) 3.
Berkat bakat menarinya itu, Arif juga pernah menjadi satu dari dua orang terpilih yang diundang Dubes Amerika untuk Indonesia untuk hadir sebagai peserta Workshop Dance Kontemporer yang diselenggarakan oleh Dance Ability, lembaga seni tari kontemporer Amerika yang namanya sudah mendunia, pada Mei 2013 lalu.
Tidak hanya itu, pria yang kesehariannya menjadi pengusaha warnet ini, juga punya bakat di bidang videografi dan fotografi. Arif juga terus aktif di berbagai komunitas, seperti Akar Tuli, Malang Breakin, serta komunitas sepeda pancal.
Akan tetapi, Arif tidak membayangkan kalau dia bisa masuk ke dunia perfilman. Apalagi, dia berperan sebagai aktor utama di film tersebut. Profilnya yang sempat dimuat di Harian Malang Post, membuat dia dipanggil untuk menjadi pemeran utama dalam film Menembus Batas, film yang dibuat dalam rangka mengikuti SMEAMU Indie Movie Award (SINEMA) 2015.
Terlebih, dalam ajang ini, Arif mendapat penghargaan sebagai Aktor terbaik, mengalahkan nominasi lainnya. "Saat dipanggil saya tidak menyangka. Waktu pembacaan pemenang kategori pemeran terbaik dipanggil Menembus Batas. Waktu itu saya bingung dan malah tidak ikut maju. Waktu dipanggil crew, 'mas sampean ikut maju. Ini kan penghargaan buat sampean,' baru saya ngeh," jelas Arif.
Arif mengaku bingung saat harus memberi kata sambutan. Sama sekali tidak ada persiapan saat itu. "Saya tanya ke crew, mau ngomong apa," katanya seraya tertawa kecil. "Kata teman-teman disuruh ucapan terima kasih begitu, ya saya katakan saja," lanjut Arif.
Pria ramah ini mengaku, sampai sekarang dia tidak menyangka akan menjadi pemegang gelar akting terbaik. Sebab, sebelumnya Arif tidak pernah sama sekali merambah dunia akting. Saat pertama kali dihubungi oleh crew film Menembus Batas, Arif bahkan bingung dan sedikit takut, apakah dia bisa berakting layaknya bintang film profesional.
Kebetulan, sutradara membuat cerita di film ini, mengadopsi kisah nyata dari Arif. "Crew film ini menghubungi saya melalui facebook dan twitter setelah membaca profil saya di Malang Post. Saya diajak untuk menjadi pemeran utama. Karena saya ingin berbagi cerita ke orang lain, saya terima saja," kata Arif.
Rupanya dunia perfilman ini cukup sulit bagi Arif, terutama dalam menghafal skript dan mengatur ekspresi. Kesulitan tersebut, dia rasakan saat syuting. Berkali-kali Arif harus mengulang adegan per adegan karena ekspresinya saat itu kurang maksimal.
Untungnya, kisah dalam film Menembus Batas tidak jauh berbeda dengan kehidupan Arif. Dalam film tersebut, dikisahkan kalau Arif merupakan korban kecelakaan lalu lintas. Peristiwa kecelakaan tersebut, membuat Arif ayahnya meninggal dunia. Sedangkan Arif, harus kehilangan satu kakinya.
Arif hidup bersama ibunya yang menjadi penjual brownies keliling. Setiap hari, dia datang ke kios-kios untuk menitipkan brownies buatan tangan ibunya tersebut. Untuk mendatangi satu per satu kios ini, Arif juga mengayuh sepeda fixie kesayangannya itu.
Hingga pada suatu hari, Arif melihat ada kompetisi dance. Keinginan untuk mengikuti kompetisi tersebut dimulai. Demi mengikuti kompetisi tersebut, Arif mulai berlatih tari. Ibunya sempat melarang, karena khawatir terjadi sesuatu pada anak satu-satunya itu. Namun, Arif keputusan Arif bulat untuk ikut kompetisi ini.
Disinilah drama kehidupan Arif dimulai. Selama ikut latihan, ada saja ujian yang menimpanya. Seorang peserta, berusaha menjatuhkan semangat Arif dengan membuat mental Arif jatuh. Dia menyinggung kekurangan fisik Arif. Kalimat tidak mengenakkan, selalu dilontarkan kepadanya. Seperti "kalau mimpi jangan tinggi-tinggi", "kamu tidak bisa menang dengan kondisimu seperti itu".
"Itu yang memerankan teman main saya, biasanya kami bercanda. Saat berperan seperti itu, seringkali kami tidak kuat menahan tawa dan akhirnya adegan diulang," tutur lulusan SMK Nasional Malang ini.
Kisah berlanjut. Ditengah tekanan dari si pemeran antagonis ini, ada satu wanita yang menyupport Arif untuk tetap semangat mengikuti kompetisi itu. Inilah membuat motivasi Arif kembali muncul. Arif terus berlatih keras. Hingga pada hari-H Arif benar-benar ikut dalam kompetisi tersebut.
Tidak berjalan mulus, saat menunjukkan performa terbaiknya di hari-H, Arif malah terjatuh. Alhasil, Arif gagal menjadi juara dalam kompetisi tersebut. Meski begitu, dia mendapatkan sebuah penghargaan dari panitia karena usahanya.
Secara garis besar, kisah di film dengan yang asli memang mirip. Hanya saja ada beberapa yang berbeda, seperti kecelakaan lalu lintas dan kesehariannya menjadi seorang penjual brownies. Namun bagi Arif, dia mampu menjiwai perannya karena apa yang diceritakan, tidak jauh berbeda dengan semangat yang dia miliki.. "Jadi saya cukup bisa menjiwainya," jelas Arif.
Pesan yang disampaikan dalam kisah Arif ini, sama dengan misi Arif selama ini. Dia ingin membuktikan, bahwa keterbatasan fisik bukan halangan seseorang untuk terus berkarya. Dia bersyukur, dengan film ini dia berharap orang lain dengan keterbatasan fisik seperti dirinya, bisa bangkit dan menjadi apa yang mereka harapkan.
“Karya-karya siswa SMEAMU, memang bagus-bagus. Semoga bisa mendapat yang terbaik," katanya.
Seperti apa yang selama ini dilakukan Arif. Ia aktif di berbagai komunitas. Di setiap kesempatan acara, Arif selalu mengemban misi untuk mengajarkan kepada orang lain bahwa keterbatasan, hanyalah ujian semata. Terlebih untuk para penyandang disabilitas, bersama komunitas akar tuli, Arif sampai sekarang masih aktif untuk menebar inspirasi.
Film Menembus Batas, rencananya akan kembali diikutkan dalam beberapa film pendek festival di luar negeri. "Salah satunya kalau tidak salah di London. Saya hanya berharap film ini bisa menjadi inspirasi banyak orang. Satu bulan lalu, Arif juga dipanggil salah satu stasiun televisi swasta nasional untuk mengikuti program reality show Panggung Impian. Di situ, dia menemukan filosofi baru tentang hidupnya. Dia sebut filosofi tersebut, sebagai filosofi pohon. Pohon, jelasnya, meskipun berdiri dengan satu kaki, dia mampu hidup dan menopang ranting dan daun-daun di atasnya.
Sama seperti kisahnya, meski berdiri di atas satu kaki, Arif percaya kalau dia mampu hidup layaknya orang normal. "Keterbatasan ini tidak akan menghentikan saya untuk menari dan berkarya," pungkasnya. Arif Setyo Budi, akan terus menjadi inspirasi bagi orang banyak. (muhamad erza wansyah)